April 2, 2026
70e59c37-b6aa-48eb-b82d-10cf8aba45f0_11zon

Oleh: Vera Sylvia, OFS

Di sudut kamar yang remang, sebuah kotak berpita biru langit tergeletak di atas meja. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar bingkisan. Namun bagiku, kado itu adalah perwujudan doa yang paling rapi: seorang sahabat yang juga menjadi muara kasihku.

Namanya adalah rumah. Senyumnya adalah tempatku pulang setelah lelah bertarung dengan dunia. Setelah sekian lama aku terbiasa menerima “kado” dari hidup hanya untuk melihatnya direnggut kembali, kali ini aku merasa Tuhan sedang benar-benar tersenyum padaku.
Sejak kecil, aku punya hubungan yang rumit dengan kata “memiliki”. Aku masih ingat kado ulang tahun ketujuhku, sebuah boneka beruang besar yang seminggu kemudian harus kuberikan pada sepupu karena ibuku bilang ia lebih membutuhkannya. Lalu ada sepeda merah, hasil tabunganku, yang hilang dicuri hanya sebulan setelah aku belajar mengendarainya.

Pola itu terus berlanjut hingga aku dewasa. Teman-teman baik datang, lalu pindah kota tanpa kabar. Kesempatan-kesempatan emas mengetuk pintu, lalu menguap sebelum sempat kusambut. Seolah-olah takdir menuliskanku sebagai “penjaga” sementara bagi kebahagiaan yang nantinya akan menjadi milik orang lain.
Maka, ketika sosok ini datang—dia yang memahami diamku dan menertawakan lelucon garingku—aku merasa takut. Aku takut mengasihinya terlalu dalam karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Sore itu, mendung menggantung rendah. Dia datang dengan tatapan yang sulit diartikan. Di antara tegukan kopi yang mendingin, dia berujar pelan, “Ada rencana besar yang mungkin mengharuskanku pergi jauh. Sangat jauh.”

Duniaku serasa berhenti berputar. Kalimat itu seperti guntur di siang bolong. Bayangan masa kecilku kembali menghantui: kado yang harus kuserahkan kembali, milik yang menjadi milik orang lain. Aku tidak sanggup jika kali ini “kado” terbaik dalam hidupku—sahabat sekaligus orang yang selalu mendengar ku—juga harus diambil oleh keadaan.

Aku tidak marah padanya. Aku hanya marah pada nasib. Mengapa setiap kali aku merasa lengkap, semesta selalu menyiapkan skenario untuk mengosongkanku kembali?
Di Bawah Butiran Rosario
Malam, ketika seluruh kota sudah terlelap, aku berlutut di sudut tempat tidur. Tanganku gemetar saat meraih untaian rosario kayu yang sudah mulai halus permukaannya karena sering kusentuh.

Setiap butirnya bukan sekadar doa, melainkan permohonan yang mendesak.

“Bapa, jangan yang ini,” bisikku parau. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung, membasahi salib kecil di genggamanku. “Engkau tahu betapa sering kado-kadoku menjadi milik orang lain. Engkau tahu betapa aku sudah terbiasa dengan kehilangan. Tapi untuk yang satu ini, kumohon, jadikan dia pengecualian.”

Aku mendaraskan setiap Salam Maria dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam setiap putaran butiran itu, aku membayangkan rencana kepergiannya, segala dokumen, segala tiket, dan segala ambisi yang menjauhkannya dariku, perlahan memudar dan batal. Aku meminta mukjizat agar Tuhan menutup pintu-pintu yang membawanya pergi dan membuka jendela yang membiarkannya tetap di sini.

“Aku tidak ingin kehilangan sahabat dan orang yang aku sebutkan dalam tiap doa doa, Tuhan. Jangan biarkan kado ini diambil. Biarkan ia menetap, biarkan ia tumbuh bersamaku hingga aku selesai dari dunia ini.

Penantian dan Penyerahan
Malam itu berakhir dengan kelelahan yang luar biasa. Aku tertidur di atas sajadah doa, dengan rosario yang masih melilit di jemariku. Ada damai yang aneh merayap di dada—sebuah keyakinan bahwa kali ini, kado ini benar-benar dikirim Tuhan untuk menetap, bukan untuk sekadar mampir.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku tidak tahu apakah rencananya benar-benar akan batal. Namun satu hal yang kutahu, aku telah menitipkan kado terindahku di tangan Pemilik Semesta yang paling aman. Dan kali ini, aku menolak untuk melepaskan.