May 10, 2026

Antologi Puisi

Oleh Rizal Tanjung

Pintu Tanpa Engsel

Di mana kau letakkan kunci
untuk membuka pintu
yang tak pernah terkunci?

Aku mengetuk daun sunyi,
tapi suara ketukanku lenyap
dalam napas yang memeluk segala.

Pintu itu bukan untuk dibuka—
pintu itu adalah Aku,
yang menunggu Aku
untuk pulang.

Cahaya yang Menyeduh Bayang

Aku berjalan
menyusuri halaman senja,
tempat cahaya
menyeduh bayangku sendiri
sampai menjadi secangkir kefanaan.

Kuteguk rasa pahitnya—
dan di kerongkongan sunyi,
akulah yang hilang,
akulah yang tersisa.

Huruf yang Lupa Menjadi Kata

Telah kupahat ribuan huruf
di dinding malam,
tetapi huruf-huruf itu
lupa cara mengeja nama-Mu.

Dan saat aku berhenti menulis,
kudapati Engkau
adalah makna yang tak butuh bahasa—
sebuah kehadiran
yang hanya bisa dirasakan
dalam diam.

Mati Sebelum Mati

Aku mencicipi maut
sebelum tubuhku lelah.
Kupelajari rahasia
mati sebelum mati,
agar hidupku
bukan sekadar perjalanan
menuju tanah,
tetapi kepulangan
ke Cahaya Asal.

Dzikir Angin

Tiap hela napas
adalah tasbih angin
yang memanggil Kekasih
dengan isyarat tak bersuara.

Dan dalam helaan terakhir,
kuletakkan rinduku
di telapak waktu
yang tak pernah berdetak.

Laut yang Menyimpan Langit

Kutanya pada laut:
di mana langit bersembunyi
ketika senja jatuh?

Laut menjawab
dengan gelombang tak bernama—
bahwa langit tak pernah bersembunyi,
hanya mataku yang terlalu sibuk
menghitung ombak.

Satu Api yang Menyala dalam Sunyi

Ada satu api
yang tak membakar,
hanya memutihkan
segala warna diri.

Dan saat aku menjadi abu,
kutahu:
akulah api itu,
akulah yang menyala,
akulah yang padam.

Nama yang Menjadi Asap

Semua nama
hanyalah asap
yang sebentar
membumbung tinggi,
lalu lenyap
di langit tanpa arah.

Dan di saat asap hilang,
akulah udara
yang dulu tak kulihat,
tempat segala nama
menumpang sekejap.

Rindu yang Tak Mempunyai Tepi

Rinduku padamu
tak mempunyai tepi.

Ia seperti malam
yang tak punya fajar,
seperti sungai
yang tak mencari muara.

Karena rindu ini
bukan pada Engkau di luar,
tapi pada Aku
yang lama terlupa.

Sunyi yang Mencintai Sunyi

Dalam sunyi yang sempurna,
tak ada lidah untuk memanggil,
tak ada telinga untuk mendengar.

Hanya sunyi
yang mencintai sunyi—
sebuah pelukan
yang tak memerlukan dua tubuh,
tak mengenal jarak.

Mencari yang Telah Menemukan

Aku mencari
Dia yang sudah lama
menemukan aku.

Dan dalam pencarian itu,
kusadari:
yang paling setia
bukan langkahku,
melainkan Cahaya
yang selalu menunggu
di ambang pengakuan.

Kekasih yang Menyamar sebagai Kehidupan

Kekasihku,
betapa sering Kau menyamar
menjadi tawa,
menjadi luka,
menjadi waktu yang menggerogoti.

Dan aku—
si buta yang bercermin
di kolam fana—
baru sadar:
semua wajah adalah Wajah-Mu.

Mata yang Buta dalam Terang

Kini aku tak ingin lagi
melihat dunia
dalam gemerlap palsunya.

Aku lebih memilih buta
dalam Terang-Mu,
karena kebutaan itu
adalah penglihatan
yang paling murni.

Runtuhnya Dinding Pemisah

Kau hancurkan dinding
antara Aku dan Engkau.

Tak ada lagi “aku mencintai-Mu”,
tak ada “Engkau yang dicintai”.

Hanya satu Nafas,
satu Kehadiran
yang tak terbagi.

Rumah yang Tak Dibangun oleh Tangan

Aku pulang
ke rumah yang tak dibangun oleh tangan,
tak dihuni oleh nama.

Di sana,
tak ada lampu,
karena cahaya lahir
dari dada sendiri.

Cinta yang Membakar Segala Pemahaman

Cinta itu bukan ilmu,
bukan madah,
bukan peta.

Ia adalah api
yang akan membakar
seluruh pemahamanmu
hingga hanya tinggal abu
yang menyerah pada Angin Mutlak.

Kekosongan yang Berisi Segalanya

Kupeluk kekosongan,
dan kutemukan
di dalamnya:
semua warna,
semua wujud,
semua rahasia
yang tak bisa diucap.

Karena kekosongan itu
adalah rahim awal mula.

Napas yang Menghapus Nama

Kutarik satu napas panjang,
dan dalam helaan itu
kutanggalkan semua nama.

Tinggal satu yang tak bisa kutanggalkan:
Kehadiran yang tak bernama,
tak berwajah,
namun lebih nyata
dari nafasku sendiri.

Ketika Cinta Menutup Mulut Cinta

Di penghujung rindu,
Cinta sendiri
menutup mulut Cinta,
karena kata-kata
hanya menyalakan jarak.

Dan dalam sunyi itu,
aku pun paham:
Cinta tak butuh saksi.

Lenyap

Akhir dari segala akhir
bukanlah surga,
bukan pula kebahagiaan.

Akhir itu adalah lenyap—
lenyap menjadi Dia
yang tak pernah terpisah,
lenyap menjadi Aku
yang tak pernah lahir.

> Kini,
di akhir cinta,
tak ada nama.
Tak ada kata.
Tak ada Engkau.
Tak ada Aku.

Hanya Satu,

yang bahkan Satu pun

lenyap dalam Keheningan Abadi.

Cahaya yang Terluka

Di matamu, aku melihat pelabuhan yang karam,
kapal-kapal yang dulu berlayar dengan doa,
kini hanya tinggal tiang patah
dan burung camar yang lupa arah.
Cinta—katamu—selalu ada cahaya,
tapi cahaya pun bisa berdarah
jika terlalu lama menunggu pagi.

Bayangan di Balik Cermin

Aku mengetuk cermin,
dan wajahmu menjawab dengan retakan.
Barangkali engkau bukan lagi dirimu,
barangkali aku hanya bayangan
yang tidak diundang oleh lampu.
Di negeri kaca, cinta hanyalah pantulan:
indah, rapuh, dan selalu pecah
ketika disentuh dengan jari rindu.

Doa yang Tak Pernah Pulang

Aku menulis namamu pada udara,
mungkin angin bisa membawanya
ke tempat yang lebih teduh.
Tapi doa, oh, doa,
sering tersesat di persimpangan langit,
dan akhirnya kembali padaku
dalam bentuk hujan yang asin.

Luka di Altar Waktu

Kita mempersembahkan cinta
seperti dupa di altar waktu,
tapi abu jatuh ke rambut kita
dan menjadikan malam semakin tua.
Apakah kita masih percaya pada sakralitas
atau hanya sedang berbohong pada arloji
yang tak pernah berhenti berdetak?

Senandung Para Burung Hitam

Burung-burung hitam berkumpul di atap,
mereka menyanyikan lagu cinta yang retak.
Aku mencoba menutup telinga,
tapi suara mereka menembus daging,
membuatku tahu bahwa cinta
tak selalu putih seperti merpati,
kadang ia hitam,
dan paruhnya tajam pada harapan.

Ranjang Kosong, Kota yang Riuh

Malam ini, ranjang terasa seluas benua
tanpa peta tubuhmu.
Aku mendengar kota bernapas:
klakson, dengus mesin,
dan tawa palsu di kedai kopi.
Betapa ironis,
dunia selalu penuh dengan suara
justru ketika aku kehilangan
satu-satunya bisikan yang ku puja.

Surat dari Hening

Aku membuka amplop kosong:
hening menulis sesuatu padaku.
“Jangan berharap,” katanya,
“cinta hanyalah stasiun
yang keretanya tak kunjung datang.”
Aku tertawa getir,
sebab aku tahu:
aku sudah lama duduk
di bangku kayu peron itu.

Malaikat yang Kehilangan Sayap

Jika cinta adalah malaikat,
maka ia kini pincang,
sayapnya tersangkut di kawat berduri.
Ia mencoba terbang,
tapi langit sudah penuh pengkhianatan.
Aku melihatnya menangis,
dan aku pun ikut jatuh,
sebab cinta bukan lagi penyelamat,
melainkan tawanan langit.

Monumen Air Mata

Di alun-alun kota,
aku membangun monumen air mata.
Batu-batu pualamnya berasal dari janji,
sementara ukirannya dibuat dari perpisahan.
Orang-orang datang berziarah,
menyalakan lilin,
dan tertawa.
Ya, cinta kita telah resmi
menjadi tempat wisata.

Cahaya yang Menetap

Dan akhirnya,
dari reruntuhan doa dan luka,
tetap ada cahaya yang menetap:
bukan lagi cinta padamu,
tapi cinta pada luka itu sendiri.
Sebab luka adalah guru,
dan air mata adalah tinta
yang menulis ulang tubuhku.
Kini aku tahu,
bahwa mencintaimu
adalah cara paling jujur
untuk mencintai kesedihan.

Hujan yang Meminang Senja

Hujan turun pelan-pelan,
seperti kekasih yang malu menyebut namaku.
Setiap tetesnya mengetuk jendela,
seperti doa yang tak berani masuk ke rumah.
Aku ingin membuka pintu,
tapi senja sudah lebih dulu menerima pinangan:
langit berwarna jingga,
sementara aku hanya bayangan abu-abu.

Kuburan Janji

Di ladang sepi,
aku menanam janji-janji kita.
Kertasnya kusam, tintanya luntur,
tapi akar kebohongan selalu kuat.
Kini tumbuh pohon dengan daun hitam,
burung gagak bersarang di sana,
dan orang-orang lewat bertanya:
“Siapa yang mati di sini?”
Aku menjawab: “Cinta,
tapi jangan takut,
ia mati berkali-kali.”

Rindu yang Berjalan Pincang

Rindu datang,
menyeret kakinya yang patah.
Ia mengetuk dadaku,
meminta segelas air,
meminta sepotong harapan.
Aku memberinya roti hangus,
dan ia tersenyum pahit.
“Tak apa,” katanya,
“bahkan makanan basi pun lezat
bila dimakan dalam kesunyian.”

Opera di Atas Kubah

Malam ini bintang-bintang bernyanyi,
seperti paduan suara yang mabuk anggur.
Aku melihat bulan jadi sutradara,
dan langit jadi panggung tua.
Mereka memainkan opera tentang kita:
kisah dua pecinta
yang saling mencintai dengan cara salah.
Tirai jatuh, penonton bertepuk tangan,
sementara aku menunduk—
menyadari kisah kita hanyalah sandiwara.

Lilin yang Membakar Diri

Aku menyalakan lilin untuk namamu,
tapi api itu lebih cepat memakan tubuhnya
daripada menerangi ruangku.
Aku belajar,
kadang cinta adalah lilin:
ia rela binasa demi memberi cahaya,
namun tetap mati
di ujung waktu yang singkat.

Lautan Tanpa Peta

Aku hanyut di lautan ini,
membawa dayung yang patah,
tanpa bintang, tanpa mercusuar.
Namamu adalah pulau,
tapi setiap kali kucoba mendekat,
ombak melemparku lebih jauh.
Mungkin engkau memang ditakdirkan
jadi tanah asing:
indah dipandang,
mustahil dimiliki.

Teater Boneka

Orang-orang berkata kita bahagia.
Kita tersenyum,
kita menggenggam tangan,
seperti boneka yang ditarik benang.
Tapi ketika malam menutup panggung,
aku mendengar kayu tubuhku retak.
Benang itu putus satu per satu,
dan aku jatuh ke lantai,
tak ada tepuk tangan.

Angin yang Menyimpan Rahasia

Aku menitipkan rahasia pada angin:
betapa aku masih mencintaimu
dengan segala kebodohanku.
Tapi angin itu nakal,
ia berlari ke pasar,
menyebarkannya pada pepohonan,
hingga burung-burung pun berkicau:
“Lihat, ada manusia
yang mencintai luka lebih dari dirinya sendiri!”

Rumah Tanpa Pintu

Aku membangun rumah dari kesunyian,
tanpa pintu, tanpa jendela.
Engkau datang mengetuk,
tapi suara itu hanya berbalik
menjadi gema di dinding.
Barangkali rumah ini memang bukan untukmu,
barangkali aku hanya ingin tinggal
bersama kesendirian,
seperti biarawan
yang menikahi keheningan.

Pasar Luka

Aku berjalan di pasar luka:
ada yang menjual patah hati,
ada yang menawar kesepian,
ada yang melelang air mata.
Aku menaruh cintaku di meja lelang,
tapi tak seorang pun menawar.
Akhirnya aku membelinya kembali,
dengan harga yang lebih mahal:
hidupku sendiri.

Taman Tanpa Musim Semi

Aku menanam bunga di hatiku,
tapi musim semi tak pernah datang.
Tunasnya layu,
kelopaknya gugur sebelum mekar.
Barangkali tanahku sudah terlalu asin
oleh air mata yang kau tinggalkan.
Kini taman ini sunyi,
hanya ada rumput liar
dan sepi yang tumbuh abadi.

Langit yang Patah

Aku melihat langit patah dua,
awan-awan jatuh seperti kertas terbakar.
Matahari tersedak di tenggorokan senja,
sementara rembulan bersembunyi
di balik tirai awan hitam.
Di bawah reruntuhan langit,
aku mencari wajahmu.
Tapi engkau hanya bayangan
yang menolak diselamatkan.

Katedral Sunyi

Aku membangun katedral
dari batubata kesedihan.
Atapnya dari doa,
loncengnya dari janji kosong.
Setiap kali aku masuk,
gema suaraku jadi paduan suara.
Di altar itu, aku berdoa:
bukan untuk kebahagiaan,
tapi agar luka ini tetap indah.

Cinta yang Menjadi Abu

Aku membakar semua suratmu.
Asapnya naik,
membentuk wajahmu di udara.
Abunya jatuh ke lantai,
menjadi bintang kecil yang mati.
Aku sadar,
cinta tak pernah hilang,
ia hanya berubah wujud:
dari kata-kata jadi asap,
dari ingatan jadi abu.

Kesedihan yang Abadi

Dan akhirnya,
setelah semua bab ditutup,
aku mengerti:
cinta bukan untuk menetap,
cinta hanya untuk meninggalkan jejak.
Engkau pergi,
tapi kesedihanmu tetap tinggal,
seperti lukisan di dinding waktu.
Dan aku,
hanya seorang penjaga museum hati,
yang terus memandangi
lukisan luka itu
hingga mataku buta.

Hujan di Dalam Dada

Di luar jendela, hujan turun,
tapi lebih deras di dalam dadaku.
Aku menadahnya dengan tangan kosong,
dan hanya mendapatkan
sebuah gemuruh yang tak bisa kutuliskan.
Hujan ini bukan air,
ia adalah wajahmu yang larut
dalam segala kehilangan.

Buku Harian yang Terbakar

Aku membuka buku harian,
namamu masih tertulis di halaman pertama.
Aku menyalakan api,
membiarkan kata-kata itu meringkuk jadi arang.
Tapi abu tetap punya ingatan,
ia menempel di jariku
dan menodai setiap sentuhan.

Bayangan di Atas Laut

Aku melihat dirimu berdiri di laut,
tapi hanya bayangan yang menyapaku.
Gelombang menelan kakimu,
angin menampar wajahmu,
dan aku tahu:
bahkan laut pun enggan memelukmu
tanpa membawa kesedihan bersamanya.

Jendela Tanpa Pemandangan

Aku membuka jendela,
tapi di luar hanya ada tembok kusam.
Tak ada pepohonan, tak ada langit,
hanya sunyi yang menempel.
Barangkali begitulah hatiku kini:
jendela masih terbuka,
tapi dunia tak mau masuk lagi.

Pasar Gelap Rindu

Aku menyelinap ke pasar gelap,
di sana dijual rindu dengan harga nyawa.
Aku menukar sisa hidupku
dengan sekantong kecil kenangan.
Pedagang itu tertawa,
“Engkau manusia paling bodoh,” katanya,
“membeli apa yang seharusnya kau buang.”

Jam yang Patah

Di dinding, jam berhenti berdetak.
Jarumnya membeku tepat pada saat
engkau mengucap selamat tinggal.
Sejak itu waktu enggan berjalan,
sementara aku terus menua
dalam keabadian luka.

Perjamuan Kesepian

Aku menata meja panjang:
piring kosong, gelas kosong, kursi kosong.
Hanya aku sendiri yang duduk,
menunggu tamu yang tak pernah datang.
Kesepian mengangkat gelasnya,
dan berkata:
“Aku satu-satunya yang setia padamu.”

Lilin yang Menangis

Di malam gelap, lilin menangis.
Cairan panasnya menetes seperti darah,
menyala hanya untuk mati lebih cepat.
Aku melihat diriku di sana:
cinta membakarku dari dalam,
dan aku tetap rela,
meski tahu akan habis.

Kereta Tanpa Stasiun

Aku menaiki kereta panjang ini,
tapi tak ada stasiun akhir.
Relnya melingkar,
membawaku kembali ke titik semula.
Setiap kali aku berharap berhenti,
suara peluit berkata:
“Tak ada tempat bagi penumpang rindu.”

Makam Cinta

Aku menggali tanah,
menanam cinta yang busuk.
Kupu-kupu hitam beterbangan,
rumput liar tumbuh di atasnya.
Dan setiap malam,
aku berziarah,
menaruh bunga yang layu,
sambil tersenyum getir:
“Beginilah caranya merawat yang telah mati.”

Topeng di Panggung Hati

Aku memakai topeng bahagia,
berjalan di jalan ramai.
Orang-orang percaya pada senyumku,
tak ada yang tahu
bahwa wajah di balik topeng
sudah hancur jadi reruntuhan.

Kepala Patung yang Menangis

Di museum tua,
aku melihat kepala patung menangis.
Air matanya dari batu,
tapi aku tahu itu nyata.
Mungkin ia pernah mencinta,
dan kini hanya jadi fosil
bagi kenangan yang tak bisa mati.

Sungai yang Membawa Nama

Aku menuliskan namamu di sungai,
membiarkannya hanyut ke laut.
Tapi arus nakal,
ia membawa namamu kembali ke kakiku.
Aku berlutut,
mencoba melepaskan,
namun sungai itu berkata:
“Beberapa nama memang ditakdirkan
untuk kembali melukai.”

Senja yang Menolak Tidur

Senja berlama-lama di ufuk,
seakan menolak jadi malam.
Aku tahu kenapa:
senja takut pada mimpi buruk
yang selalu datang
ketika engkau hilang dari ranjangku.

Tulang Kesedihan

Aku menggali tubuhku sendiri,
menemukan tulang-tulang kesedihan.
Mereka berderak,
seperti gamelan tua yang retak.
Aku mengikatnya menjadi kalung,
dan memakainya dengan bangga.
Sebab kesedihan, bagaimanapun,
adalah perhiasan paling jujur.

Burung di Sangkar Kosong

Aku membeli sangkar,
tapi tak ada burung di dalamnya.
Hanya udara, hanya gema.
Orang-orang tertawa:
“Untuk apa sangkar tanpa isi?”
Aku menjawab:
“Sangkar ini adalah hatiku,
dan burung itu telah terbang
membawa seluruh hidupku.”

Bulan yang Membisu

Bulan menatapku,
tapi ia tak berkata apa-apa.
Ia hanya menggantung di langit,
seperti rahasia yang menolak terbuka.
Aku pun belajar darinya:
kadang lebih baik diam,
sebab kata-kata hanya memperparah luka.

Surat dari Abu

Aku menerima surat,
tapi kertasnya dari abu,
tulisannya dari asap.
Aku membaca dengan hati-hati,
dan menemukan pesan terakhir:
“Cinta telah terbakar habis,
jangan mencari lagi
di tempat api padam.”

Gerbang yang Tertutup

Aku berdiri di depan gerbang besi,
mengetuk, berteriak, memohon.
Tapi tak ada yang membukanya.
Barangkali di balik sana,
kau sedang tertawa,
atau barangkali kau sudah lupa
bahwa aku pernah punya kunci.

Kursi Kosong di Kafe Kota

Di kafe penuh lampu,
aku duduk sendiri.
Kursi di depanku kosong,
gelas di depanku kosong.
Pelayan bertanya,
“Apakah kau menunggu seseorang?”
Aku tersenyum getir:
“Ya, tapi ia sudah lama menjadi hantu.”

Luka yang Menyanyi

Aku mendengar suara,
rupanya berasal dari lukaku sendiri.
Ia menyanyi lirih,
lagu patah yang merdu.
Aku menutup telinga,
tapi suaranya menembus tulang.
Barangkali benar:
hanya luka yang mampu bernyanyi
tanpa pernah berbohong.

Jalan Tanpa Nama

Aku berjalan di jalan panjang ini,
tapi tak ada plang, tak ada tanda.
Hanya kabut, hanya sepi.
Setiap langkahku terasa salah,
tapi aku tetap maju—
sebab mundur berarti
kembali ke bayanganmu.

Langkah di Atas Abu

Kakiku menginjak abu cinta,
dan meninggalkan jejak yang rapuh.
Setiap langkah membuat dunia berdebu,
setiap tarikan napas membuatku batuk.
Tapi aku terus berjalan,
meski tahu:
tak ada jalan keluar dari kebakaran ini.

Kaca Pecah di Hati

Aku mencoba memelukmu,
tapi dadaku pecah jadi kaca.
Serpihannya menancap di tanganku,
darahku jatuh ke tanah.
Dan aku sadar:
mencintaimu sama dengan
menyentuh pisau yang tersenyum.

Senandung Kubur

Malam ini kuburan bernyanyi.
Mereka menyanyikan nama-nama
yang pernah mencinta dan binasa.
Aku berbaring di tanah,
mendengar lagu itu,
dan membiarkan namaku
ikut dilagukan.

Kota yang Tertidur Tanpa Lampu

Kota padam malam ini,
lampu-lampu lupa menyala,
dan jalanan menjadi nadi gelap.
Aku berjalan sendirian,
hanya suara kakiku menemani.
Aku tahu:
bahkan kota pun bisa jadi kuburan,
jika tak ada cinta yang menyinari.

Patung Tanpa Bayangan

Di alun-alun, patungmu berdiri tegak.
Tapi ketika matahari terbit,
tak ada bayangan jatuh.
Barangkali engkau sudah terlalu ringan,
atau terlalu hampa,
hingga dunia pun enggan
menggambarkanmu kembali.

Kupu-kupu dari Luka

Aku membiarkan luka di bahuku terbuka,
dan dari sana keluar kupu-kupu.
Sayapnya berwarna merah darah,
terbang rendah, berputar-putar.
Orang-orang bertepuk tangan,
tapi aku tahu:
itu hanya pertunjukan sedih
dari tubuh yang sudah terlalu letih.

Gereja yang Sunyi

Aku masuk ke gereja tua,
bangkunya penuh debu,
salibnya retak.
Tak ada doa, tak ada nyanyian. Hanya bisikan yang berkata:
“Cinta sudah lama pindah agama,
dan kini ia menyembah
kesedihan sebagai Tuhan baru.”

Buku Tua di Perpustakaan Jiwa

Aku menemukan buku tua
di rak paling sunyi di hatiku.
Halaman pertamanya wangi,
tapi halaman terakhirnya sobek,
basah oleh air mata.
Aku ingin menulis lanjutannya,
tapi pena sudah patah,
dan tintanya hanyalah darahku sendiri.

Lagu Tanpa Suara

Aku menggubah lagu untukmu,
tapi nadanya hilang di udara.
Orkestra kesepian hanya memainkan diam.
Dan diam itu, oh, lebih keras
daripada dentuman gendang dunia

Kereta Mayat Cinta

Di stasiun tua,
kereta berhenti.
Gerbong-gerbongnya berisi cinta yang mati,
dibungkus kain putih janji palsu.
Aku ikut naik,
duduk di kursi besi,
dan menyadari:
aku sendiri

Bulan yang Terbelah Dua

Malam ini bulan pecah,
terbelah jadi dua keping.
Satu keping jatuh ke dadaku,
membakar tulang rusukku.
Satu keping lagi jatuh ke kakimu,
dan engkau menginjaknya
tanpa rasa.

Pasar Gelap Kenangan

Aku kembali ke pasar itu,
menemukan pedagang yang sama.
Kini ia menjual kenangan
dalam botol kaca kecil.
Aku membeli satu,
membukanya di rumah,
dan menemukan wajahmu
tersenyum pahit.

Lukisan yang Membisu

Aku melukis wajahmu,
tapi kanvas menolak warnanya.
Kuas patah, cat mengering,
dan lukisan itu tetap kosong.
Mungkin wajahmu terlalu berat
untuk digambarkan,
atau terlalu samar
untuk dimiliki.

Rumah yang Menangis

Atap bocor, dinding retak,
lantai berderit setiap kali aku melangkah.
Aku tahu rumah ini lelah,
seperti aku.
Dan pada malam paling dingin,
aku mendengar ia berbisik:
“Pergilah, aku tak sanggup
menampung air matamu lagi.”

Api yang Tertidur

Aku menyalakan api di tungku,
tapi nyalanya malas.
Ia tidur sambil bermimpi,
dan hanya sesekali berkedip.
Aku ingin memeluk hangatnya,
tapi yang kudapat hanya abu dingin.

Hujan Batu di Kepala

Hari ini hujan turun,
tapi bukan air,
melainkan batu-batu kecil.
Kepalaku berdarah,
tapi aku tetap menengadah.
Sebab aku tahu:
setiap luka baru hanyalah
sajak tambahan untuk puisiku.

Senja yang Kehilangan Warna

Senja hadir,
tapi tanpa jingga,
tanpa merah, tanpa ungu.
Hanya kelabu,
seperti foto usang.
Aku pun duduk di bangku tua,
menjadi saksi senja
yang tak sanggup lagi berbahagia.

Patung Air Mata

Aku berdiri diam,
hingga tubuhku mengeras jadi batu.
Air mataku pun membeku,
menjadi ukiran di pipi.
Orang-orang datang,
memandangku,
mengira aku karya seni.
Padahal aku hanya manusia
yang terlalu lama menangis.

Doa yang Patah

Aku mengangkat tangan,
tapi doa berhenti di kerongkongan.
Setiap kata pecah,
jatuh jadi debu.
Langit menatapku dingin,
seakan berkata:
“Kami sudah bosan
dengan tangismu.”

Kuburan Kota

Kota ini penuh lampu,
tapi setiap lampu terasa nisan.
Jalanan ramai,
tapi setiap langkah terasa prosesi duka.
Aku berjalan di antara mereka,
dan merasa seperti
hantu yang ikut berbelanja.

Tangga yang Menuju Kosong

Aku menaiki tangga panjang,
anak tangganya berderit,
tapi tak ada ujung.
Aku terus naik,
dan terus naik,
hingga lelah menggerogoti lututku.
Tapi di atas sana,
tetap tak ada pintu.

Burung yang Tak Pulang

Burung terbang meninggalkan sarang.
Aku menunggu,
tapi ia tak kembali.
Aku tahu,
ia menemukan langit lain
yang lebih luas,
dan aku hanyalah ranting kering
yang membosankan.

Kuil Tanpa Dewa

Aku memasuki kuil,
tapi patung dewanya sudah hilang.
Hanya altar kosong,
ditemani lilin mati.
Aku berlutut,
dan berdoa pada kekosongan.
Entah kenapa,
kosong itu terasa lebih jujur
daripada Tuhan mana pun.

Cermin yang Buta

Aku berdiri di depan cermin,
tapi ia tak memantulkan apa pun.
Hanya gelap.
Aku mengetuk permukaannya,
tapi ia tetap menolak menampilkan wajahku.
Barangkali aku memang sudah tak ada,
hanya sisa bayangan
yang mencoba percaya masih hidup.

Gerimis dalam Lengan Baju

Aku berjalan di tengah gerimis,
tetesannya masuk ke lengan bajuku.
Rasanya dingin,
rasanya asing.
Aku merinding,
bukan karena basah,
melainkan karena tahu:
itulah cara dunia
menyusup ke tubuhku tanpa izin.

Katedral Api

Aku membangun katedral,
tapi dari api,
bukan dari batu.
Menaranya menjilat langit,
loncengnya berdentang dari bara.
Orang-orang masuk,
dan terbakar satu per satu.
Aku tersenyum pahit:
itulah ibadah paling jujur
kepada cinta.

Senja di Kuburan Puisi

Aku menulis puisi terakhir,
meletakkannya di atas nisanmu.
Senja menyelimuti kata-kata itu,
mewarnai dengan jingga yang muram.
Dan aku tahu,
setiap puisi hanya makam kecil
untuk cinta yang tak pernah selesai.

Pohon yang Menangis Darah

Di hutan sunyi,
aku menemukan pohon yang berdarah.
Batangnya retak,
cairan merah merembes keluar.
Aku menempelkan telingaku,
dan mendengar namamu
mengalir di dalamnya.

Rumah Sakit Luka

Aku masuk ke rumah sakit,
tapi pasiennya bukan manusia,
melainkan luka-luka yang berjalan.
Mereka berbaris,
menunggu giliran dijahit.
Aku duduk di antara mereka,
menyadari:
akulah luka paling kronis
yang tak bisa disembuhkan.

Pasar Gelap Air Mata

Air mata dijual botolan,
ada yang murah, ada yang mahal.
Aku membeli satu,
dan menelannya.
Rasanya asin, pahit,
dan anehnya,
justru membuatku ketagihan.

Langit yang Tak Mau Membuka

Aku menunggu fajar,
tapi langit tetap tertutup.
Awan menolak pecah,
matahari menolak lahir.
Aku tahu:
pagi pun bisa berhenti,
jika terlalu letih menonton kesedihan.

Taman Batu

Aku berjalan di taman ini,
tapi tak ada bunga,
tak ada pohon.
Hanya batu-batu,
berdiri seperti penonton yang bisu.
Aku duduk di salah satunya,
dan merasa:
akulah batu paling keras
di antara mereka.

Kitab Kesedihan

Akhirnya sampai di sini,
seratus bab,
seratus luka,
seratus doa yang patah.
Aku menutup kitab ini
dengan air mata terakhir.
Dan aku tahu:
cinta bukanlah bahagia,
cinta adalah cara paling indah
untuk memeluk kesedihan
hingga ajal menjemput.

Sumatera Barat, Indonesia 2025.