January 31, 2026

Menguliti Integritas Siswa MAN Sawahlunto dalam SAS Berbasis Digital Menggunakan Gesschool

IMG-20251209-WA0000

Menguliti Integritas Siswa MAN Sawahlunto dalam SAS Berbasis Digital Menggunakan Gesschool

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar

Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, MAN Kota Sawahlunto mengambil langkah berani: menguji karakter, menakar kejujuran, dan mengukuhkan integritas melalui pelaksanaan Sumatif Akhir Semester (SAS) berbasis digital menggunakan platform Gesschool. Di era ketika teknologi hadir bukan saja sebagai alat bantu, namun sebagai ruang nilai dan budaya, madrasah ini mencoba membuktikan bahwa moralitas dan integritas tidak boleh tumbang oleh kecanggihan fasilitas.

Pelaksanaan SAS digital bukan sekadar memindahkan soal dari kertas ke layar. Ia adalah cermin besar yang memantulkan kualitas diri peserta didik apakah mereka teguh dalam kejujuran, atau sekadar terjebak dalam kilau kemudahan teknologi. Di balik setiap klik jawaban dan setiap detik pengerjaan, tersimpan jejak sikap yang jauh lebih penting dari sekadar nilai akademik: nilai amanah.

Gesschool hadir sebagai ruang yang transparan; ia mencatat aktivitas siswa, memotret pola pengerjaan, dan menyingkap halus setiap anomali yang berpotensi menggerus integritas. Namun pada akhirnya, pengawas ruang yang teliti dan siswa yang berjiwa jujur menjadi pilar utama yang menjaga marwah ujian. Teknologi hanyalah penjaga tepi sementara pondasi utamanya tetap berada pada hati.

Dalam berbagai ruang ujian, penulis menyaksikan denyut kejujuran itu bekerja. Ada siswa yang memandang layar dengan penuh kesungguhan; ada pula yang menunduk sejenak, merapal doa agar hasil yang muncul adalah buah dari usaha, bukan rekayasa. Di beberapa wajah, tampak kecemasan yang wajar bukan karena takut nilai rendah, tetapi takut mengkhianati diri sendiri. Itulah integritas yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.

Pelaksanaan SAS berbasis digital juga menjadi arena pembelajaran karakter:

bahwa kejujuran adalah cahaya paling terang,

bahwa nilai adalah cermin usaha,

bahwa hidup tak memberi jabatan pada mereka yang memoles curang.

Madrasah memaknai SAS bukan sekadar penutup semester, tetapi sebagai ritus intelektual dan moral. Ia adalah momentum untuk memastikan bahwa anak-anak kita siap menjadi generasi yang tidak hanya pintar memecahkan soal, tetapi juga piawai menjaga diri dari kerapuhan moral dunia digital.

Di tengah tantangan itu, guru, pengawas, dan tim teknis bekerja dalam satu irama. Penulis yang juga pimpinan madrasah memastikan bahwa koneksi stabil, perangkat berfungsi, dan lingkungan kondusif. Namun lebih dari itu, kami memastikan bahwa budaya jujur yang selama ini dibina tetap menjadi “ruh” dalam setiap pelaksanaan ujian. Integritas tidak dibangun dalam sehari ia adalah pohon yang tumbuh dari kebiasaan baik yang disiram secara terus-menerus.

Hari ini, ketika Gesschool berjalan mulus di tangan siswa MAN Sawahlunto, penulis tak hanya menyaksikan kecanggihan digital, tetapi juga tenggelam dalam keindahan akhlak peserta didik. Mereka menunjukkan bahwa di balik gawai yang cerdas, ada hati yang lebih cerdas; di balik aplikasi yang kuat, ada prinsip yang jauh lebih kuat.

Integritas bukan sekadar konsep dalam buku. Ia hidup di ruang-ruang ujian itu.

Ia berdenyut dalam kesadaran anak-anak kita.

Ia tumbuh dalam ekosistem yang kita bangun bersama.

Semoga pengalaman SAS berbasis digital ini menjadi pijakan kokoh bagi lahirnya generasi madrasah yang berkarakter tangguh: jujur dalam pikiran, bersih dalam tindakan, dan mulia dalam harapan. Madrasah bukan hanya tempat belajar ia adalah ruang menempa jiwa.

Dan di MAN Sawahlunto, integritas itu telah kita lihat, kita jaga, dan kita buktikan.