May 10, 2026
WhatsApp Image 2026-05-08 at 09.43.39

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Penurunan tersebut mudah diukur dalam statistik kejahatan, anak-anak tanpa ayah, rusaknya kepercayaan, berkurangnya kesempatan dan hasil pendidikan.“ — Francis Fukuyama(73), The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order(1999).

Fenomena pelantikan profesor di perguruan tinggi sering kali dipandang sebagai puncak prestasi akademik.

Namun, ketika jumlah gelar profesor bertambah tanpa diiringi kualitas riset dan pendidikan yang memadai, muncul pertanyaan kritis: apakah gelar itu benar-benar mencerminkan integritas pengetahuan, atau sekadar simbol status?

Di Universitas Sam Ratulangi, misalnya, kemarin(7/7/26), pelantikan 15 profesor dari lima fakultas disambut dengan pidato penuh kebanggaan.

Sang rektor, Prof. Berty Sompie, menegaskan bahwa „gelar guru besar adalah amanah besar, panutan, dan penjaga integritas.“

Juga, dari podium auditorium sang rektor berseru:

“Gelar Guru Besar bukan sekadar pengakuan, melainkan amanah besar. Seorang profesor harus menjadi panutan, sumber ilmu, dan penjaga integritas bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas,”

Akan tetapi, di balik retorika itu, banyak pihak menyadari bahwa surplus gelar tidak sejalan dengan kualitas output akademik.

Untuk refleksi kritis ini, rentangkan imajinasi kita ke abad-19 dengan bentangan „nexus“ abad-21.

Sastrawati asal Inggris, Charlotte Brontë dalam novelnya The Professor(1857) sudah lama menangkap dan menyingkap paradoks ini.

Melalui tokoh William Crimsworth, ia menyoroti bagaimana gelar profesor bisa menjadi alat legitimasi yang menutupi ambisi pribadi dan kepalsuan.

William dengan tajam menyindir bahwa “a professor’s title may gild mediocrity, but it cannot conceal it.”

Kritik ini relevan hingga kini, karena menunjukkan bahwa gelar akademik tidak otomatis menjamin integritas atau kebijaksanaan.

Brontë, yang pernah mengalami dunia pendidikan di Brussel, melihat langsung bagaimana otoritas akademik bisa dipakai secara manipulatif.

Novel ini menjadi refleksi bahwa nilai sejati seorang pendidik bukan pada gelarnya, melainkan pada ketulusan dan integritas dalam mengajar.

Namun kelak, lebih dari satu abad kemudian, Tom Nichols dalam The Death of Expertise(2017), kembali mengungkit problem yang sama dalam konteks modern.

Ia menulis dengan nada prihatin: “Never have so many people had access to so much knowledge, and yet been so resistant to learning anything.”

Kutipan ini menyoroti paradoks zaman digital, di mana informasi melimpah tetapi sikap terhadap pengetahuan justru semakin menurun.

Nichols mengurai bahwa masyarakat kini semakin sinis terhadap para profesor, bahkan ketika mereka memiliki kredensial akademik yang kuat.

Gelar profesor dianggap surplus, tidak relevan, dan gagal mencerminkan kualitas pendidikan.

Lebih jauh, ia mengkritik dunia pendidikan tinggi yang berubah menjadi model “pelanggan selalu benar,” melahirkan generasi yang percaya diri dengan pengetahuan dangkal, sekaligus meremehkan otoritas akademik.

Dari kedua rujukan ini, Brontë dan Nichols, menunjukkan kesinambungan kritik terhadap surplus gelar akademik yang tidak sejalan dengan kualitas pengetahuan.

Brontë menyingkap tabir kepalsuan gelar profesor dalam dunia pendidikan abad ke-19.

Apalagi, gelar profesor ketika itu disematkan pada iklim dunia pendidikan.

Dalam arti, kata ini berakar dari Latin profiteri, yang berarti “menyatakan secara terbuka, mengakui, atau bersaksi.”

Dari akar kata tersebut lahirlah bentuk professus(yang telah menyatakan), lalu menjadi professor sebagai sebutan bagi seseorang yang secara publik mengaku atau menunjukkan keahliannya dalam ilmu atau seni tertentu.

Sementara, Nichols, profesor emeritus di U.S. Naval War College, mengingatkan bahaya anti-intelektualisme di abad ke-21.

Keduanya menegaskan bahwa gelar profesor bukan sekadar simbol status, melainkan harus menjadi representasi komitmen terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam.

Tanpa itu, surplus profesor hanya akan melahirkan defisit pengetahuan sebagai sebuah ironi yang merusak integritas perguruan tinggi.

#coversongs:
Gaudeamus Igitur(Live) oleh Radityo Prakoso bersama Maple Orchestra dan Pacemaker Choir dirilis pada tahun 2019 sebagai bagian dari konser Afcc-Asmiha 2019 Live Performance.

#credit foto diunggah dari beritamanado.com dan diubah dalam duplikat sketsa dengan bantuan AI.