April 2, 2026
rizAL2

Rizal Tanjung: Budayawan dan Sastrawan Sumatera Barat.

Sastra yang Diarak, Tradisi yang Ditinggalkan, dan Kebudayaan yang Kehilangan Rumah

Oleh: Rizal Tanjung

FESTIVAL SEBAGAI CERMIN RETAK

Di sebuah negeri yang gemar merayakan sesuatu dengan spanduk dan jargon, festival sering kali lebih mirip cermin retak: memantulkan wajah, tetapi tidak memperlihatkan luka. Di Sumatra Barat, negeri yang pernah melahirkan kata sebelum ia dituliskan, bunyi sebelum ia dipentaskan, dan adat sebelum ia dirumuskan, sastra kini diarak seperti pengantin—indah, tersenyum, tetapi dipaksa masuk ke rumah yang bukan rumahnya.

Festival Sastra Marah Roesli 2025, yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumatra Barat melalui UPTD Taman Budaya, berdiri sebagai perayaan yang megah. Namun di balik kemegahan itu, ia menyimpan ironi yang jauh lebih dalam daripada tema yang diusungnya: Negeri (dan) Ironi.

Ironi terbesar bukan pada isi novel Siti Nurbaya, bukan pula pada sejarah kolonialisme, melainkan pada kekeliruan struktural yang dilegalkan oleh birokrasi—ketika institusi yang seharusnya menjaga seni tradisi justru mengambil alih wilayah sastra tulis modern, seolah-olah nomenklatur hanyalah aksesoris administratif, bukan kompas kerja kebudayaan.

KETIKA RUMAH KEBUDAYAAN KEHILANGAN ALAMAT

Sastra adalah anak kandung pendidikan. Ia lahir dari bahasa, dibesarkan oleh literasi, dan dewasa dalam ruang arsip dan perpustakaan. Sastra hidup dalam teks, tafsir, kurikulum, dan diskursus akademik. Ia tumbuh perlahan, tidak dengan sorak-sorai, tetapi dengan pembacaan yang tekun.

Maka ketika sastra dirayakan oleh Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya—lembaga yang secara nomenklatur bertugas mengembangkan seni tradisional dan ekspresi budaya yang hidup di masyarakat—kita patut bertanya dengan jujur dan terbuka:

Apakah ini kolaborasi lintas sektor, atau sekadar pengambilalihan wilayah karena kehabisan gagasan?

Pertanyaan ini bukan soal cemburu kelembagaan. Ini soal ketepatan fungsi, soal tanggung jawab publik, dan soal kejujuran visi kebudayaan.

Di mana randai hari ini?
Di mana regenerasi tukang dendang?
Di mana sanggar tradisi yang betul-betul diasuh, bukan sekadar difoto?
Di mana program jangka panjang untuk kesenian Minangkabau yang tumbuh dari nagari, bukan dari proposal?

Ketika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sunyi, maka sastra dijadikan panggung pengganti. Ia tampil rapi, intelektual, dan aman—tidak berisik seperti konflik adat, tidak rumit seperti ritual, tidak menuntut kerja lapangan yang panjang.

Inilah pelarian kebudayaan yang disamarkan sebagai perayaan.

MEMULIHKAN BATAS, MERAWAT AKAR

Kami menyatakan dengan tegas:

Kebudayaan bukan festival.
Kebudayaan bukan event.
Kebudayaan adalah proses panjang yang berakar.

Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya seharusnya berdiri sebagai penjaga api, bukan penyelenggara pesta. Tugas mereka adalah mengayomi seni yang lahir dari tubuh masyarakat: seni lisan, seni ritual, seni pertunjukan tradisional, dan ekspresi budaya yang tak selalu bisa dibukukan atau diseminarkan.

Sementara itu, sastra tulis modern—novel, cerpen, puisi, kritik—secara struktural dan epistemologis lebih tepat berada di bawah Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Kearsipan. Di sanalah ia bisa dirawat sebagai warisan intelektual, bukan sekadar tontonan tahunan.

Manifesto ini bukan seruan pemisahan yang kaku, melainkan pemulihan keseimbangan. Kolaborasi boleh, tetapi penyerobotan fungsi adalah pengkhianatan visi.

MARAH ROESLI: DIARAK NAMANYA, DIKHIANATI SEMANGATNYA

Marah Roesli bukan penulis yang jinak. Ia adalah penggugat adat yang membatu, pengkritik kekuasaan yang menyamar sebagai tradisi. Siti Nurbaya adalah tamparan, bukan karangan bunga.

Betapa ironis ketika namanya kini dijadikan label festival oleh sebuah sistem yang justru mengulang apa yang ia kritik:
struktur yang memaksakan kehendak,
otoritas yang lupa bercermin,
dan institusi yang sibuk merayakan simbol sambil mengabaikan substansi.

Seandainya Marah Roesli hidup hari ini, barangkali ia akan menulis novel baru—bukan tentang Datuk Maringgih, melainkan tentang birokrasi kebudayaan yang kehilangan fungsi dan arah.

TAMAN BUDAYA ATAU TAMAN ACARA?

Taman Budaya semestinya adalah ruang pengasuhan, bukan sekadar ruang presentasi. Ia harus menjadi tempat tumbuhnya tradisi, bukan hanya tempat berlangsungnya agenda.

Namun apa yang kita saksikan hari ini lebih menyerupai taman acara: sibuk, padat jadwal, penuh undangan, tetapi miskin dampak jangka panjang.

Kesenian tradisional Minangkabau tidak butuh sekadar panggung; ia butuh keberpihakan struktural. Ia butuh kebijakan yang konsisten, bukan festival insidental.

Ketika semua hal diurus oleh satu institusi, yang terjadi bukan efisiensi, melainkan kaburnya tanggung jawab. Sastra kehilangan rumah akademiknya, tradisi kehilangan pengasuhnya, dan kebudayaan kehilangan arah.

NEGERI YANG MERAYAKAN DIRINYA SENDIRI

Festival Sastra Marah Roesli 2025 mungkin akan berakhir dengan tepuk tangan. Laporan akan disusun rapi. Anggaran akan dinyatakan selesai. Tetapi kebudayaan tidak hidup di laporan.

Ia hidup di nagari.
Di tubuh seniman tradisi.
Di ingatan kolektif yang dirawat, bukan dipamerkan.

Jika Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya tidak kembali memahami rumahnya sendiri, maka semua perayaan hanyalah hiasan di atas fondasi yang retak.

Dan di negeri yang salah alamat, sastra akan terus diarak, tradisi akan terus ditinggalkan, dan kebudayaan akan perlahan menjadi dekorasi tanpa jiwa.