April 1, 2026
WhatsApp Image 2026-03-30 at 08.17.17

oleh ReO Fiksiwan

“Ini adalah waktu bagi kita. Kenangan. Sebuah nostalgia. Rasa sakit karena kehilangan. Tetapi bukan kehilangan yang menyebabkan kesedihan. Melainkan kasih sayang dan cinta. Tanpa kasih sayang, tanpa cinta, kehilangan seperti itu tidak akan menyebabkan kita sakit.” — Carlo Rovelli(70), The Order of Time(2017).

Penetapan awal dan akhir Syawal melalui rukyat dan hisab selalu menjadi momen penting bagi umat Islam, karena dari situlah dimulai dan diakhiri ibadah puasa Ramadhan.

Rukyat, yakni melihat hilal secara langsung, dan hisab, yakni menghitung posisi bulan dengan metode astronomi, sering kali menghasilkan perbedaan keputusan antara organisasi Islam dan pemerintah.

Seperti pada Idul Fitri 1447 H, di mana Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat 20 Maret 2026, sementara pemerintah bersama NU dan organisasi lain menetapkannya pada Sabtu 21 Maret 2026.

Perbedaan ini menimbulkan kebingungan, tetapi tetap berjalan berdampingan sebagai realitas sosial dan keagamaan di Indonesia.

Jika kita bandingkan dengan teori pendulum Galileo yang dikupas Roger G. Newton(1924-2018) dalam Galileo’s Pendulum(2004), terdapat analogi menarik.

Galileo menemukan bahwa ayunan pendulum memiliki sifat isokronisme: waktu yang dibutuhkan untuk satu ayunan tetap sama, meski panjang ayunan berbeda.

Isochronism berarti “keserempakan waktu” atau keadaan di mana suatu peristiwa berlangsung dengan durasi yang sama, berulang secara teratur.

Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani isos(ἴσος, berarti “sama”) dan chronos(χρόνος, berarti “waktu”) dan di Inggris masuk sekitar abad ke‑17(sekitar 1680) sebagai isochronism, dengan makna “keserempakan waktu” atau “berlangsung dalam interval yang sama.”

Isochronism(Isokronisme) merujuk pada sifat suatu sistem osilasi (misalnya pendulum) yang memiliki periode ayunan sama, tidak bergantung pada amplitudo.

Galileo menemukan fenomena ini ketika mengamati lampu gantung di katedral Pisa, yang kemudian menjadi dasar pengembangan jam pendulum.

Prinsip ini melahirkan jam pendulum dan pengukuran waktu yang akurat.

Dalam konteks rukyat dan hisab, umat Islam berusaha mencari “ritme waktu” yang pasti untuk menentukan awal bulan.

Akan tetapi seperti pendulum, ritme itu bisa tampak berbeda tergantung sudut pandang dan metode pengamatan.

Newton menekankan bahwa osilasi adalah kunci keteraturan alam. Begitu pula dalam penetapan kalender Islam, hilal menjadi simbol keteraturan waktu ibadah.

Namun, ketika metode rukyat dan hisab menghasilkan perbedaan, kita melihat bahwa keteraturan itu tidak selalu mutlak, melainkan bergantung pada sistem yang digunakan.

Sama seperti pendulum yang menjadi model bagi berbagai osilasi di alam, rukyat dan hisab adalah dua model berbeda untuk membaca ritme bulan.

Dengan perspektif sains, perbedaan Idul Fitri bisa dipandang sebagai variasi ritme dalam satu sistem besar, bukan kontradiksi mutlak.

Isokronisme pendulum mengajarkan bahwa meski ayunan berbeda, ritme dasarnya tetap sama.

Begitu pula, meski umat Islam berbeda hari dalam merayakan Idul Fitri, ritme spiritualnya tetap satu: syukur atas berakhirnya Ramadhan dan awal bulan Syawal.

Refleksi ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama sama‑sama mencari keteraturan dalam waktu.

Galileo dengan pendulumnya dan umat Islam dengan rukyat hilalnya, keduanya berusaha memahami ritme alam semesta.

Perbedaan hari raya hanyalah variasi ayunan, sementara makna Idul Fitri tetap satu: kembali kepada fitrah, saling memaafkan, dan merayakan kemenangan spiritual.

#coversong:
Al Jarreau(1940-2017) merilis album This Time pada tahun 1980, yang memuat lagu “(A Rhyme) This Time.”

Lagu ini menandai pergeseran gaya Jarreau ke arah R&B yang lebih mainstream, dan menjadi salah satu karya penting dalam kariernya.

#credit foto diunggah dari kanal Youtube @Blueprintoftime Subscribe Created from @Blueprintoftime A Brief History of Time by Stephen Hawking.