“Selamat Jalan dan Separoh Hati yang Tertinggal”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "Selamat Jalan dan Separoh Hati yang Tertinggal": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonnesia's Artworks No. 925-101 (Assisted by AI).
/1/
Selamat Jalan dan Separoh Hati yang Tertinggal
Puisi Leni Marlina
Kau berdiri di ambang cakrawala,
di bawah gemuruh sayap besi
yang akan menghempasmu ke udara,
meninggalkan tanah yang masih hangat
oleh tapak kakimu yang hampir lenyap.
Angin melolong di landasan,
menyapu perpisahan seperti debu,
sementara langit meregang,
menganga dengan awal luka dan kecambah rindu.
Asap mesin mengeja namamu di udara,
lalu merobeknya dengan kecepatan cahaya.
Kau terbang—seperti burung yang dipaksa
meninggalkan sarang sebelum fajar,
meninggalkan kami yang masih menggapai
bayangmu yang semakin menipis di ketinggian.
Selamat terbang, sahabatku,
bawalah sisa suara kami
yang tersangkut di antara gemuruh mesin,
di antara kepak besi yang menggetarkan bumi.
Langit mungkin membakar jejakmu,
tetapi ingatlah,
kami tetap menunggu,
di tanah yang kau tinggalkan
dengan separuh hatimu yang tertinggal.
Padang, Sumbar, 2017
/2/
Tubuh Langit yang Terkoyak
Puisi Leni Marlina
Langit membuka mulutnya lebar-lebar,
menelanmu bersama gemuruh besi,
mengunyah perpisahan dengan mata api
di tepi sayap yang melukai udara.
Aku berdiri di bawahnya,
menyaksikan tubuhmu menjelma noktah,
menjadi serpihan di retina bumi
yang tak bisa kujamah lagi.
Mesin menggeram seperti singa lapar,
mengisap tanah, mengisap ingatan,
meninggalkan aroma perpisahan
yang menggantung di udara,
pahit dan tak bisa dihapus angin.
Kau telah menjadi bagian langit,
tertatih di antara serat awan,
terlilit turbulensi takdir
yang tak bisa kutahan.
Dan di sini,
aku menggenggam udara kosong,
mendengar gema langkahmu
yang tak lagi menginjak bumi,
hanya berdengung di dalam dadaku,
seperti suara jet yang tak mau redam.
Padang, Sumbar, 2017
/3/
Perpisahan Sementara
Puisi Leni Marlina
Perpisahan ini bukanlah dinding,
hanya retakan kecil di tubuh waktu,
menganga seperti luka langit
yang enggan sembuh sebelum hujan pecah.
Aku melangkah,
tapi bayanganku tertinggal di kakimu,
terperangkap di aspal yang belum mendingin.
Sementara suaramu,
menyelusup ke pori-pori angin,
menjadi gaung yang tak bisa kuusir.
Jarak itu ilusi, katamu.
Tapi aku melihatnya menjelma jurang,
menganga di antara kata yang belum selesai,
di antara detik yang menggertak nyali.
Aku pergi, tapi tidak utuh.
Separuh tubuhku masih terjebak di tatapanmu,
masih terombang di udara yang kau hembuskan,
menunggu, menunggu,
sampai dunia menarik napasnya kembali.
Padang, Sumbar, 2017
/4/
Ingatan Tentangmu
Puisi Leni Marlina
Angin pernah hafal caramu menyebut namaku,
menerbangkan suaramu ke sela daun,
menyelipkannya di antara awan rendah.
Tapi kini, kawanku,
kau pergi jauh,
dan angin mulai lupa.
Suaramu yang dulu mengisi celah siang,
kini menggantung tak bertuan,
seperti layang-layang yang putus benangnya.
Kata orang, waktu menyembuhkan rindu,
tapi aku tahu—
waktu hanya menimbun,
menjadikannya fosil dalam ingatan tentangmu.
Padang, Sumbar, 2017
/5/
Ketika Kau Melangkah di Bandara
Puisi Leni Marlina
Kau melangkah masuk ke bandara,
dan cahaya pun memudar.
Tempat itu, kawanku,
seperti lubang hitam.
Ia menelan suara,
menyedot bayang-bayang,
meninggalkan kita dengan gema yang tak bisa disentuh.
Aku melambai,
tapi lambaian hanyalah gerakan sia-sia
di antara ruang yang terus melebar.
Di sisi lain dunia,
kau muncul kembali dalam bentuk lain,
tapi apakah aku masih mengenalmu seperti dulu?
Padang, Sumbar, 2017
/6/
Akankah Kau Pulang
Puisi Leni Marlina
Kau tinggalkan jejak di pasir,
tapi ombak cepat-cepat menghapusnya.
Laut adalah penjaga rahasia,
ia tak ingin kita terus berharap.
Kawanku,
kau berlayar ke negeri lain,
dan aku bertanya:
akankah kau pulang dengan mata yang sama?
Atau laut akan menukar pandanganmu
dengan cakrawala yang lebih luas,
hingga tempat ini tak lagi cukup bagimu?
Aku tak ingin takut,
tapi ombak sudah memberi jawabannya.
Padang, Sumbar, 2017
/7/
Jembatan Seolah Melipat Diri untuk Kawanku
Puisi Leni Marlina
Jembatan ini dulu merentang panjang,
tapi kini ia melipat diri,
seperti doa yang ragu-ragu.
Aku berjalan di atasnya,
namun tanah di bawah kakiku menghilang.
Kawanku, semoga langkahmu menemukan jalan
yang tidak melipat dirinya sendiri,
yang mengantarmu ke tempat
di mana mimpi-mimpi menjadi nyata.
Padang, Sumbar, 2017
/8/
Hujan yang Tak Mau Jatuh
Puisi Leni Marlina
Langit penuh air mata,
tapi hujan menolak jatuh.
Ia menggantung di udara,
seperti doa-doaku untukmu,
yang belum menemukan tanahnya sendiri.
Kawanku, semoga perjalananmu
menjadi sungai yang mengalirkan keberkahan,
tanpa takut jatuh.
Padang, Sumbar, 207
/9/
Kata yang Tak Bisa Diucapkan
Puisi Leni Marlina
Ada satu kata yang ingin kuucapkan,
tapi setiap kali kubuka mulut,
angin menghapusnya.
Aku hanya bisa berdoa dalam diam:
Semoga angin membawamu ke tempat
di mana kata-kata menjadi kenyataan,
dan mimpi-mimpi tidak terhenti di tenggorokan.
Padang, Sumbar, 2017
/10/
Langkah yang Menghilang Sebelum Sampai
Puisi Leni Marlina
Aku melangkah ke arahmu,
tapi setiap jejak yang kutinggalkan
langsung lenyap.
Seperti aku yang ingin menahanmu,
namun tak bisa.
Semoga perjalananmu meninggalkan jejak di hati banyak orang,
seperti kau meninggalkan jejak di hatiku.
Padang, Sumbar, 2017
/11/
Laut yang Lupa Bagaimana Berombak
Puisi Leni Marlina
Laut ini kehilangan gelombangnya,
sejak kau pergi.
Ia hanya diam,
seperti doa-doaku yang mengapung tanpa arah.
Semoga di tanah yang kau tapaki sekarang,
ada samudra yang tahu bagaimana bernyanyi,
menceritakan kisah-kisah baru untukmu.
Padang, Sumbar, 2017
/12/
Surat yang Dikirim ke Masa Lalu
Puisi Leni Marlina
Aku menulis surat ini
untuk kemarin,
untuk detik sebelum kau pergi.
Tapi tinta mulai memudar ke belakang.
Kawanku, semoga di tempat yang baru,
kau menemukan waktu yang tidak perlu diulang,
karena semuanya indah di sana.
Padang, Sumbar, 2017
/13/
Kota yang Tidak Lagi Memiliki Bayangan
Puisi Leni Marlina
Sejak kau pergi,
kota ini kehilangan bayangan.
Pohon-pohon berdiri tanpa jejak hitam di bawahnya.
Orang-orang berjalan tanpa doppelgänger mereka.
Karena kaulah cahaya,
dan aku berdoa,
semoga di sana kau menjadi lebih terang lagi.
Padang, Sumbar, 2017
/14/
Rumah Tanpa Pintu Sepeninggalmu
Puisi Leni Marlina
Sepeninggalmu,
Aku ingin kembali ke rumah ini,
tapi tidak ada pintu,
kawanku.
Aku hanya bisa berdoa,
semoga setiap tempat yang kau pijak
menjadi rumah,
dan setiap orang yang kau temui
menjadi keluarga,
kudoakan kau di sana bahagia.
Padang, Sumbar, 2017
/15/
Sungai yang Berjalan ke Langit
Puisi Leni Marlina
Sungai ini mengalir ke atas,
seperti air mata yang kembali ke mata.
Kawanku, semoga perjalananmu naik setinggi ini,
menemukan tempat di mana doa-doa bertemu
dengan langit yang terbuka.
Padang, Sumbar, 2017
/16/
Pelabuhan Tanpa Kapal
Puisi Leni Marlina
Pelabuhan ini menunggu,
tapi tidak ada kapal.
Aku menunggu,
tapi tak ada suara perpisahan.
Semoga di negeri seberang,
kau menemukan dermaga
yang menyambutmu dengan tangan terbuka.
Padang, Sumbar, 2017
/17/
Waktu yang Tersangkut di Jendela
Puisi Leni Marlina
Ada satu detik yang tersangkut di jendela.
Tidak maju, tidak mundur.
Seperti rinduku yang menolak bergerak.
Semoga waktu di sana berpihak padamu,
memelukmu seperti aku ingin memelukmu saat ini.
Padang, Sumbar, 2017
/18/
Tangga yang Berputar Tanpa Ujung
Puisi Leni Marlina
Aku menaiki tangga ini,
tapi kembali ke langkah pertama.
Seperti rinduku yang terus berulang.
Semoga kau terus naik,
ke tempat di mana mimpi-mimpi
tidak perlu berputar dalam siklus.
Padang, Sumbar, 2017
/19/
Angin yang Membawa Namamu ke Arah yang Salah
Puisi Leni Marlina
Aku berteriak ke angin,
membisikkan namamu.
Tapi angin berbelok arah,
membawanya entah ke mana.
Semoga kau mendengar namaku di sana,
dalam doa yang datang dari arah yang benar.
Padang, Sumbar, 2017
/20/
Cermin yang Tidak Memantulkan Siapa Pun
Puisi Leni Marlina
Aku berdiri di depan cermin,
tapi tidak ada aku di sana.
Tidak ada kau.
Tidak ada siapa pun.
Cermin ini kehilangan ingatannya.
Semoga kau menemukan tempat
di mana semua refleksi menjadi lebih jelas.
Padang, Sumbar, 2017
/21/
Kota yang Hanya Ada dalam Surat-Surat Lama
Puisi Leni Marlina
Kota ini telah hilang,
tapi dalam surat-surat lama,
ia masih berdiri.
Seperti persahabatan kita,
yang akan terus hidup
meski terpisah lautan dan samudera,
kita kan bersua jika tiba masanya.
Padang, Sumbar, 2017
/22/
Sepatu yang Berjalan Sendiri
Puisi Leni Marlina
Sepatu itu berjalan sendiri,
mencari pemiliknya.
Semoga setiap langkahmu,
menemukan jalan yang lebih terang,
lebih luas,
lebih penuh berkah.
Padang, Sumbar, 2017
/23/
Air Mata yang Tidak Pernah Jatuh ke Tanah
Puisi Leni Marlina
Aku menangis,
tapi air mataku berhenti di udara.
Semoga di sana,
kau menemukan langit yang cukup luas
untuk menampung segala doa-doa kita.
Padang, Sumbar, 2017
/24/
Surat yang Terbakar Sebelum Dibaca
Puisi Leni Marlina
Sepeninggalmu,
aku tulis surat ini.
Tapi sebelum kukirim,
api datang.
Semoga semua pesan yang tak terucapkan
tetap sampai padamu,
dalam bentuk cahaya yang melindungimu,
kawan.
Padang, Sumbar, 2017
/25/
Jam yang Berdetak ke Arah yang Salah
Puisi Leni Marlina
Waktu berjalan mundur.
Aku ingin kembali ke saat sebelum kau pergi.
Tapi aku berdoa,
semoga masa depan lebih baik untukmu,
dan untuk kita semua.
Padang, Sumbar, 2017
/26/
Batu yang Mengapung di Atas Sungai
Batu ini seharusnya tenggelam,
tapi ia mengapung.
Seperti kenangan yang menolak hilang.
Semoga kita tetap mengapung dalam ingatan masing-masing,
meski jarak telah memisahkan.
Padang, Sumbar, 2017
/27/
Pergimu Seperti Senja
Puisi Leni Marlina
Matahari tenggelam,
dan aku tahu,
ia akan kembali esok.
Tapi kau, kawanku,
pergimu seperti senja yang tak dijanjikan kembali.
Aku menunggu,
tapi cakrawala tetap kosong.
Mungkin suatu hari kau kembali,
tapi entah sebagai pagi atau mendung.
Mungkin kau membawa terang,
atau kau menjadi hujan yang asing bagi tanah ini.
Tapi meski begitu, kawanku,
aku tetap akan menunggumu,
sampai akhir waktuku.
Padang, Sumbar, 2017
/28/
Surat yang Tak Bisa Kukirim
Puisi Leni Marlina
Aku menulis surat,
tapi alamatmu terlalu jauh
hingga tinta ini kehilangan makna sebelum tiba.
Kata-kataku menyeberang benua,
tetapi di sana,
musim sudah berganti.
Apakah kau masih membaca dengan cara yang sama?
Ataukah di negeri itu,
huruf-hurufku terdengar asing di telingamu?
Kawanku, aku ingin percaya bahwa rindu tak butuh peta,
tapi surat ini tahu:
tak semua yang pergi akan kembali dengan bentuk semula.
Padang, Sumbar, 2017
—————————————
Kumpulan puisi “Ketika Kawanku Pergi” ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris & Indonesia) oleh Leni Marlina tahun 2017. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)