April 3, 2026

yusuf achmad

Empat puisiku mungil, tampan, cantik, sorot mata dan senyum. Mereka menjadi senjaku. Di sore mentari. Antara bersinar dan tenggelam. Dalam buaian lalu lepas. Antara pelangi dan hangat hawa ke dada.

Pertama adalah matahari pagiku. Kedua adalah bintang
berbinar. Ketiga adalah bunga mekar. Keempat adalah satriaku. Mereka adalah jelmaku.

Pastilah mereka akan bersinar, berbinar, dan harum. Terlihat
dari mata-senyum. Dan gerak harap doa-doa. Tingkah-polahnya gambaran masa depan. Jaya berbudi bahasa.

Mungkin sinarnya menyinari tubuhku. Atau harumnya
kucium. Atau mungkin hanya istriku. Yang akan erselendang
senyum bangga. Lalu mereka akan rayakan bahagia dan jaya bersamanya.

Sedangkan aku gembira meski tanpa kata, atau mata. Karena kupasrahkan pada-Nya. Dan kudidekap oleh-Nya.

Seperti ketika abah dan ibuku. Saat mereka tertidur lelap di
haribaan-Nya. Kusenandungkan lagu. Harap-cemas hingga
mereka mimpi di Nyamplungan. Tentang saat kecil aku ingin
berjalan atau lari-lari.

Tentang masa depan yang terang atau gelap. Kukatakan pada Nya, “Kupasrahkan pada-Mu”. Karena aku hanya sanggup menunggu.

Masa mereka dewasa bertumbuh. Dan asa mereka terus melaju. Menuju tujuan dan harapan.

Surabaya, Juni 2023