Arang di Tembok Nyamplungan
Yusufachmad Bilintention
Cerpen ini ditulis sebagai bagian dari Lomba Cerpen Tiga Strata 2026 dengan tema Indonesia dalam Sosial Politik. Kisah berikut merekam ingatan masa kecil tentang simbol, luka, dan sejarah yang membekas di kampung Nyamplungan
Nyamplungan selalu hadir dalam ingatan seperti bayangan yang tak pernah padam. Di sana, pohon sawo merunduk, mageli berderet di halaman, dan sebuah tembok tua berdiri bisu. Tembok itu pernah kutoreh dengan arang, coretan kecil yang tak pernah benar-benar hilang. Dari goresan itu aku belajar: gambar bisa menyimpan luka.
September datang lagi, membawa aroma tanah basah dan bisik angin yang tak sama dengan tahun-tahun lain. Di layar HP, pesan Aralia muncul—teman kecil yang dulu menemaniku di jalan sempit kampung. Puisinya singgah di dunia digital, tapi bagiku ia selalu kembali ke Nyamplungan, ke masa yang tak bisa tidur.
Aku teringat cerita ibuku tentang keluarga Aralia, tentang tragedi yang menorehkan jejak dalam sejarah kecil kami. Ingatan itu menempel seperti noda di dinding. Dan malam itu, suara jerit masih bergema:
“Jangan ikut begitu saja, Ayah! Lawan kita tak berdosa!”
Dentuman gagang bedil menghantam kening seorang ibu. Darah mengalir di lantai Nyamplungan. Aku masih kecil, hanya bisa menangis. Sejak malam itu, September tak pernah putih lagi.
Aku masih ingat berdiri di depan tembok tua Gang Nyamplungan, tembok yang pernah kutoreh dengan arang. Usia enam atau tujuh, aku suka menggambar apa saja: garis di jalan, bentuk di batu kampung. Suatu sore, aku menggambar arit dan palu. Ibuku melihat. Wajahnya pucat, tangannya gemetar menghapus arang itu. “Kau ulangi, kuhukum kau hingga lesu,” katanya dengan suara bergetar.
Aku tak mengerti. Bagiku itu hanya bentuk indah. Tapi bagi ibuku, itu tanda maut. Ia pernah bercerita tentang tetangga yang hilang di malam kelabu 1965, tak pernah kembali. Sejak itu, setiap simbol jadi bisik ancaman. Bulan kelabu, bulan penuh bisik, bulan yang membuat orang takut pada tembok.
Keluguanku hancur seketika. Coretan yang dulu jadi kebahagiaan, kini berubah jadi pelajaran pahit: gambar bisa jadi senjata, bisa jadi luka.
Di rumah, percakapan keluarga sering berputar pada bulan-bulan. Ayah kadang bercerita tentang masa mudanya, sementara ibu mengulang-ulang kisah tentang wajah tiap bulan. “Januari adalah awal, penuh doa,” katanya. “Mei adalah panas politik, suara mahasiswa di jalanan.” “Juli masa tenang, tapi penuh bisik.” “September—ah, September selalu membara.”
Aku mendengar sambil mendorong mobil-mobilan di lantai. Di luar, kampung tak pernah benar-benar tenang. Tetangga depan, belakang, bahkan kampung sebelah, satu per satu ditangkap tentara. Ayah dan ibu membicarakan lambang arit dan palu. Kata mereka, itu bukan sekadar gambar, melainkan tanda yang bisa mengirim seseorang ke penjara—atau lebih buruk.
Suatu petang, kampung bergemuruh. Orang-orang berkerumun di depan rumah Aralia. Dari dalam terdengar jerit pilu: “Jangan ikut begitu saja, Ayah! Lawan kita tak berdosa!”
Suara itu milik ibunya, berusaha menahan sang suami agar tidak dibawa tentara. Aralia kecil menangis keras, tubuh mungilnya gemetar di pelukan kain lusuh. Tentara membentak, lalu gagang bedil menghantam kening ibunya. Ia terhuyung, jatuh, darah segar mengalir di wajah pucat.
Tangis Aralia pecah sejadi-jadinya. Ayahnya digiring paksa keluar rumah, sementara tetangga berhamburan menolong sang ibu yang tak sadarkan diri.
Sejak malam itu, kampung Nyamplungan tak pernah sama. Nama ayah Aralia disebut “antek PKI,” meski tak seorang pun tahu salah apa. Luka itu menempel di dinding kampung, seperti arang yang dihapus tapi tetap meninggalkan jejak.
#LombaCerpen_3strata #IndonesiadalamSosialPolitik