Anjing-Anjing di Kepala Asyiki
Cerpen Karya: Choirul Wadud–Sastrawan dari Surabaya
Melihat anjing dan orang jalan pagi bergandeng tali, ikan-ikan di kepala Asyiki mendadak berbulu, berlidah menjulur, berganti wujud menjadi anjing-anjing. Seekor anjing di kepala Asyiki menyalaki bandit penerobos pagar rumah yang anjing jaga. Terlihat pula anjing-anjing di lingkungan suatu kaum, yaitu kaum beriman yang tidak menajiskan air liur anjing, dan anjing-anjing hidup terlindung sebagai piaraan kaum bermazab itu. Pula di kepala Asyiki tampak anjing polkadot melenggang di belakang youtuber cantik bertato codot.
Asyiki suka melihat aneka anjing di dalam kepala sendiri, termasuk anjing yang menjadi perantara seorang pelacur diangkat ke surga. Dikisahkan, seekor anjing hampir mati kehausan, tergeletak di pinggir sumur, mendatangkan rasa iba seorang pelacur. Dikisahkan pula, pelacur itu turun ke sumur, menciduk air di dasar sumur dengan sepatunya kemudian diminumkan anjing itu.
“Sayangilah anjing di dunia nyata,” bisik Asyiki di atas motor tua melaju, ketika dadanya mulai menyesak menyaksikan makin banyak anjing bergandeng orang di pinggir jalan. “Sayangi anjing di dalam kepala tetapi jangan manjakan anjing di dalam hati,” pesan Asyiki kepada diri sendiri. “Sebab anjing di dalam hati, bisa jadi, adalah anjing dari kehendak menendang anjing bergandeng orang di pinggir jalan.”
Anjing bergandeng orang terakhir yang dilihat Asyiki sebelum motornya berbelok ke jalan kecil ke arah muara adalah anjing putih, berbulu jembrak, dengan wanita bercelana pendek berkulit kapas. Meskipun terlihat sekilas, gambaran anjing jembrak, celana pendek dan kulit kapas, melekat kuat di kepala Asyiki. Namun begitu, ketika motor tua Asyiki lewat di tanah lapang bekas diuruk dan angin menghamburkan bunga ilalang, lupalah Asyiki akan bulu jembrak, celana pendek dan kulit kapas. Lalu, sudah barang tentu Asyiki tidak membayangkan bahwa hamburan bunga ilalang di udara itu menguar dari anjing berbulu putih maupun tubuh orang berkulit kapas.
Perasaan geram melihat anjing bergandeng orang menjadikan Asyiki melihat buruk lingkungan itu. “Kota baru ini masih bagian alam tetapi bukan lagi milik Tuhan,” simpulnya.
Tempat ini milik Tuhan ketika siapa saja dibebaskan mendekat, bahkan dalam keadaan hati rusuh, jenuh melihat orang dan kangen melihat kadal. Tetapi ketika kota baru berdiri angkuh, untuk bisa menemui kadal di hutan yang tinggal seiris, harus dilewati jalan baru dengan pos pos penjagaan. Dan tiap melewati satu pos penjagaan itu, Asyiki gamang karena merasa menerjang larangan menemui kadal tersayang. Dan ketika melihat anjing sangar bergandeng orang di pinggir jalan, terdengar ejekan bahwa biaya merawat anjing pitbull selama seminggu lebih besar dari belanja keluargamu sebulan.
Asyiki mendengar suara kutukan diri sendiri. Kutukan yang mendatangkan rasa asing dan pusing, rasa menjadi warga kota yang dicibir oleh perkembangan kota sendiri, rasa sakit pribumi yang dihalau oleh pendatang beranjing dan berpasukan.
Di mata Asyiki, melihat anjing bergandeng orang berbeda rasa dari melihat monyet bergandeng orang. Melihat anjing bergandeng orang mendatangkan rasa meriang, sedangkan melihat monyet bergandeng orang mendatangkan rasa riang. Mendatangkan rasa riang sebab tahu, monyet bergandeng orang pastilah monyet jenaka, monyet aktor yang memerankan tentara membidikkan senapan, dor dor dor, dan berjatuhanlah uang receh untuk tuan. Monyet aktor juga piawai memerankan emak-emak pergi ke pasar, menjinjing keranjang, diiring tetabuhan lantang. Tetapi, sejak menjadi perumahan elite, sulit dibayangkan mendapati monyet bergandeng orang, padahal, sekali lagi, puluhan tahun yang lalu tempat ini habitat monyet ekor panjang.
“Terkutuklah monyet buntung. Terkutuklah monyet penimbun rumah cacing dan lubang ular.”
Asyiki berkhayal, setiap anjing menolak lahir di hari Sabtu jika tahu akan diseret tuan berkulit kapas setiap Minggu.
“Mengapa di tempat ini tidak terlihat tali monyet dibawa orang berkulit kapas?” Asyiki bertanya namun merasa janggal akan pertanyaan sendiri. Ketahuilah, tali monyet tidak membantu mengangkat prestise, karena monyet lebih pantas dipiara warga yang tinggal di kampung padat, tinggal berjejal-jejal, melahirkan bayi-bayi bakal begal.
Suara di dalam kepala Asyiki mengeras, “Seratus tahun kaupegang tali monyet, tidak akan mengubahmu menjadi pemegang tali anjing dan membawa jalan-jalan pada pagi Minggu.”
“Monyet buntung,” suara di kepala Asyiki makin keras. “Dewa monyet lebih luhur dari dewa anjing, tetapi seratus tahun kaupegang tali monyet tidak akan memampukanmu membeli satu rumah beranjing di seberang taman itu.”
Ketika motor tua Asyiki menjauh dari tembok tinggi pembatas perumahan, terlupakanlah Asyiki akan anjing bertali.
“Kuingat tali joranku,” bisik Asyiki. “Tali yang menjadi perantaraku mengikat cinta dengan kadal.”
“Lupakan pula monyet bertali,” pikir Asyiki.
“Ingat saja momen ketika monyet tanpa permisi, melintas dari pohon ke pohon dengan tangkas di atas kepalamu, saat isi kepalamu dipenuhi ikan-ikan.”