Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Menyambut Kelahiranmu”
Ilustrasi kumpulan puisi Leni Marlina: “Menyambut Kelahiranmu” Sumber gambar: Starcom Indonesia's cover No. 50.26012026–LM.
/1/
Sebelum Kelahiranmu
Puisi: Leni Marlina
–
Sebelum kelahiranmu,
sebelum engkau diberi nama,
dunia sudah lama menunggu.
Sunyi melipat waktu
seperti kain putih
yang belum tahu
akan menjadi apa.
Kami berdiri di ambang itu,
antara hidup yang telah kami habiskan
dan hidup yang belum berani kami sentuh.
Tidak ada sorak.
Hanya napas yang diturunkan pelan,
agar keberadaan
tidak terkejut oleh dirinya sendiri.
Di sana kami mengerti:
kelahiran bukan perayaan,
melainkan keputusan sunyi
semesta
untuk kembali percaya
pada manusia.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/2/
Menyambut Kelahiranmu
Puisi: Leni Marlina
–
Tanganku pernah percaya
bahwa tugasnya selesai,
keriputnya terlalu dalam
untuk memegang masa depan.
Lalu engkau diletakkan
di lengkung lenganku,
dan tubuhku
mengingat sesuatu
yang tak pernah diajarkan kata.
Hangatmu
bukan sekadar hangat:
ia waktu yang mencair,
mengalir pelan di tulang-tulangku,
membuat usia
kehilangan beratnya.
Aroma kepalamu
bukan bau bayi.
Ia aroma awal dunia,
bau doa yang diucapkan pelan
agar semesta tidak terkejut,
membuat dadaku bergetar
seolah aku baru saja
dilahirkan kembali.
Kulitmu menyentuhku,
dan sentuhan itu
membuka laci-laci lama
di tubuhku:
tempat lelah disimpan,
tempat sabar disembunyikan,
tempat rindu belajar bertahan.
Mataku menatapmu,
dan untuk pertama kalinya
melihat tanpa ingin memiliki.
Cinta, rupanya,
bisa begitu dewasa:
hadir tanpa tuntutan,
tinggal tanpa suara.
Jika suatu hari
napasku mencapai penghujung usia,
dan namaku mulai terhapus
dari ingatan dunia,
ingatlah ini, wahai malaikat kecilku:
tubuhku pernah hidup lama sekali
hanya agar bisa
menjadi tempat singgah
bagi napas kelahiranmu.
Aku tidak menitipkan mimpi.
Aku menitipkan ketenangan.
Sebab dunia akan keras,
dan kau perlu tahu:
selain cinta Ayah dan Ibumu,
ada sepasang tangan
yang mencintaimu
tanpa ingin kembali disebut,
akan menyerahkan separuh napasnya
agar engkau kelak tumbuh
menjadi manusia
yang peduli,
dan tahu cara menjaga hati nurani.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/3/
Ketika Dirimu Datang ke Dunia
Puisi: Leni Marlina
–
Engkau datang ke dunia,
dan hidup seolah berhenti berlari.
Segala yang dulu ingin cepat
belajar menunggu
di ambang napasmu.
Kami menata ulang hari
dengan tangan gemetar yang lembut—
bukan karena lemah,
melainkan karena kini
ada yang terlalu berharga
untuk disentuh sembarangan.
Di wajahmu,
kami melihat dunia
sebelum ia menjadi keras.
Dan untuk pertama kalinya,
kami ingin menjaga sesuatu
tanpa ingin menguasainya.
Sejak itu kami tahu:
menjadi manusia
bukan tentang sampai,
melainkan tentang berjalan pelan,
agar yang rapuh
tidak tertinggal.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/4/
Dijaga Cinta
Puisi: Leni Marlina
–
Kami tidak menjanjikan
langit yang selalu cerah.
Kami hanya menjanjikan
bahu yang tinggal
saat hujan datang.
Tidurmu mengingatkan kami
arti berjaga:
bukan melawan gelap,
melainkan memastikan
ia tidak sendirian.
Ada banyak hal
yang tak bisa kami cegah.
Namun cinta
mengajari satu kebijaksanaan kecil:
selalu ada pilihan
untuk tidak menambah luka.
Jika kelak dunia bertanya
siapa yang berdiri di sisimu,
biarlah jawabannya sederhana:
manusia-manusia
yang memilih tinggal,
meski tak sempurna.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/5/
Kemanusiaan yang Kecil dan Setia
–
Puisi: Leni Marlina
Engkau tidak lahir
untuk menyelamatkan dunia.
Cukuplah engkau hidup
tanpa mengeras
oleh kebencian yang diwariskan.
Kami tidak menaruh beban
di pundak kecilmu.
Hanya satu harap yang tenang:
agar hatimu tetap lapang
saat dunia menyempit.
Jika suatu hari
engkau lelah menjadi baik,
ingatlah ini:
kebaikan tidak selalu keras
kadang ia hanya
kesediaan untuk memahami.
Dan jika kelak kami tiada,
biarlah yang tertinggal
bukan nama atau cerita,
melainkan jejak sunyi:
bahwa pernah ada cinta
yang memilih manusia
sebagai rumahnya.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/6/
Sejak Kelahiranmu di Rumah ini
Puisi: Leni Marlina
–
Kami dulu hanya
struktur.
Tempat cuaca singgah,
tempat suara berlalu,
tempat manusia sementara.
Lalu napasmu datang,
dan kami, rumah,
kehilangan definisi awal.
Tangismu tidak mengisi ruang;
ia mengubah fungsi.
Fondasi kami bergeser sedikit,
bukan karena lemah,
melainkan karena dunia
perlu memberi jalan.
Cahaya kami ajarkan menunggu.
Udara kami saring
agar tak tergesa
menyentuh paru-parumu.
Bahkan bayangan
kami rapikan,
tak ingin jatuh sembarangan
di tubuhmu.
Aroma tubuhmu
bukan bau.
Ia alamat.
Sejak itu,
ingatan memilih menetap,
dan rumah berhenti
menjadi tempat singgah.
Jam tetap berdetak,
namun setiap detik
kini berarti jaga.
Hari-hari menanggung beban baru:
tidak boleh ceroboh.
Kami menua
dengan kesadaran penuh.
Sebab lebih baik
kami yang lapuk lebih dulu
daripada engkau
belajar tentang luka.
Lekaslah besar,
wahai malaikat kecil.
Sejak engkau ada di rumah ini,
kami bukan sekadar bangunan.
Kami adalah keberpihakan
yang diam-diam
memilih hidupmu.
–
Melbourne, Australia, 2013
/7/
Ruang Cinta
Puisi: Leni Marlina
–
Kelak,
saat suara kami semakin tipis
dan langkah kami tak lagi tergesa,
jangan cari kami
di dalam kenangan.
Kami tidak ingin tinggal
sebagai cerita,
melainkan sebagai jeda.
Jika suatu hari
engkau memilih menahan tangan
alih-alih melukai,
jika engkau tahu
kapan harus tinggal
dan kapan harus pergi,
di sanalah
penjagaan itu
menemukan maknanya.
Sebab cinta,
pada akhirnya,
tidak ingin dikenang.
Ia hanya ingin
menjadi ruang
agar manusia lain
tetap manusia
sampai penghujung usia.
–
Melbourne, Australia, 2013
————–

Tentang Penyair – Leni Marlina:
Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan sejak tahun 2000 berdomisili di Padang, Sumbar. Leni merupakab penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).
Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.
Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.
Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah mengantarkannya menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta diberikan penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).
Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus diamanahkan sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.