March 3, 2026
ChatGPTImage2Mar202614.38.2

MONOLOG
Oleh Ilhamdi Sulaiman

(Panggung minim cahaya. Satu bangku. Satu lampu spotlight. Tokoh masuk perlahan, membawa ponsel. Ia duduk, membuka ponsel, lalu mengangkat wajah ke arah penonton.)

TOKOH

Negeri ini… bukan lagi negeri pemikir.
Tapi negeri komentator.

Semuanya punya suara.
Semuanya merasa harus bersuara.

Tentang bola, ekonomi, politik, bahkan soal bentuk awan di langit.
Apa saja bisa jadi bahan omongan.
Dan yang tak ikut komentar… dianggap nggak gaul, nggak peduli, atau lebih para di bilang ngak up date.

(Bangkit, mulai berjalan pelan.)

Warung kopi jadi ruang debat.
Grup WhatsApp jadi ruang sidang.
Media sosial?
Hah. Itu mah sudah kayak meja persidangan raksasa.

Setiap orang merasa punya palu hakim.
Tinggal ketuk: bersalah!

(Menatap penonton.)

Dan kemarin, giliran si mantan presiden.
Katanya… ijazahnya palsu.

Langsung geger.
Viral.
Diposting, dikomen, dibedah…

Tanda tangan dicocokkan.
Foto kampusnya dibongkar.
Sampai bentuk kop surat pun diselidiki.

(Nada suara meninggi, mengejek.)

“Ini bukan font zaman itu!”
“Logonya beda!”
“Aku punya sumber!”
“Aku punya feeling!”

Feeling, saudara-saudara!
Negeri ini lebih percaya feeling ketimbang bukti!
Lebih percaya video TikTok daripada dokumen resmi.
Lebih percaya komentar netizen daripada akal sehat.

(Kembali duduk. Letih.)

Presiden itu diam.
Entah karena tenang… atau pasrah.
Tapi siapa yang peduli?

Di sini, diam berarti bersalah.
Membela berarti penjilat.
Netral? Ah, pengecut.

(Pelan, penuh getir.)

Satu ijazah bisa menghancurkan satu nama.
Satu potongan gambar bisa membakar seluruh masa lalu.
Satu komentar bisa jadi awal persekusi.

(Bangkit lagi. Menatap penonton dengan tajam.)

Karena di negeri ini…
Komentar adalah panglima.
Viral adalah kebenaran.

Dan kita, aku, kamu, kalian semua
tanpa sadar sudah jadi pasukan yang sibuk bersuara,
tanpa sempat mendengar.

(Diam sejenak. Ponsel dimatikan. Cahaya redup.)

Semua merasa paling benar.
Padahal mereka cuma diperalat.

Karena penguasa tahu:
Biarkan rakyat sibuk bertengkar,
kita buat sengaja pengalihan isu agar kursi dan korupsi tak di usik supaya tetap aman.

(Lampu padam. Hening sesaat.)

29 April 2025