KETIKA SUARA DAN ARUS ITU DATANG LAGI
Illustrasi Cerpen Karya Leni Marlina "Ketika Suara dan Arus Datang Kembali". Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 31_05122025 & IG@lenimarlina_starmoonsun.
Cerpen oleh Leni Marlina
–
Hujan turun sejak Subuh, seperti seseorang yang menumpahkan seluruh isi dadanya di atas atap-atap kampung. Tidak deras pada awalnya—hanya renyai, seperti bisik-bisik kecil yang malu-malu mencari celah. Namun menjelang siang, langit mulai mengeras. Warna birunya hilang, ditelan abu-abu pekat yang membuat perasaan orang-orang di Sungai Tuo mengecil tanpa sebab.
Nadra, perempuan empat puluh lima tahun yang rambutnya selalu digulung seadanya, menutup warung kopinya lebih awal. Biasanya ia masih melayani para pekerja yang baru pulang dari projek perbaikan jalan dekat jembatan. Namun sore itu, udara seperti mengirim tanda-tanda yang tak bisa ia abaikan.
“Ada rasa macam dulu,” gumamnya sambil menurunkan tirai bambu. “Rasa yang tak enak.”
Putranya, Ardan, baru berusia lima belas tahun. Ia duduk di kursi panjang, pisang goreng tersisa separuh di piringnya.
“Rasa apa, Mak?” tanyanya.
Nadra tak menjawab. Sebagai perempuan yang kehilangan suami dalam banjir bandang tujuh tahun lalu, ia tidak punya kata yang cukup untuk menjelaskan firasat. Firasat baginya adalah suara: suara samar dari masa lalu yang kembali memanggil lewat bau tanah yang makin berat.
Magrib datang, tetapi langit tidak menyalakan warna apa pun. Gelap turun begitu saja, seperti tirai besar yang jatuh tanpa aba-aba. Hujan yang sejak sore hanya deras, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih liar. Angin memutar, membawa suara gemuruh yang tidak biasa.
Ardan berdiri di teras, memandang ke arah hulu. “Mak, itu suara apa?”
Nadra keluar, memegang lengan anaknya.
Hening lima detik.
Sepuluh detik.
Lalu suara itu datang—pelan, rendah, tetapi tegas. Guruh yang merangkak, begitu dulu almarhum suaminya menggambarkan suara banjir bandang. Suara yang berbeda dari guntur. Ada ritme air yang berkejaran, ada gema dari batang-batang besar yang terbawa arus, ada sesuatu seperti ribuan kaki yang berlari sekaligus.
Nadra mengangkat dagu Ardan, memaksanya menatap mata ibunya.
“Lari,” katanya. “Sekarang.”
“Mak—”
“LARI!”
Mereka berdua bergegas ke arah bukit kecil di belakang kampung. Hanya butuh lima menit untuk mencapainya dalam keadaan normal, tetapi saat tubuh diburu gemuruh dari hulu, lima menit berubah seperti usaha memindahkan gunung.
Suara air semakin jelas—bukan lagi gemuruh, tetapi dentuman.
Ketika mereka sampai di batu besar di kaki bukit, Nadra menoleh ke rumah-rumah di pinggir sungai. Lampu-lampu masih menyala. Ia menjerit memanggil nama tetangganya, tetapi suaranya tenggelam oleh deru raksasa yang kini hanya beberapa meter.
Ardan memeluk ibunya. “Mak, kita naik lagi.”
Tapi Nadra terpaku. Di antara gelap dan hujan, ia melihat sesuatu yang membuat lututnya melemah: rumah papan yang pernah ia bangun bersama suaminya—rumah tempat Ardan belajar berjalan—ditelan air hitam dalam satu tarikan.
“Lepaskan, Mak!” Ardan menarik bahunya, memaksa ibunya kembali ke langkah.
Nadra akhirnya bergerak. Mereka mendaki sedikit lagi. Gelombang pertama meluncur, menghantam pohon-pohon, membawa lumpur penuh kayu, dan suara-suara aneh: suara lembaran seng, suara piring pecah, suara kambing yang menjerit, suara seseorang memanggil Allah berkali-kali sebelum tersedak oleh arus.
Ardan menutup telinganya. “Mak, jangan lihat!”
Tapi Nadra tetap melihat. Air itu mengingatkannya pada malam ketika suaminya hilang. Sama persis. Sama gelapnya, sama tidak memberi peluang.
Dia menangis tanpa suara.
Air bah itu berlangsung hanya sekitar sepulu menit. Tapi sepuluh menit yang mampu mengubah peta kampung, sejarah keluarga, dan nyawa siapa pun yang terlambat dua langkah.
Ketika air surut sedikit—cukup untuk memperlihatkan bencana tanpa menenggelamkan semuanya—Ardan meraih tangan ibunya.
“Mak… kita harus turun bantu.”
Nadra mengangguk meski tubuhnya gemetar. Keduanya berjalan perlahan, melewati lumpur setinggi betis. Bau tanah bercampur solar. Pohon aren tumbang menutupi jalan. Sapi-sapi melenguh menjerit ketakutan. Orang-orang berteriak memanggil nama keluarga seperti memanggil sesuatu yang hilang di gua.
Di depan mushala, seorang lelaki tua duduk sambil memeluk tubuh cucunya yang tak bergerak. Ia tidak berteriak. Ia hanya menyanyikan salawat lirih, seperti menidurkan bayi.
Ardan menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang ingin pecah.
“Mak, apa air bisa punya dendam?” tanyanya.
Nadra menggeleng pelan. “Air tak pernah berdendam, Nak. Ia hanya kembali mencari jalannya… karena kita telah menutup terlalu banyak jalan.”
Mereka berjalan terus. Suara orang-orang saling memanggil menggantung di udara, seperti gema yang tak pernah menemukan jawabannya.
Di ujung kampung, Nadra tiba-tiba berhenti. Ia mendengar sesuatu—suara yang sangat kecil, hampir seperti rintik hujan di daun pisang.
“Mak?”
Nadra mengangkat tangannya, meminta Ardan diam. Suara itu datang lagi. Suara seorang anak kecil. Di antara reruntuhan dinding rumah yang sudah menjadi lumpur, terdengar napas yang terputus-putus.
Nadra berlari, menyingkirkan pecahan kayu, seng, dan pakaian basah yang menempel seperti kulit kedua. Ia menemukan seorang bocah perempuan berusia sekitar empat tahun, tubuhnya terjepit di antara dua kasur tipis yang terlipat.
“Ardan! Tolong Mak!”
Ardan membantu mengangkat kasur itu. Bocah itu masih hidup. Matanya terbuka sedikit, bibirnya biru, tetapi ia menggerakkan jarinya.
“Siapa namamu?” tanya Nadra, suara bergetar.
Bocah itu tak menjawab, hanya menatap Nadra seperti seseorang yang baru bangun dari mimpi buruk.
Nadra memeluknya, memindahkan tubuh kecil itu ke dadanya. Air mata mengalir tanpa ia sadari.
“Mak,” kata Ardan perlahan. “Ayah pasti bangga.”
Nadra mengusap kepala bocah itu sambil memeluknya lebih erat, seperti memeluk kesempatan kedua yang tidak ia dapatkan tujuh tahun lalu.
“Bukan soal bangga, Nak. Ini… ini tentang tak membiarkan suara kecil seperti ini hilang tanpa ada yang mencarinya.”
Di kejauhan, suara orang-orang masih memanggil nama-nama yang hilang. Banjir telah pergi, tetapi gema suaranya tinggal—menggantung di langit yang masih abu-abu.
Dan malam itu, di tengah kampung yang luluh lantak, Nadra akhirnya memahami sesuatu: bahwa tidak semua suara berasal dari mulut manusia. Ada suara-suara yang datang dari ingatan, dari kehilangan, dari ketakutan yang sudah lama disimpan, dan dari keberanian yang selama ini tidak ia sadari.
“Mak…” ujar Ardan pelan, “Langit masih berat.”
Nadra mengangguk, menatap langit gelap yang seperti sedang berpikir ulang. Ia merapatkan selimut basah di sekitar tubuh bocah kecil itu.
“Ayo, Nak… kita cari yang masih hidup.”
Dan mereka pun melangkah—menyusuri kampung yang berubah menjadi lautan lumpur—mencari suara-suara yang masih ingin ditemukan.
(Padang, Sumbar, 2015 & 2025)