April 2, 2026

Penulis:Ririe Aiko

(Puisi esai yang diangkat dari kasus yang menggemparkan publik pada pertengahan April 2025, berita tentang pengakuan sejumlah mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI) yang mengungkap dugaan kekerasan, eksploitasi, hingga penyiksaan yang mereka alami selama bekerja)

—000—

Sorak sorai membuncah di udara, lampu sorot menari di panggung megah. Anak-anak tertawa, mata mereka menyala, melihat harimau melompati lingkaran api, melihat akrobat terbang di tali tipis, semuanya tampak indah, tapi tak ada yang tahu, apa yang tersembunyi di balik tirai pertunjukan.

Di belakang gemuruh tepuk tangan, terdengar ratap yang dibungkam. Di belakang senyum bertopeng badut, ada tubuh lebam, mata sembab, (1) suara lirih memanggil:

Tolong, aku bukan boneka sirkus.”

—000—

Seorang gadis tanpa nama. Dicuri masa kecilnya.Dibesarkan seperti hewan dalam kurungan, Orang-orang menyebutnya Aruna. Langit kecilnya adalah panggung. Dia dilatih untuk menghibur. Membuat banyak mata takjub dan bersorak. Jika panggung kehilangan tepuk tangan, arus listrik jadi bahasa peringatan. Jika langkahnya mencoba untuk lari, cambuk akan menderu. Dan tubuhnya akan dilempar ke kandang besi. Perih dan teriakan selalu menjadi santapan setiap hari.

Setiap malam, ia menari di bawah sorot lampu, dengan tubuh yang sudah remuk oleh latihan paksa. Di siang hari, saat pengunjung pulang, ia menyeka darah di lutut, menghapus jejak luka di dada,dan kembali berkata pada cermin:

Apakah aku juga Manusia? Mengapa Mereka memperlakukan aku lebih keji dari binatang?”

Kandang harimau jadi saksi bisu, bagaimana manusia diperlakukan tidak manusiawi. Tali sirkus menggantung tubuh yang hampir patah, bukan karena jatuh, tapi karena diangkat paksa oleh sistem yang membisukan jerit dan menyuap kenyataan.

—000—

Waktu tak bisa menghapus jejak rasa sakit. Aruna kini bukan lagi anak panggung. Ia duduk di depan kantor KemenHAM,(2) membawa selembar kertas yang bergetar di tangan kurusnya.

Saya hanya ingin didengar,” katanya. Tak minta balas dendam, hanya keadilan, untuk mereka yang tersiksa di balik tirai pertunjukan.

—000—

Penonton tak tahu. Mereka hanya membeli tiket, menatap sirkus sebagai hiburan keluarga. Mereka tak pernah bertanya: berapa nyawa yang dikorbankan agar tawa mereka bisa meledak di malam minggu?

Anak-anak sirkus, mereka bukan hanya tokoh dalam cerita. Mereka manusia, berdaging dan bernyawa. Dan puisi ini, adalah pelukan bagi mereka yang hancur lebur tapi memilih tetap berdiri, meski dengan potongan luka yang tak bisa dipulihkan.

—000—

Malam kembali sunyi setelah panggung gulita. Lampu dimatikan, penonton pulang. Tirai ditutup rapat, tapi suara-suara itu tak pernah benar-benar padam. Di setiap tawa yang direkayasa, di setiap tepuk tangan yang dipaksa, ada luka yang menari. Ada Aruna lain yang menatap langit dan berdoa:

“Semoga suatu hari, panggung tak lagi jadi penjara.”

—000–

CATATAN:(1)https://www.kompas.tv/regional/587443/fakta-fakta-dugaan-eksploitasi-pemain-sirkus-oci-taman-safari-ini-pengakuan-memilukan-korban

(2)https://news.detik.com/berita/d-7872374/kementerian-ham-usut-dugaan-eksploitasi-eks-pemain-sirkus-taman-safari