April 3, 2026

Belajar Mencintai Diri Sendiri Setelah Dikhianati

9ccfa96c-f2cc-4584-ac67-d4a62280c728_11zon_11zon

Oleh: Allysha Raihan Mutiara

Aku pernah berpikir, cinta yang tulus pasti akan menemukan jalannya sendiri. Bahwa jika aku mencintai dengan sepenuh hati, maka semesta akan menjaganya. Nyatanya, hidup tidak bekerja sesederhana itu. Ketulusan tidak selalu berbalas kesetiaan, dan kepercayaan tidak selalu dijaga oleh orang yang kita cintai.

Aku belajar dengan cara yang paling menyakitkan: melalui pengkhianatan. Bukan hanya dikhianati perasaan, tetapi juga dimanfaatkan empati dan kepedulianku. Saat itu aku tidak merasa bodoh. Aku hanya merasa menjadi manusia—manusia yang percaya, berharap, dan tidak ingin berprasangka buruk pada orang yang dicintainya.

Kini aku paham, kepercayaan tanpa batas bukanlah kebajikan, melainkan kelalaian pada diri sendiri. Aku terlalu sibuk menyelamatkan orang lain, sampai lupa menjaga diriku. Aku memberikan segalanya, bukan karena diminta, tetapi karena aku ingin menjadi orang baik. Dan ternyata, menjadi orang baik tanpa batas justru bisa melukai diri sendiri.

Aku juga belajar bahwa meninggalkan bukan berarti melarikan diri. Pergiku ke Singapura bukan untuk lari dari masa lalu, tetapi untuk menciptakan ruang bernapas. Aku butuh tempat di mana aku bisa mendengar suaraku sendiri tanpa bayangan luka. Di kota yang tidak mengenalku, aku belajar mengenal diriku kembali.

Usaha yang aku bangun, kegagalan yang aku alami, kerugian yang aku tanggung—semuanya mengajarkanku satu hal penting: aku lebih kuat dari yang pernah aku bayangkan. Aku bisa jatuh, aku bisa kehilangan, tapi aku tidak hancur. Dan ketahanan itu lahir justru dari rasa sakit yang dulu hampir mematahkan aku.

Sekarang, aku tidak menutup hatiku pada cinta. Aku hanya tidak lagi membiarkan cintaku berjalan tanpa akal sehat. Aku belajar bahwa mencintai orang lain tidak boleh berarti mengorbankan harga diriku. Bahwa orang yang layak dicintai adalah mereka yang bertanggung jawab atas kehadirannya, bukan yang hidup dari pengorbanan orang lain.

Aku percaya, suatu hari nanti aku akan bertemu dengan seseorang yang tidak perlu aku selamatkan, karena ia sudah berdiri tegak sebagai pria dewasa. Seseorang yang tidak hanya menerima cintaku, tetapi juga menjaganya. Sampai hari itu tiba, aku memilih untuk tetap setia pada diriku sendiri.

Dan jika aku harus berterima kasih pada masa laluku, maka inilah ucapanku:
terima kasih karena telah melukaiku, sebab dari sanalah aku belajar mencintai diriku dengan benar.

***

*real story