“Ibu dan Perempuan Titipan Tuhan”: Kumpulan Puisi Selektif Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat)
Ilustrasi Puisi Komunitas PPIPM "Ibu dan Perempuan Titipan Tuhan". Sumber gambar: Ilustration service of Starcom Indonesia's Artwork No. 812 assisted by AI.
/1/
Ibu, Cahaya Titipan Tuhan
Puisi oleh Leni Marlina
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
–
<<1>>
Ibu, engkau bagaikan debu bintang yang jatuh ke bumi,
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa,
engkau yang fana tak pernah fana dalam kasihmu.
Di rahimmu, kami hanyalah sebutir zarah,
namun engkau memampukan aku menjadi cerita
yang seolah melintasi waktu.
Ibu,
engkau bukan dewa,
namun jemarimu menyentuh kami seperti cahaya pagi
menyentuh puncak-puncak gunung;
membangunkan dunia kecil kami,
yang tertidur dalam gelap takdir.
<<2>>
Tanganmu seperti sungai,
mengalirkan keberanian ke setiap lembah hati kami,
langkahmu laksana musim semi,
menghidupkan bunga-bunga di padang tandus hidup kami.
Engkau menangis,
dan hujan itu jatuh ke ladang doa,
menumbuhkan harapan yang tak pernah engkau petik
untuk dirimu sendiri.
Engkau biarkan cinta menjadi panen anak-anakmu
sementara engkau tetap menabur benih cinta di ladang yang tak berujung.
<<3>>
Ibu,
engkau, manusia fana,
namun fana yang akan membawa jejak sepanjang zaman;
engkau memenuhi langit dengan doa,
menggores bumi dengan pengorbanan.
Engkau bagaikan jembatan
yang menghubungkan anakmu
dengan kasih Tuhan.
Ketika engkau pergi untuk selamanya,
waktu menjadi sunyi,
namun kami mendengar detak langkahmu
dalam bisik angin,
kami melihat wajahmu
di gemilang bintang malam.
Ibu,
engkau adalah titipan Tuhan Sang Maha Pencipta.
Engkau sederhana,
namun sempurna dalam cinta—
cinta kepada anak-anaknya,
cinta yang tak memilih,
cinta yang hanya memberi,
seperti matahari yang terbit tanpa syarat menerangi dunia.
Padang, Sumbar, 2015
/2/
Lintasan Hati Seorang Ibu
Puisi oleh Ramli Djafar
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Langkah seorang ibu
Tertatih di hamparan waktu
Masa depan
Tujuan hidupnya
Semata-mata adalah keluarganya
Waktu seorang ibu
Tersita dalam pergerakan masa3
Tiada pernah berhenti
Fajar menyingsing
Berpuncak di tengah malam nan sepi
Kehidupan seorang ibu
Ada didingin pagi yang sepi
Ada diterik matahari yang membakar jiwa
Ada dimalam yang hening
Namun
Seperti tenggelam di pagi yang ceria
Atau di saat siang yang menggairahkan
Ataupun
Di saat kemilau bulan purnama
Hidup seorang ibu
Seperti mesin waktu yang terus berputar
Diantara jeda yang terbatas
Hingga
Dan
Hingga pada saatnya
Citra seorang ibu
Mampu menjaga
Membesarkan sepuluh orang anaknya
Namun
Dihari tuanya
Terkadang sepuluh orang anaknya
Tiada mampu menjaga
Merawat
Seorang ibu tua renta
Seorang ibu yang tak berdaya
Ingat
Ingatlah senantiasa
Cinta seorang ibu
Kasih seorang ibu
Adalah permata bagi keluarganya
Bersinar dikerlipnya dunia
Padang, Desember, 2024
/3/
Ibu di Jantung Semesta
Puisi oleh Leni Marlina
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Ibu,
engkau bagaikan denyut jantung semesta,
memutar roda siang dan malam keluarga,
membawa kami melewati badai
dengan tangan yang tak pernah gentar.
Darahmu mengalir menjadi 3 sungai,
airnya menyejukkan cakrawala kecil kami,
menyuburkan tanah di mana kami belajar tumbuh
dalam pelukan doa-doa yang tak pernah habis.
Di jantung semesta,
kami mendengar namamu berdetak,
mengisi kekosongan langit dan bumi,
seperti puisi dunia yang ditulis oleh Sang Pencipta.
Padang, Sumbar, 2015
/4/
“Wahnan ala Wahnin”
Puisi oleh Dewi Farah
(Satu Pena Madura, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Perempuan, dengan sanggul yang terkulai,
menjalin takdir dalam benang-benang lelah,
di setiap hembus nafasnya, gelora kepayahan,
namun tak pernah kehilangan rasa syukur,
pada-Nya,
Dzat yang Ghafur,
Maha Pengampun,
membalut luka dalam bisikan asa,
mengais waktu yang kabur, tak pernah tetap.
“Wahnan ala wahnin”
perempuan,
yang mulia di hadapan Sang Pemberi Rasa,
di setiap celah hati, kesungguhan disematkan,
seperti malam yang tak pernah lepas dari harapan,
setiap detak perjuangan adalah doa yang terucap tanpa suara.
di tengah erangan, yang tak pernah selesai,
di sana, keberanian tak gentar mengakar.
“Juhdan ala juhdin”
bertahan di atas lelah yang tiada henti,
seperti daun yang menari dalam hembusan angin,
berputar, namun tetap berdiri di tanahnya.
kesulitan membalut tubuh,
namun jiwa tumbuh dalam akar cinta yang tak kelihatan,
berkembang,
meski diliputi badai yang menderu,
tak pernah surut,
meski waktu menderu,
semangatnya membakar, membebaskan jiwa dari kegelapan.
“Wahnan ala wahnin”,
perempuan yang menanggung beban dunia pada rahimnya,
namun di dalamnya, tumbuh kehidupan,
yang tak pernah berhenti,
seperti akar yang menembus tanah dalam keheningan,
cinta mengakar, membingkai setiap langkah,
di tengah deru kehidupan yang kian menggema,
keletihan datang seperti gelombang,
namun ia berdiri tegak,
tak tersentuh waktu.
“Wahnan ala Wahnin”,
sebab di setiap kelemahan, ia menemukan kekuatan,
di setiap langkah,
ia melangkah lebih jauh,
takdir Tuhan adalah peraduan terakhirnya,
di sana,
cinta-Nya membalut setiap luka,
menghadirkan kedamaian yang tak bisa diungkapkan kata-kata.
Pada akhirnya,
di jalan yang penuh duri ini,
perempuan menemukan tempatnya di langit yang abadi.
Madura, Jatim, 26 April 2024
/5/
Ibu dan Cinta yang Tak Bertepi
Puisi oleh Leni Marlina
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Ibu,
engkau bagaikan lautan,
yang menyimpan ribuan rahasia dalam gelombang.
Kami, anak-anakmu adalah kapal kecil yang mengarungi pelukanmu,
terombang-ambing,
namun tak pernah tenggelam.
Saat badai datang,
engkau menutup langit dengan cintamu,
menenangkan angin yang ingin mencabik layar,
dan memimpin kami menuju pelabuhan takdir.
Ibu, engkau bagai lautan tak bertepi,
tempat segala kerinduan bermuara,
tempat kami selalu kembali,
ketika dunia terasa terlalu luas untuk dimengerti,
terlampau kejam untuk dirasa,
terlampau sulit untuk dicerna.
Kapanpun kami kembali, engkau selalu menanti kami,
di dermaga lautan cinta sepenuh hati.
Padang, Sumbar, 2015
/6/
Ibu dan Pagi yang Mekar
Puisi oleh
Hasbollah Tousta
(Satu Pena Ambon, Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Di sinilah aroma pagi menebar,
bukan sekadar wangi, tetapi+ napas kasih.
Setiap helai angin, setiap bisik dedaunan,
membawa epos sejati seorang ibu—
sosok yang tak tertulis,
namun menjadi rahasia di semesta.
Fajar melahirkan cahaya dari rahimnya,
bukan sekadar terang,
tetapi kehangatan yang mengusir luka malam.
Pagi mekar seperti senyum seorang ibu,
yang melahirkan3 harap-harap kecil
pada dunia yang tak selalu memeluk lembut.
Matahari, seperti ibu yang tanpa pamrih,
menyentuh bumi dengan jemarinya,
meretas kabut dan bayang-bayang,
menyelimuti dedaunan dengan doa.
Cahayanya adalah cinta yang tak berbatas,
berjalan tanpa pernah meminta kembali.
Embun meluruh pelan-pelan,
melukis tanah dengan air mata bahagia.
Bukit menjadi kanvas,
dan setiap lekuknya adalah bukti cinta yang setia.
Kuncup-kuncup pun bangkit dari lelap,
seperti anak-anak yang menghirup
cinta seorang ibu,
tanpa pernah tahu berapa banyak yang telah diberi.
Bukit ini bukan sekadar bukit,
ia adalah hati seorang ibu:
tinggi tanpa kesombongan,
kokoh tanpa pamer kuasa.
Ia adalah altar kasih,
tempat segala doa dilantunkan
dan segala pelukan menjadi rumah.
Pagi ini bukan sekadar waktu yang lewat,
ia adalah nyanyian ibu,
melalui burung-burung yang pulang,
melalui pohon-pohon yang setia berdiri,
dan melalui udara yang membawa
rahasia cinta tanpa syarat.
Lalu kabut lembut mengangkat tirai pagi,
menampakkan wajah ibu tanpa topeng:
letih, namun tak henti tersenyum.
Angin berhembus, membawa pesan abadi:
seorang ibu adalah pagi yang tak pernah usai—
ia memekarkan bunga di hati yang tandus,
menghidupkan jiwa yang hampir padam,
dan menulis ulang kisah yang hampir putus.
Bukit ini, seperti ibu,
tak butuh penghargaan.
Ia hanya ingin dikenang dalam diam,
seperti cinta yang selalu hadir,
meski kadang tak disadari.
Seperti bunga yang mekar untuk dunia,
tanpa pernah bertanya, “Apakah aku cukup?”
Kebun Cengkeh, Ambon, Desember 2024
/7/
Langit yang Menggendong Malam
Puisi oleh Leni Marlina
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Ibu,
engkau laksana langit,
menggendong malam-malam kami
yang penuh dengan tangis dan mimpi kecil.
Engkau biarkan bintang-bintang bertabur,
menjadi lentera di lorong hidup kami yang gelap.
Pelukanmu menjadi pelangi,
lahir dari hujan air mata dan doa-doa.
Senyummu menjadi matahari,
menerangi hari-hari yang kehilangan arah.
Engkau tak pernah berhenti,
meski waktu mencuri cahayamu.
Langitmu tetap berdiri,
melindungi kami dari kerapuhan dunia.
Padang, Sumbar, 2015
/8/
Perkasanya Jiddaku
Puisi oleh Yusuf Achmad
(Satu Pena Surabaya, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Masih kulihat jelas, sorot matamu—
tajam, tak kenal luka,
kerudung putih membalut kepala,
lambang suci hati yang tak pernah letih.
Langkah-langkahmu, gesit dan penuh daya,
menabrak mata hatiku, membuka tabir cinta sejati.
Jika ummiku adalah ranting-ranting
yang menopang buah dis pohon rumah ini,
dan abiku tunas pohon kehidupan kami,
engkau, jiddaku, adalah akar—
tempat kami bertumpu, tempat kami berdiri.
Demi tumbuhnya pohon ini,
kau sirami kami dengan tetesan keringatmu,
meski tubuhmu kurus, ringkih,
jiwa dan semangatmu adalah baja,
tegak menopang kami dari badai ke badai.
Kadang engkau murka,
pada abi yang kau anggap goyah,
pada ummi yang kau anggap terlalu lembut.
Namun dalam setiap amarah itu,
terselip doa, terselip kasih—
tak pernah putus, tak pernah surut.
Engkau, dengan tangan lembutmu,
mengolah dunia yang keras menjadi hangat.
Makanan di mejamu menjadi syair rasa,
tamu-tamu bagai raja di istana,
sementara kami, meski hanya sisa yang tersaji,
merasakan berkah tak bertepi.
Oh, jiddaku perkasa,
engkau yang membangun pondasi rumah ini,
yang mengajarkan kami arti tegar,
yang membuat cinta terus hidup
di sela-sela retakan pohon keluarga ini.
Setelah ummiku tercinta,
kau, jiddaku, adalah surga kedua
yang kan selalu kupuja.
Surabaya,
19 Desember, 2024
—–
*Jidda: perempuan yang melahirkan ibu, nenek.
/9/
Rumah yang Dibangun dari Doa
Puisi oleh Leni Marlina
(Satu Pena Sumbar, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat – PPIPM)
Ibu,
engkau seperti rumah,
dibangun dari batu-batu doa dan tangisan.
Atapmu laksana langit harapan,
dan dindingmu bagailan pelukan yang kuat dan hangat.
Kami tumbuh di dalam dadamu,
tempat segala luka sembuh,
tempat mimpi-mimpi kecil belajar mengepak sayap,
sebelum terbang ke angkasa.
Rumahmu tidak pernah memilih,
ia menerima kami dengan segala kekurangan.
Dan meski engkau fana,
nama Allah hidup di antara getar napasmu,
mengisi setiap sudut rumah cinta yang kau bangun untuk anak-anakmu.
Padang, Sumbar, 2015
—————
Semua penulis di atas adalah anggota aktif Perkumpulan Penulis Satu Pena dari Padang (Sumbar), Madura dan Surabaya (Jatim), serta Ambon (Maluku). Beliau juga aktif berkegiatan/ berkontribusi di komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM). Beliau mengucapkan Selamat Hari Ibu 22 Desember 2024 kepada seluruh Ibu di nusantara/mancanegara dan kepada pembaca yang setia di manapun berada.