JUBAH: Kepala MAN Sawahlunto Berbagi Butiran Hikmah di BKMT Kecamatan Barangin
SAWAHLUNTO, 26 Juli 2025, Pasca dilaunchingnya Program inovatif ”JUBAH” (Jumat Berbagi Hikmah) di MAN Kota Sawahlunto oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Sawahlunto Dedi Wandra tanggal 23 Juli 2025 kemaren, Kepala MAN Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro hadir pada acara wirid Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Barangin, ia menyulam kata menjadi hikmah, menenun nasihat menjadi suluh jiwa.
Di hadapan ibu-ibu majelis taklim yang berbalut khidmat dan adab, turut hadir pada acara BKMT Kecamatan Barangin, ketua BKMT Barangin Ustadzah Zuli Hartati, M.H Penyuluh agama fungsional, pengurus masjid Darul Iman Santur, pengurus dan jemaah BKMT Se kecamatan Barangin
Dalam Kesempatan itu Dafril Tuanku Bandaro menyampaikan tema yang tak sekadar menyentuh akal, tapi juga menggugah relung jiwa: “Lima Resep Mudah Menghafal Ilmu.” Namun, jangan sangka lima resep ini ditemukan dalam laboratorium atau dari buku pelajaran semata. Ia datang dari langit hikmah, dari laku para ulama, dari warisan para pencinta ilmu sejati.
1. Shalat Tahajjud Meskipun Dua Raka’at 🥺
“Siapa yang ingin hatinya dipenuhi cahaya, maka bangkitlah meskipun sejenak di gelap malam,” tutur Dafril , dengan suara yang mengalir seperti aliran air dari hulu surga. Tahajjud, bukan hanya ibadah malam, tapi cahaya akal. Bahkan dua raka’at sebelum fajar, bila dikerjakan dengan ikhlas, mampu membelah kabut pikiran dan membuka pintu-pintu pemahaman.
2. Mengekali Wudhuk
Dengan lembut, Dafril melanjutkan, “Wudhuk bukan hanya bersuci jasad, tapi ia adalah pagar bagi ruh.” Mereka yang menjaga wudhuknya, seolah menjaga lentera ilmu dari padam. Orang yang berwudhuk senantiasa berada dalam kesegaran batin, siap menampung air hikmah tanpa tumpah.
3. Menjaga Ketaqwaan
Tiada ilmu yang menetap dalam hati yang kotor. Maka ketaqwaan, kata Dafril adalah tanah subur bagi biji-biji ilmu agar tumbuh dan berakar. “Taqwa itu seperti pakaian sutra yang melapisi dada; ia lembut, tapi kuat menahan godaan,” ujarnya. Tanpa taqwa, ilmu hanya hafalan; dengan taqwa, ilmu menjadi amal.
4. Makan Karena Taqwa
“Banyak yang kenyang, tapi kosong. Banyak yang lapar, tapi penuh cahaya,” ucap Dafril dengan senyum bijak. Makan karena taqwa berarti memilih makanan yang halal, bersih, dan secukupnya. Tidak berlebihan, tidak memanjakan nafsu. Sebab, hati yang ringan dari beban syahwat lebih mudah mengingat dan memahami ilmu.
5. Rajin Menggosok Gigi
Di antara derai tawa lembut para jamaah, Kepala MAN Sawahlunto Dafril menjelaskan, “Ini bukan sekadar sunnah, tapi rahasia kebersihan hati.”Gigi yang bersih, mulut yang harum, menandakan penghormatan terhadap ilmu. Betapa banyak ulama dahulu yang tak sudi mengaji sebelum bersiwak. Sebab ilmu datang dari langit dan langit mencintai kebersihan.
Sesi ceramah yang berlangsung sederhana itu menjelma menjadi taman hikmah. Setiap kalimat yang keluar dari lisan beliau bukan hanya disimak, tapi ditanam dalam hati yang rindu bimbingan. Para hadirin menunduk dalam haru, merenung dalam diam. Jemaah antuasias menyimak ceramah yang disampaikan secara kombinasi. Sebab mereka tahu, ilmu bukan sekadar dihafaltapi dipraktikkan, dengan jubah takwa dan adab.
Di penghujung ceramah di berikan kuis untuk jemaah dan, beliau menutup dengan doa. Suara itu lirih, namun menggetarkan. Seperti bisikan langit kepada bumi. Doa agar para ibu majelis taklim bukan hanya mengajarkan anak-anak mereka membaca, tapi juga mencintai ilmu. Doa agar ilmu tak lari dari hati, tapi menetap seperti cahaya di pelita malam.
Penulis : N.H
Editor : DTB