April 2, 2026
0be3c960-86ea-40b4-b87b-f076c4bbb69c_11zon

Oleh: Vera sylvia Ofs

Lampu kafe sore itu berpijar hangat, sewarna dengan tatapannya yang seolah menjanjikan dunia. Saat dia duduk di hadapanku, kata-katanya terasa seperti selimut di tengah musim dingin—lembut, melindungi, dan penuh perhatian. Dia merajut janji-janji kecil yang membuat hatiku damai, seolah-olah aku akhirnya menemukan dermaga setelah sekian lama terombang-ambing di lautan sepi.
Namun, kini aku disadarkan oleh sebuah kebenaran pahit: perhatian itu hanyalah sebuah fenomena jarak.

Ketika dia berada di sisiku, dia adalah definisi dari “peduli”. Tapi begitu jarak membentang, janji-janji itu menguap bersama udara. Semua pembicaraan manis yang sempat menenangkan jiwaku perlahan hilang, tertimbun oleh kesibukan dan keheningan yang panjang. Aku baru mengerti, kebaikannya mungkin bukan karena aku istimewa, tapi hanya karena aku ada di depan matanya saat itu. Kehadiranku hanyalah pengisi ruang, bukan pengisi hati.

Aku mulai menatap pantulan diriku di cermin, mencoba mencari jawaban di antara garis-garis kekurangan dan keterbatasan yang kupunya. Mungkin aku yang terlalu percaya diri. Mungkin aku yang terlalu cepat menyimpulkan keramahan sebagai sebuah kepastian. “Ke-GR-an,” bisik hatiku dengan nada mengejek yang getir.

Ada rasa sakit yang sulit didefinisikan ketika menyadari bahwa mungkin keterbatasan inilah yang membuatnya tak bisa menetap. Aku tahu rasa ini tak akan pernah memiliki, tapi di sudut hati yang paling dalam, aku bertanya-tanya pada semesta: Apakah salah jika aku mendambakan perhatian yang tulus? Apakah aku benar-benar tak pantas merasakan kebahagiaan sederhana seperti yang dirasakan orang-orang di luar sana?

Mungkin aku memang tidak sepantasnya mendapat hal-hal baik yang bertahan lama. Mungkin takdirku hanya untuk mencicipi sebentar, lalu dibiarkan lapar kembali.

Kini, aku memilih untuk mengambil langkah mundur. Sebelum harapanku semakin menghancurkan logikaku, cara terbaik adalah diam dan pergi. Menepi ke dalam kesunyianku sendiri, membawa sisa-sisa janji yang telah layu. Aku akan menyimpan semua tanya itu dalam diam, membiarkan waktu yang menjawab apakah kelak akan ada hati yang melihat melampaui segala kekuranganku tanpa harus terhalang oleh jarak.

Langkah kaki yang gontai membawaku bersimpuh di kaki Bunda Maria. Di sana, di bawah tatapannya yang teduh dan penuh kasih, pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Isakku pecah di antara aroma lilin yang terbakar dan kesunyian kapel yang suci.
“Bukankah Bunda katakan, mereka yang setia mendoakan Rosario akan dikabulkan?” bisikku di sela tangis.

Dalam kepasrahan itu, aku tidak lagi meminta dia kembali. Aku hanya meminta kekuatan agar hatiku yang remuk ini bisa pulih. Aku menangis, membiarkan setiap tetes air mata menjadi doa yang tidak terucapkan, percaya bahwa Bunda memahami rasa sakit yang bahkan tak sanggup kurangkai menjadi kata-kata.