Gema di Balik Jarak
Oleh: Vera Sylvia Ofs
–
Lentera di sudut kamar itu masih menyala, berpijar kuning keemasan, persis seperti warna kado yang baru saja kuterima kemarin. Namun, kehangatan kertas kado itu kini terasa dingin. Secepat kilas balik masa lalu yang menghantam, secepat itu pula kebahagiaan itu memudar begitu jarak membentang di antara kami.
Aku terduduk diam, menatap keluar jendela di mana langit malam tampak begitu luas dan tak terjangkau. Di dalam hati, aku berbisik kepada satu sosok yang selalu kusebut dalam setiap hembusan doaku. Seseorang yang telah mendengar seluruh bab kelam tentang traumaku, tentang luka-luka lama yang belum sepenuhnya mengering.
”Apakah perhatian itu hanya ada karena aku berada di depan matamu?” tanyaku pada sunyi.
Janji-janji yang diucapkan tempo hari terasa seperti melodi indah saat kita duduk berdampingan. Namun, begitu raga ini menjauh, melodi itu perlahan senyap. Hilang ditelan bisingnya kesibukan dan bentangan kilometer. Aku mulai meraba-raba kekurangan dalam diriku. Apakah karena keterbatasanku? Apakah karena aku tak cukup sempurna untuk tetap diingat saat tak lagi terlihat?
Aku bersimpuh, menatap patung Bunda Maria yang tenang di pojok ruangan. “Oh, Ibu Maria,” bisikku lirih. “Kemarin kado itu ada di genggamanku, tanda sebuah harapan. Namun sekarang, saat jarak memisahkan, perhatian itu ikut pergi seolah tak pernah ada.”
Mungkin aku yang terlalu tinggi menggantung harap. Aku tahu benar kalimat bijak itu: Cinta tak harus memiliki. Namun, haruskah cinta juga berarti kehilangan perhatian? Apakah aku, dengan segala sisa hari yang kumiliki, tak pantas untuk sekadar mengecap kebahagiaan yang sederhana?
Aku melihat orang-orang di luar sana. Mereka tertawa, berbagi cerita tanpa takut kehilangan kabar saat berjauhan. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Apakah masa laluku begitu keji hingga takdir enggan memberikan akhir yang manis? Ataukah memang aku ditakdirkan untuk selalu berjalan sendiri dalam sunyi?
Kini, aku mencoba menyadarkan diriku. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin meresap ke paru-paru. Meski dunia terasa tidak adil, meski kasih yang tulus tampak seperti fatamorgana, aku masih memiliki diriku sendiri. Dan di hadapan Sang Pemilik Hidup, aku tahu bahwa sejatinya aku layak, meski dunia belum mampu melihatnya.
Malam ini, biarlah kado itu tersimpan rapi. Bukan sebagai tanda kehilangan, tapi sebagai pengingat bahwa aku pernah berani berharap, dan aku masih cukup kuat untuk terus melangkah, meski tanpa janji yang ditepati.