January 31, 2026

Air Mata yang Kutitipkan di Kaki Bunda

unnamed_11zon

Oleh: Vera Sylvia Nainggolan

Di sudut kamar yang remang, Sylvia duduk memeluk lututnya. Di depannya, sebuah cermin tua memantulkan bayangan yang nyaris tak ia kenali. Matanya sembap, bukan karena tangis yang meledak-ledak, melainkan karena aliran air mata yang jatuh dalam sunyi—jenis tangis yang sudah terlalu sering terjadi hingga tak lagi bersuara.

Bagi sylvia, air mata bukan sekadar cairan bening. Setiap tetesnya adalah cerita tentang pengkhianatan yang belum sembuh, kata-kata kasar yang masih terngiang, dan trauma yang selalu datang mengetuk pintu ingatannya tepat saat ia mencoba untuk tidur. Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dibalut oleh perban yang tak kasat mata. Di bawah perban itu, ada luka yang masih basah. Setiap kali ia mencoba melangkah maju, trauma itu menariknya kembali, membisikkan bahwa dunia tidak aman, bahwa ia akan disakiti lagi.
“Tuhan,” bisiknya parau, suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Hanya ini… hanya luka ini yang kupunya.”

Malam itu, Sylvia tidak mencoba menjadi kuat. Ia membiarkan pertahanannya runtuh total. Ia membawa lukanya ke dalam doa, bukan dengan kata-kata yang tersusun rapi, melainkan dengan isak yang dalam. Ia membayangkan dirinya melepaskan semua perban trauma itu satu per satu di hadapan Sang Pencipta.

Ia menyadari satu hal: Air mata adalah doa yang tidak perlu diterjemahkan.
Dalam sujud yang panjang, ia merasa seolah-olah ada tangan yang tak terlihat mendekap bahunya yang gemetar. Luka itu masih ada, trauma itu belum hilang sepenuhnya, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sylvia merasa ia tidak perlu berpura-pura baik-baik saja di depan Tuhan.

Saat fajar mulai menyingsing, Sylvia menyeka pipinya. Luka dan traumanya mungkin masih membutuhkan waktu lama untuk mengering, tetapi ia memutuskan untuk berhenti membungkusnya dengan kebencian pada diri sendiri.
Ia akan membalut luka itu dengan ketabahan, dan menyirami traumanya dengan doa. Malam itu Sylvia menengadahkan tangannya. Ia ingin mengadu, ia ingin berteriak protes pada semesta. Namun, setiap kali ia membuka bibirnya, hanya isak tangis yang keluar. Kata-katanya hilang, seolah tenggelam dalam lautan kesedihan yang ia ciptakan sendiri.

“Tuhan…” batinnya merintih. “Aku harus bagaimana lagi? Aku sudah kehabisan kata-kata. Aku sudah kehabisan kekuatan. Jika Engkau meminta kesabaran, aku sudah di ambang batas. Jika Engkau meminta sujudku, inilah aku yang hancur berkeping-keping.”
Ia merasa malu. Malu karena setiap kali ia datang bersujud, ia hanya membawa beban. Ia merasa tidak punya prestasi atau kebaikan yang bisa ia sombongkan. Ia merasa hanya membawa “sampah” berupa rasa sakit hati yang berkarat.
Namun, di tengah isaknya, sebuah kedamaian yang aneh menyelinap masuk ke relung hatinya. Seolah-olah ada sebuah suara tanpa kata yang berbisik di jiwanya:
“Air matamu bukan sampah. Ia adalah doa yang paling banyak murni. Karena saat kamu tak lagi mampu merangkai kalimat, hatimu bicara langsung kepada-Ku tanpa sekat.”

Malam itu, Sylvia tidak berhenti menangis, namun ada yang berbeda. Ia mulai membayangkan setiap tetes air matanya adalah cara Tuhan mencuci trauma yang melekat di jiwanya. Ia tidak lagi berusaha menahan luka itu agar terlihat kuat; ia membiarkannya terbuka di depan Sang Pencipta.

Ia menyadari bahwa ia tidak perlu tahu “bagaimana lagi” untuk esok hari. Ia hanya perlu bertahan untuk napas saat ini. Luka itu mungkin belum sembuh total, dan trauma itu mungkin masih meninggalkan bekas, tetapi ia tidak lagi membawanya sendirian.
Sylvia menutup doanya dengan satu keyakinan baru: Tuhan tidak pernah menolak persembahan berupa hati yang hancur.
Dan di dalam kamar itu Sylvia menyeret beban trauma yang seolah tak berujung. Di depan patung Bunda Maria yang tenang, ia jatuh tersungkur. Tidak ada kata-kata hebat, tidak ada janji-janji muluk. Hanya ada punggung yang berguncang karena isak tangis yang tertahan sekian lama.

“Bunda,” bisiknya dalam hati, “aku datang membawa serpihan hatiku. Tidak ada yang utuh lagi. Hanya air mata ini yang tersisa untuk kupersembahkan di kakimu.”Ia membayangkan Bunda Maria perlahan turun, bukan untuk menghakimi luka-lukanya, melainkan untuk membungkusnya dengan jubah birunya yang sejuk. Di kaki Bunda, air matanya bukan lagi tanda kekalahan. Di sana, air mata itu menjadi mutiara-mutiara doa yang dikumpulkan oleh tangan seorang Ibu yang paling lembut.
Ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan mengapa ia terluka, atau mengapa traumanya begitu dalam. Sebab, seorang ibu tidak butuh penjelasan untuk memahami rasa sakit anaknya.Sambil menyentuh kaki Bunda Maria, ia merasa seolah-olah beban di pundaknya sedikit terangkat. Luka itu masih ada, namun ia tidak lagi membawanya sendirian. Ia telah menitipkan rasa sakitnya pada sosok yang paling mengerti arti kehilangan dan ketabahan.

Ia bangkit dengan mata yang masih basah, namun dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia tahu, di setiap tetes air mata yang ia persembahkan, ada doa Bunda yang menyertai setiap langkah kesembuhannya.

“Sebab ia tahu, seorang Ibu takkan membiarkan anaknya menangis tanpa mendekapnya.”Anak perempuan itu menyandarkan keningnya yang lelah pada kaki patung Bunda Maria yang dingin namun terasa menenangkan. Isaknya mulai mereda, menyisakan napas yang panjang dan berat. Ia mendongak sedikit, menatap wajah Bunda yang penuh belas kasih, lalu membisikkan kata-kata terakhirnya:
“Bunda… aku lelah berlari dari luka ini. Aku lelah berpura-pura kuat di depan dunia, padahal di dalam sini, aku hanyalah anak kecil yang ketakutan karena trauma yang tak kunjung pergi.

Hari ini, aku berhenti melawan. Aku titipkan air mataku di kakimu. Tolong simpan setiap tetesnya sebagai saksi bahwa aku telah mencoba bertahan sejauh ini. Jika esok aku kembali menangis, biarlah tangis itu bukan karena keputusasaan, melainkan karena aku tahu aku sedang dipulihkan dalam pelukanmu.

Bunda, aku tidak tahu lagi harus bagaimana, jadi aku serahkan ‘bagaimana’ itu kepadamu dan Putramu. Ambil hatiku yang hancur ini, balutlah dengan cinta-Mu, dan bimbinglah langkahku yang gemetar ini menuju cahaya.
Aku anakmu, Bunda. Dan sekarang, aku ingin pulang ke dalam kedamaianmu.” Ia bangkit berdiri, menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung jari. Meski dunia di luar sana masih sama, ada sesuatu yang berubah di dalam dadanya. Ruang yang tadinya sesak oleh luka, kini memiliki celah kecil untuk harapan.