SEPATU LARS
Naskah MONOLOG
Oleh: Ilhamdi Sulaiman
–
(Lampu menyala redup. Seorang lelaki tua duduk bersandar di kursi. Bajunya lusuh, wajahnya lebam. Ia menatap kosong ke arah penonton. Terdengar suara rantai kecil berderak.)
LELAKI:
Kau tahu rasanya dituduh, Nak?
Bukan karena salah, tapi karena orang lain butuh kambing hitam.
Aku tidak paham apa itu partai… apa itu ideologi.
Yang kutahu cuma cangkul, tanah, dan bau
Aku petani, Nak. Aku tak punya cita-cita menggulingkan negara.
Yang ingin kugulingkan cuma batu di sawah yang menghalangi bajakku.
Tapi malam itu…
mereka datang dengan lampu sorot dan sepatu lars.
“Mana kartu anggota PKI-mu?” katanya.
Aku jawab: “Aku bahkan tak punya kartu beras.”
Mereka tertawa.
Lalu menendangku sampai lututku tak tahu di mana tempatnya.
(diam sebentar, menatap ke tanah)
Katanya aku ikut rapat.
Katanya aku bawa pamflet merah.
Katanya aku berteriak: Hidup Revolusi!
Aku? Aku cuma teriak ke anakku, “Hidup! Jangan mati kelaparan!”
Itu saja.
Tapi di negeri ini, rupanya hidup pun bisa jadi tuduhan.
(suara tetesan air semakin keras)
Mereka ikat tanganku di belakang.
Setiap pertanyaan yang tak bisa kujawab, cambuk bicara untukku.
“Siapa temanmu? Siapa yang menyuruh?”
Kujawab: “Sawah. Padi. Hujan.”
Mereka bilang aku keras kepala.
Padahal aku hanya keras menahan sakit.
(tertawa getir)
Lucu, ya?
Satu-satunya hal yang masih bisa kutahan adalah rasa sakit.
Yang lain sudah mereka ambil namaku, keluargaku, bahkan ingatanku tentang pagi.
(duduk, mengelap darah di bibir)
Di ruang ini, suara tak punya arti.
Kebenaran hanya berlaku kalau keluar dari mulut berpangkat.
Dan mulutku… sudah bengkak terlalu parah untuk menjelaskan siapa aku.
(suara rantai berderak lagi)
Mereka tanya, “Kau tahu siapa Lek Jo?”
Aku jawab, “Dia yang bantu betulkan bajakku.”
Katanya, “Dia kader bawah tanah.”
Aku bilang, “Dia cuma ajari aku menanam cabai tanpa pupuk kimia.”
Dan karena cabai itu merah… mereka bilang kami sedang bersekongkol.
(diam lama, menatap ke udara)
Sial.
Ternyata warna pun bisa membuat orang dibunuh.
Waktu itu aku ingin menjerit,
tapi di ruang ini, jeritan hanya jadi gema.
Kau tahu apa yang paling menakutkan, Nak?
Bukan cambuk, bukan listrik di tubuhku
tapi saat kau mulai ragu,
jangan-jangan… mereka benar.
Jangan-jangan… aku memang salah.
(menangis pelan, tapi tertawa di sela tangis)
Begitu liciknya siksaan itu
ia tidak hanya melukai tubuhmu,
tapi mencuri keyakinanmu tentang siapa dirimu.
(berjalan ke depan, berbisik seolah rahasia)
Aku ingat satu hal sebelum mereka menyeretku ke truk.
Langit waktu itu biru.
Burung-burung masih terbang seperti biasa.
Tapi semua orang menunduk.
Tak ada yang berani menatap langit,
seolah biru pun bisa dicurigai sebagai merah muda.
(lampu makin redup. Ia menggigil)
Sudah berapa lama aku di sini?
Tak ada kalender.
Waktu berhenti di antara jeritan dan pengakuan palsu.
Aku tanda tangan…
karena tanganku bukan milikku lagi.
Ia milik mereka yang menggenggam cambuk.
Di kertas itu tertulis aku anggota partai terlarang.
Dan sejak itu, dunia pun menolak namaku.
(mengambil segenggam debu di lantai, menatapnya)
Lihat debu ini.
Kalau kau tiup, ia hilang.
Begitulah nasib orang-orang seperti aku
yang tak punya kuasa,
tak punya nama,
tak punya ruang untuk membela diri.
(menyeringai tipis)
(menatap ke penonton, tegas)
Aku bukan PKI.
Aku manusia.
Dan di negara ini, rupanya itu kesalahan paling besar.
(lampu mulai padam perlahan)
Kalau nanti kalian dengar nama-nama yang dibuang tanpa kubur,
ingatlah: di antara mereka, mungkin ada satu suara yang masih berbisik,
“Aku bukan yang kalian cari.”
(hening lama. Lampu padam total.)