April 3, 2026

MUTIARA HATI : SUARA AZAN YANG MENGGETARKAN JIWA

f8803534-c487-4510-ae53-85ae9c29fff8_11zon

Anto narasoma

SUARA azan dari masjid kecil di seberang jalan desa itu, begitu menggetarkan jiwaku.

Si muazin memiliki suara yang begitu indah, dengan frekuensi getaran yang tertata dengan irama yang menyejukkan. Irama dan lafal ucapannya membuat diriku tergetar dan terpanggil untuk salat subuh.

Harus diakui, secara psikologis, suara azan memiliki efek penenang jiwa dan menyegarkan perasaan dan pikiran secara religiusitas.

Wajar apabila Rasulullah SAW mendelegasikan sahabatnya bernama Bilal, seorang sahabat nabi berkulit hitam dan bersuara emas untuk menyenandungkan azan disaat menjelang salat.

Disaat Bilal melantunkan azan, semua jemaah terpesona, seolah-oleh mereka diajak berkelana ke ruang-ruang taman yang begitu menawan di altar cuaca surgawi.

Secara psikologis, suara azannya mampu membangun efek nada yang menyegarkan jiwa setiap orang.

Suara Bilal yang begitu indah –dapat dikaitkan dengan konsep suara Auditory Scene Recognition (ASR). Yakni, kemampuan otak untuk mengenali dan memproses suara-suara yang begitu dekat ke hati, serta begitu familiar.

Suara-suara azan yang familiar dapat memicu respons relaksasi dan kenangan yang begitu dekat du benak kita.

Sebab, otak kita mampu mengasosiasikan suara tersebut dengan ketenangan yang menyamankan perasaan.

Harus diakui bahwa suara azan memiliki efek spititual yang mempengaruhi frekuensi emosional secara pribadi, terutama bagi seorang muslim.

Sebab, dari getaran irama dan frekuensi suara azan tersebut, mampu memicu ketakwaan dan teramat dekat dengan diri kita sendiri dan Allah SWT. Dengan demikian jiwa seorang muslim mampu membamgun keteangan jiwa disaat memasuki dunia ketakwaan kepada Allah SWT. (*)

Palembang, 23 Februari 2026