“Matahari yang Seolah Lupa Terbit Ketika Kau Akan Berangkat”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "Matahari yang Seolah Lupa Terbit Ketika Kau Akan Berangkat": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925 -102 (Assisted by AI).
/1/
Matahari yang Seolah Lupa Terbit Ketika Kau Akan Berangkat
Puisi Leni Marlina
Pagi ini,
ketika kau akan berangkat,
matahari seolah lupa terbit.
Langit menggantung seperti lembar kertas kosong
tanpa warna.
Burung-burung menunggu di tepi dahan,
tapi tak ada fajar yang bisa diteriaki.
Jam-jam berdetak tanpa bayangan,
waktu berjalan tanpa arah.
Seperti kau—
meninggalkan tempat ini,
dan nampaknya dunia kita, mulai kehilangan batasnya,
semoga semuanya baik-baik saja,
sampai kau kembali dari negeri nun jauh di sana.
Padang, Sumbar, 2017
/2/
Hujan yang Berjalan Mundur
Puisi Leni Marlina
Di jalan ini, hujan tidak jatuh.
Ia naik.
Butiran air meninggalkan tanah,
melayang ke langit
seperti ingin menarik kembali perpisahan.
Aku berdiri di bawah payung yang kosong,
menonton genangan-genangan kembali menguap,
membentuk awan yang menyesal.
Mungkin hujan ini ingin mencoba lagi.
Tapi kau sudah pergi.
Padang, Sumbar, 2017
/3/
Jembatan yang Tidak Pernah Selesai Dibangun
Puisi Leni Marlina
Setiap malam, kota ini mencoba membangun jembatan
menuju tempatmu berdiri.
Tapi setiap pagi, ia runtuh kembali.
Besi-besi melengkung,
batu-batu berjatuhan,
seperti tubuh yang tak bisa menahan rindu
dan akhirnya menyerah.
Padang, Sumbar, 2017
/4/
Waktu yang Berputar dalam Botol
Puisi Leni Marlina
Aku menaruh detik-detik di dalam botol,
mengguncangnya sepertia anggur yang menua.
Tapi waktu ini tidak ingin mengalir.
Ia membeku dalam lingkaran,
berputar dalam dirinya sendiri,
seperti kalimat perpisahan yang tak kunjung selesai.
Padang, Sumbar, 2017
/5/
Perahu Kertas yang Tak Sampai ke Laut
Puisi Leni Marlina
Aku melipat namamu menjadi perahu kecil,
melepaskannya ke sungai yang mengalir ke laut.
Tapi sebelum mencapai muara,
ombak menelannya,
membiarkan namamu tenggelam di lumpur waktu.
Padang, Sumbar, 2017
/6/
Bayangan yang Berjalan Sendiri
Puisi Leni Marlina
Aku melihat bayanganmu tadi malam,
berjalan sendirian di trotoar kota ini.
Ia seharusnya tetap menempel pada kakimu,
tapi kau terlalu jauh,
dan ia kelelahan mengejar.
Padang, Sumbar, 2017
/7/
Kota yang Lupa Namanya Sendiri
Puisi Leni Marlina
Sejak kau pergi, kota ini tidak ingat siapa dirinya.
Jalanan terasa lebih panjang,
lampu merah menyala lebih lama,
gedung-gedung saling bertanya,
“Siapa yang pernah tinggal di sini?”
Padang, Sumbar, 2017
/8/
Angin yang Tidak Membawa Suara
Puisi Leni Marlina
Biasanya angin datang membawa cerita,
membisikkan suara perjalanan.
Tapi angin malam ini hanya diam.
Tidak ada suara, tidak ada pesan.
Hanya udara kosong,
menunggu sesuatu yang tak lagi bisa dikatakan.
Padang, Sumbar, 2017
/9/
Ombak yang Kembali ke Lautan
Puisi Leni Marlina
Aku pernah menulis namamu di pasir.
Lalu ombak datang, membawanya pergi.
Aku menunggu di sini, berharap
suatu hari nanti ombak itu akan mengembalikanmu.
Tapi lautan hanya tahu cara mengambil,
bukan cara mengembalikan.
Padang, Sumbar, 2017
/10/
Taman Tanpa Musim Semi
Puisi Leni Marlina
Bunga-bunga di taman ini tidak pernah mekar.
Mereka berdiri dalam diam,
menunggu musim semi yang tidak akan datang.
Mungkin, taman ini tahu kau tak akan kembali,
jadi ia memutuskan untuk berhenti tumbuh.
Padang, Sumbar, 2017
——————————–
Kumpulan puisi “Matahari yang Seolah Lupa Terbit Ketika Kau Akan Berangkat” (puisi no. 1 -10) ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris & Indonesia) oleh Leni Marlina tahun 2017. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)