Jari dan Kehendak yang Bisu
Yusufachmad Bilintention
Di persimpangan benak, pagi menyapa malam,
bermesraan dalam jiwa, menyalakan asa dan janji yang terbayang.
Aku bukan merpati, meski kata bijak terlalu muda untuk terganti,
namun kesetiaan sayapnya mengajarku menepati janji,
walau jiwa kadang terguncang, gemetar terjerat bayang.
Bintang kutatap, meski tak harus kugenggam,
sanjungan bergaung di bibirmu, atau di bibir mereka.
Namun tetap kucium bibir istriku, meski terkatup rapat,
membisu di puncak Jaya Wijaya,
atau di jembatan api yang membara.
Tiada getar di bibirnya, bahkan huruf “U” pun tak melintas,
baginya diam adalah emas, bukan pujian yang buas.
Jari menari seiring irama pikiran,
melagukan asa, mengalir deras rasa.
Raga boleh letih, mata dipaksa berakrobat,
namun di situlah pelepas lara,
obat jiwa yang berpadu dengan lantunan musik India.
Saat jejari berucap syukur,
Ilahi Robbi membelaiku meski dalam tidur.
Keindahan yang belum terukur mewarnai hati,
memberi harapan dalam kehendak yang tak pernah berhenti.
Ini kehendak alam,
kata mereka yang tak percaya Tuhan,
atau berkah dari doa yang menjadi pengharapan.
Itulah bisik kata puisiku,
iman yang tegar, tak tergantikan.
Surabaya, 20 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly