MUTIARA HATI
Anto Narasoma
LUMUT DAN KEBUSUKAN HATI
JIKA “penyakit hati” sudah merajalela di dalam diri, maka yang ada hanyalah keangkuhan dan kesombongan yang menjadi raja.
Sikap inilah yang selalu merajalela dan kerapkali menjadi “senjata buruk” untuk merendahkan orang lain, sehingga di dalam diri ini hanya akulah “raja” dan paling hebat dari siapa pun.
Kesombongan dan keangkuhan semacam ini sangat dibenci siapa pun. Sebab, kesombongan yang kerapkali muncul di dalam diri manusia itu merupakan “penyakit hati” yang merusak nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam diri kita.
Pernyakit hati, atau morbus animi bisa merujuk pada sikap busuk yang memunculkan sikap iri, dengki, sombong, dan angkuh. Apabila ada orang lain yang tampak ada kelebihan dalam bidang apapun, maka yang muncul di dirinya adalah iri hati, kebencian, dan kemarahan.
Sikap busuk invidia ini harus kita perhatikan agar tidak “meracuni”‘ perilaku kita sebagai manusia yang dimuliakan Allah SWT.
Itu merupakan laknatullah yang mengacu bagi kesombongan individu. Ini yang perlu kita perhatikan secara spesifik.
Memandang tumbuhan lumut yang tumbuh merangkak di batas ketinggian telapak kaki, sangat menyentuh hati. Sebab, sebagai divisi tumbuhan yang tak berpembuluh itu, biasanya muncul di ruang-ruang lembab.
Seperti tumbuhan lumut hati (hepatophyta) dan lumut daun (bryophyta sensu stricto) sangat berperan penting sebagai ekositem produsen dan penyerap genangan air.
Meski tumbuh dengan ukuran rendah di bawah telapak kaki manusia, sebagai tumbuhan bryophita fungsinya sangat luar biasa bagi siklus untuk mengatasi genangan air di dalam kehidupan ini.
Jika kita bandingkan dengan tumbuhan kelapa, mangga, atau pohon jati, ketinggian lumut tak ada artinya sama sekali.
Ketiga pohon itu tumbuh begitu tinggi dan terkesan sangat perkasa, besar, serta memiliki tulang (kayu) yang kokoh dan kuat.
Sedangkan lumut, tak ada artinya sama sekali ketika kita bandingkan dengan tahapan tumbuh dan perkembangan dari pohon kelapa, pohon mangga, dan pohon jati.
Namun ketika kesombongan nenguasai hati dan pikiran kita, manusia menjadi lupa bahwa sesuatu yang kecil justru merupakan bentuk yang tertinggi dibanding ketinggian yang terlihat di maka kita. Benarkah itu?
Filosofis seperti ini memang harus kita dalami agar kita dapat menyadari bahwa kerendahan sesuatu bisa berada dalam ketinggian yang tak masuk di akal kita. Masya Allah !
Pohon kelapa, jati, dan pohon mangga, secara logika memang tumbuh jauh lebih tinggi dibanding lumut. Bahkan lumut tak ada artinya sama sekali.
Namun ketika kita kaji secara ilmiah, ternyata ketiga pohon tersebut tak ada artinya dibanding posisi tumbuhnya lumut.
Jika kita kaji secara filosofis, ternyata prinsip pemikiran kita akan dibawa ke level yang tak masuk akal. Bagaimana lumut bisa dikatagorikan sebagai tumbuhan “paling tinggi” dibandingkan pohon kelapa, mangga, dan pohon jati? Yah, ini yang patut kita kaji secara filosofis.
Apabila kita bertamasa ke bukit Himalaya, pemandangannya begitu luar biasa. Dalam tugas jurnalistik di surat kabar Sumatera Ekspres, saya pernah ditugaskan ke China dan India pada tahun 2002.
Saat saya berkunjung ke kawasan wisata Bukit Himalaya, ternyata tak ada tumbuhan pohon kelapa, pohon jati, dan pohon mangga.
Pada dinding bukit, yang tumbuh hanyalah lumut dan tubuhan jenis bryophyta sensu stricto. Pikiran saya pun mulai berkelana jauh antara perbandingan lumut dan ketiga pepohonan tersebut.
Dari hasil investigasi spiritualitasku, ternyata kita tidak boleh merendahkan sesuatu yang berdiri paling rendah dibanding pepohonan setinggi kelapa.
Itu artinya, ketika kita merendahkan posisi seseorang, suatu ketika kita akan menyadarinya bahwa ia justru jauh lebih tinggi dibandingkan posisi kita. Mengapa begitu?
Yah, itulah lumut. Tanaman yang tumbuhnya hanya merangkak di berbagai sisi lantai yang basah, bisa tumbuh di ketinggian dinding bukit (Himalaya) yang diliputi awan di sepanjang pandangan kita.
Sementara sosok pohon kelapa, pohong mangga, dan pohon jati tak mampu tumbuh di atas ketinggian itu.
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa setinggi-tingginya pohon kelapa, ternyata jauh lebih tinggi tumbuhnya tanaman lumut yang merayap di dinding Bukit Himalaya.
Andaikan kita kembali ke karakter pribadi, ternyata kita ini tak ada artinya dibanding teladan alam yang membandingkan tumbuh-kembangnya lumut dan pepohonan bertulang kayu.
Secara personal, kita diajarkan untuk tidak merendahkan sesuatu yang terlihat rendah. Sebab di suatu ketika nanti, kita akan melihat dia berada di posisi jauh di atas kita.
Maka terkait soal itu, ternyata kesombongan bisa diartikan sebagai “superbia” yang merujuk pada penyakit hati (iri dan dengki), dan dapat memelihara sikap pemarah yang dibenci Allah SWT. (*)
Palembang, 23 Februari 2026