April 4, 2026

Antologi Puisi

Oleh: Rizal Tanjung

(Terimakasih sahabatku jurnalis Laratmasepaulus sebagai sumber inspirasi antologi Puisi ini)

Bab I – Perahu Cahaya di Laut Tak Bernama

Di ufuk jauh,
terdengar suara dayung dari langit,
perahu cahaya berlayar di laut tak bernama,
membawa bintang-bintang
seperti butir kelapa jatuh dari pohon kosmos.

Laut itu bukan air,
tetapi gema dari rindu yang tak selesai,
ombaknya bukan gelombang,
melainkan hela napas bumi yang menahan kesedihan.

Aku duduk di haluan perahu,
menyaksikan bulan terbelah dua,
separuh jatuh ke dada malam,
separuh lagi tenggelam di matamu.

Di antara karang-karang Tanimbar
yang berdiri seperti doa,
aku mendengar suaramu,
lirih, namun lebih nyaring
dari riak yang mencium pantai.

Cinta di sini bukan lagi kata,
ia menjelma cahaya
yang tidak pernah bisa ditampung
oleh wadah dunia.

Bab II – Hutan yang Menyimpan Hati

Ada hutan di kepulauan,
tempat burung-burung tidak sekadar bernyanyi,
tetapi merapal mantra kuno
yang diwariskan dari nenek moyang angin.

Di dalamnya, pohon-pohon kelapa
bercakap dengan pohon cendana,
akar-akar menulis rahasia di tanah basah,
sementara ranting-ranting
menggantungkan bintang di langit rendah.

Aku berjalan di sana,
mencari jejak langkahmu
di tanah yang lembab,
di daun yang jatuh,
di udara yang tak pernah kehabisan aroma laut.

Hutan itu tahu rahasia,
bahwa setiap manusia
adalah ranting yang hilang
dari pohon kosmik yang sama.

Dan ketika aku duduk di bawah pohon pala tua,
aku mendengar detak hatimu,
bercampur dengan suara jangkrik,
menjadi simfoni sunyi
yang hanya bisa dimengerti
oleh jiwa yang sedang jatuh cinta.

Bab III – Batu Karang Menulis Kitab Ombak

Di tepi pantai Tanimbar,
ada batu karang yang tidak pernah tidur.
Ia menulis kitab ombak,
setiap hari, setiap malam,
tanpa tinta, tanpa pena,
hanya dengan luka yang ditinggalkan gelombang.

Kitab itu bukan untuk dibaca mata,
tetapi untuk diraba jiwa.
Di dalamnya, tercatat
pertemuan matahari dengan air asin,
kisah tentang ikan-ikan yang menyimpan rahasia bintang,
dan doa-doa para nelayan
yang menggantung di jaring mereka.

Aku duduk di batu karang itu,
menyandarkan tubuh pada permukaannya yang keras,
namun justru di situlah
aku menemukan kelembutan cinta:
sebab luka-luka karang
adalah puisi paling setia
yang pernah ditulis lautan.

Bab IV – Burung Laut dan Nyanyian Kekasih

Seekor burung laut melintas,
sayapnya basah oleh kabut pagi,
membawa pesan dari pulau ke pulau,
seperti utusan dari semesta.

Aku mendengar suaranya—
bukan kicau, bukan pekik,
tetapi nyanyian yang menyerupai panggilanmu.

Burung itu terbang rendah,
menyentuh permukaan air,
menciptakan lingkaran ombak kecil,
seakan mengingatkan:
cinta selalu berawal dari riak
sebelum menjadi samudra.

Aku menatap jauh ke cakrawala,
dan bayangmu muncul
seperti pulau yang perlahan terbit
dari kabut biru.

Di nyanyian burung laut itu,
aku mendengar janji-janji
yang tidak pernah kita ucapkan,
namun telah tertulis
sejak sebelum langit mengenal kata “pagi”.

Bab V – Malam yang Ditikam Bintang

Malam turun pelan-pelan,
seperti tirai hitam yang disulam halus
oleh tangan nenek moyang waktu.

Namun di tengah gelap itu,
bintang-bintang menikam malam,
membuat luka kecil di langit,
dan dari luka itu
tumpah cahaya yang jatuh ke laut.

Aku berdiri di tepi pantai,
air mencapai pergelangan kakiku,
memandang ke atas—
ke langit yang penuh luka bercahaya.

Aku tahu,
setiap bintang yang gugur
adalah doa yang tak sempat kita sebutkan,
setiap cahaya yang jatuh
adalah cinta yang kembali mencari tuannya.

Dan malam itu,
aku merasa
seluruh Kepulauan Tanimbar
bukan lagi peta di bumi,
melainkan tubuhmu
yang berbaring di samudra kosmos.

Bab VI – Lidah Api di Ujung Senja

Senja di Tanimbar bukan sekadar warna,
ia adalah lidah api
yang menjilat tepi langit,
membakar awan menjadi bara jingga,
dan menyalakan laut menjadi cermin raksasa.

Aku berdiri di sana,
memandang matahari yang sekarat,
ia tidak mati,
hanya beristirahat
di pangkuan ombak yang lembut.

Di dalam api senja itu,
aku melihat wajahmu terbentuk,
kabur namun abadi,
seperti kenangan yang tak bisa dihapus
meski oleh waktu paling ganas.

Burung-burung camar pulang,
sayapnya memotong cahaya,
seperti pena menulis
bait terakhir dari hari.

Dan aku berbisik pada langit merah:
“Jika esok tak datang,
biarkan malam ini menjadi kitab terakhir
di mana namamu
ditulis dengan api senja.”

Bab VII – Air Mata Pulau-Pulau

Kepulauan ini seperti tubuh raksasa,
setiap pulau adalah tulang,
setiap teluk adalah urat,
dan setiap pantai adalah kulit
yang menyimpan bekas luka angin.

Namun aku tahu,
pulau-pulau juga menangis.
Air mata mereka jatuh
menjadi danau kecil,
menjadi sungai yang lirih,
menjadi hujan yang kembali ke laut.

Aku duduk di batu karang
dan merasakan tetesannya,
bukan asin air garam,
tetapi asin air rindu,
yang mengalir dari bumi
kepada langit,
dari tanah kepada laut,
dari aku kepada kamu.

Pulau-pulau ini,
dengan segala kesepiannya,
sebenarnya adalah tubuh kita:
saling memanggil,
saling mencari,
saling menangis
agar tetap diingat.

Bab VIII – Ombak Menjadi Doa

Malam itu aku mendengar ombak,
tapi suaranya bukan gemuruh,
melainkan doa yang panjang,
disulam dari suara bumi
dan bisikan bintang.

Ombak memanggil namamu,
berulang-ulang,
sampai pasir ikut bergetar,
sampai pohon kelapa ikut menunduk.

Aku mengerti,
laut tidak pernah sekadar laut.
Ia adalah lidah raksasa
yang mengucapkan kerinduan
bagi yang tak sanggup lagi bersuara.

Dan aku pun berlutut di pantai,
mencelupkan tangan ke dalam air,
merasa bahwa setiap riak kecil
adalah jari-jarimu
yang mengelus tanganku
dari kejauhan yang tak terukur.

Bab IX – Angin Timur Membawa Nama

Dari ufuk timur datang angin,
membawa aroma kayu cendana,
garam laut,
dan suara yang asing namun akrab.

Aku berdiri menunggu,
dan angin itu menampar wajahku lembut,
seperti sentuhan seorang kekasih
yang tak ingin kau lupakan.

Di telingaku,
aku dengar namamu terucap,
berkali-kali,
dalam bahasa yang hanya dimengerti
oleh daun-daun kelapa
dan burung laut yang terbang rendah.

Angin itu mengajarkanku:
bahwa nama seseorang
bukan sekadar bunyi,
tetapi tubuh,
roh,
dan cahaya yang berdiam di udara.

Dan malam itu aku sadar,
setiap kali angin bertiup dari timur,
kau sedang berlari di jalan tak terlihat,
mendekat kepadaku.

Bab X – Langit sebagai Jendela Jiwa

Ada malam ketika aku memandang langit,
dan tiba-tiba ia menjadi jendela:
gelapnya adalah tirai,
bintangnya adalah lubang kecil
yang mengintipkan rahasia jiwa.

Aku menatap lebih lama,
dan di balik bintang-bintang itu
kulihat wajahmu,
bukan dari daging,
tetapi dari cahaya.

Langit itu bukan jauh,
ia hanya lapisan tipis
antara aku dan kamu.
Dan setiap kali bintang berkelip,
aku tahu kau sedang tersenyum,
meski dari balik jendela kosmos.

Aku pun menutup mata,
membiarkan malam masuk ke dadaku,
dan di dalam dada itu,
langit, bintang, dan wajahmu
bercampur menjadi satu tubuh.

Bab XI – Pulau yang Tidur dalam Pelukan Laut

Ada satu pulau kecil di ujung Tanimbar,
terlihat seperti anak kecil yang tertidur
di pelukan ibu bernama Laut.

Pasirnya lembut,
seperti selimut putih,
dan pohon-pohon kelapanya
berdiri seperti mimpi
yang tak ingin dibangunkan.

Aku berlayar ke sana,
dan ketika menjejakkan kaki,
aku merasa seperti masuk ke dalam dadamu:
hening, hangat,
penuh rahasia yang hanya bisa dimengerti
oleh hati yang sedang mencinta.

Pulau itu mengajariku,
bahwa tidur bukanlah mati,
melainkan cara bumi
menyimpan rindu dalam diam.

Bab XII – Suara Gong dari Dasar Laut

Pada suatu malam,
aku mendengar suara gong
berkumandang dari dasar laut.
Bukan gong manusia,
melainkan gong kosmik
yang dipukul oleh tangan cahaya.

Suara itu menembus air,
naik ke permukaan,
membuat ikan-ikan menari,
membuat karang-karang bergetar,
membuat bulan berhenti sejenak
untuk mendengarkan.

Aku tahu, itu bukan sekadar bunyi.
Itu adalah panggilan,
sebuah nyanyian rindu,
yang dituliskan oleh ombak
dan diterjemahkan oleh malam.

Dan di dalam suara gong itu,
aku mendengar namamu,
seperti gema yang tidak pernah padam,
seperti doa yang tak pernah selesai.

Bab XIII – Rindu yang Menjelma Ikan Terbang

Di langit rendah Tanimbar,
ikan-ikan terbang meloncat
dari laut ke udara,
membelah senja dengan sayap beningnya.

Aku menatap lama,
dan mengira itu sekadar permainan alam.
Tapi tiba-tiba aku mengerti:
itu adalah rindu yang menjelma ikan,
terlalu berat jika ditahan di air,
terlalu ringan jika dilepaskan di langit.

Seekor ikan terbang jatuh di kakiku,
matanya basah,
siripnya bergetar.
Aku tahu,
itu adalah rinduku padamu
yang tak sanggup lagi berenang
dan memilih terbang mencari tuannya.

Bab XIV – Pasir yang Menyimpan Jejak Bintang

Aku berjalan di pantai malam,
dan pasir terasa berbeda.
Ia tidak hanya menyimpan jejak kaki,
tetapi juga jejak bintang
yang jatuh dari langit.

Bintang itu tidak hancur,
ia berubah menjadi butir pasir,
bercahaya kecil di bawah telapak kakiku.

Aku pun membungkuk,
menggenggam segenggam pasir,
dan kulihat ada kilau halus,
seperti tatapanmu yang disembunyikan.

Pasir itu mengajariku:
bahwa tidak semua cahaya harus tinggal di langit.
Sebagian memilih turun ke bumi,
agar manusia tahu,
bahwa cinta juga bisa diinjak
namun tetap bercahaya.

Bab XV – Lautan Menjadi Kitab Akhir

Di ujung perjalanan,
aku berdiri di tepi tebing Tanimbar,
memandang laut yang luas,
seperti halaman terakhir
dari sebuah kitab tanpa judul.

Laut itu menulis dengan ombak,
menghapus dengan pasang,
menyembunyikan dengan dalam.

Dan aku mengerti:
setiap manusia adalah kalimat,
setiap cinta adalah bait,
setiap kehilangan adalah titik.

Aku ingin lompat ke dalamnya,
agar tubuhku menjadi huruf terakhir,
agar rinduku menjadi judul yang terlupa,
agar cintaku padamu
ditulis sekali lagi,
bukan di kertas,
bukan di langit,
tetapi di air yang tak pernah henti membaca.

Bab XVI – Ombak yang Menjadi Doa

Ombak datang berulang,
seperti mulut bumi yang tak henti berzikir.
Setiap hempasan adalah doa,
setiap buih adalah kalimat yang tak selesai.

Aku duduk di tepi pantai,
dan mendengar ombak menyebut namamu,
berkali-kali,
hingga aku merasa kau adalah dzikir
yang tak bisa dihapus waktu.

Bab XVII – Angin Timur yang Membawa Pesan

Angin timur bertiup dari Laut Banda,
membawa aroma pala, cengkih, dan garam.

Aku menutup mata,
dan merasakan pesan yang ia bisikkan:
“Cinta bukan hanya pertemuan,
tapi kesetiaan menunggu,
seperti pohon lontar menunggu hujan.”

Aku pun menulis pesan angin itu
di pasir,
agar ketika pasang tiba,
laut pun membaca rinduku.

Bab XVIII – Perahu Tanpa Nahkoda

Di teluk kecil,
aku melihat perahu tua,
ditinggalkan tanpa nahkoda.

Namun, ia tidak karam.
Ia masih mengapung,
seperti tubuh yang menolak mati
meski kehilangan jiwa.

Aku sadar,
akulah perahu itu:
terombang-ambing dalam cintamu,
tanpa kendali,
namun selalu menolak tenggelam.

Bab XIX – Bulan yang Terjebak di Jaring Nelayan

Malam itu nelayan menarik jaringnya,
dan entah bagaimana,
bulan ikut terperangkap di dalamnya.

Bulan meronta dalam air,
membuat laut berkilau perak.

Aku melihat dan berkata:
“Beginilah cintaku padamu:
ingin kugenggam,
tapi selalu melukai;
ingin kulepas,
tapi terlalu indah untuk kubiarkan pergi.”

Bab XX – Hujan di Atas Karang

Hujan turun deras di Tanimbar,
membasuh karang-karang yang keras.

Air hujan jatuh seperti airmata,
dan karang yang bisu
akhirnya bernyanyi,
memantulkan suara seperti gamelan laut.

Aku mendengar lagu itu,
dan tahu bahwa setiap keras hati
pun bisa luluh,
jika disentuh dengan cinta yang tulus.

Bab XXI – Lautan yang Menyimpan Wajah

Laut Tanimbar adalah cermin raksasa.
Aku menatapnya,
dan wajahmu muncul di permukaannya,
kadang jelas, kadang kabur,
seperti rahasia yang enggan dibuka.

Setiap kali aku mendekat,
ombak menghapusnya.
Namun wajahmu selalu kembali,
seperti takdir
yang menolak hilang dari hidupku.

Bab XXII – Matahari yang Dibelah Tombak

Legenda tua Tanimbar berkata:
seorang pahlawan menikam matahari,
membelahnya jadi dua,
agar malam dan siang bisa berbagi dunia.

Aku percaya itu bukan sekadar cerita.
Itu adalah kisah cinta:
bahwa untuk memberi ruang bagi yang lain,
kadang kita harus rela
membelah diri.

Dan aku pun belajar,
bahwa cintaku padamu
bukan hanya ingin memiliki,
tetapi juga berani berbagi cahaya
meski harus terbakar.

Bab XXIII – Nyanyian Lumba-Lumba

Lumba-lumba muncul di permukaan,
menyanyi dengan suara yang
tak pernah terdengar di daratan.

Nyanyiannya membuat laut bergetar,
membuat langit tersenyum,
membuat hatiku pecah oleh rindu.

Aku tahu,
nyanyian itu bukan untukku,
tapi untuk pasang yang setia menunggu.
Namun aku ikut terharu,
karena aku juga sedang menunggu
cintamu kembali ke pelabuhanku.

Bab XXIV – Batu yang Menyimpan Waktu

Di Tanimbar ada batu tua,
disebut orang “batu leluhur.”
Orang-orang percaya,
ia menyimpan waktu,
dan siapa pun yang menyentuhnya
akan mendengar masa lalu.

Aku pun menyentuh batu itu,
dan mendengar langkah-langkahmu,
tawa kecilmu,
dan bisikan rahasiamu.

Aku sadar:
waktu bukan hanya di jam,
ia juga bersemayam di batu,
di tubuh,
dan di hati yang setia.

Bab XXV – Pulang ke Laut, Pulang ke Cinta

Pada akhirnya,
semua jalan di Tanimbar
akan membawa kita pulang ke laut.

Laut yang abadi,
laut yang menelan segala tangis,
laut yang menampung semua doa.

Aku pun tahu,
cintaku padamu tak berbeda dengan laut:
tak pernah punya akhir,
tak pernah punya garis selesai.

Jika suatu hari tubuhku karam,
biarlah jiwaku jadi ombak,
agar setiap pantai
masih bisa mendengar rinduku.

Dan jika cintaku harus tamat,
biarlah ia tamat di laut,
sebab laut adalah kitab terakhir
yang sanggup menyimpan segalanya.

Sumatera Barat, Indonesia,2025.