April 22, 2026
Berulang Nikmat, children playing and laughing in a mosque, all boys, in Surabaya, Indonesia

Yusuf Achmad

Dalam perjalanan kehidupan, begitu banyak kejadian yang terulang. Masa kelahiran, kanak-kanak, menikah, hingga masa tua terus silih berganti dalam siklus kehidupan yang tak terputus. Namun, manusia cenderung hanya mengingat dua jenis pengalaman: yang menyedihkan atau yang menyenangkan. Sementara itu, pengalaman yang terlihat biasa-biasa saja sering terabaikan.

Kita mungkin tak menyadari teraturnya napas, berfungsinya organ tubuh, sehatnya penglihatan, hingga waktu luang kita. Nikmat-nikmat kecil ini jarang mendapat perhatian, berbeda dengan peristiwa besar seperti kecelakaan, mendapatkan jabatan, atau bahkan kehilangan pekerjaan yang sering menjadi pusat perhatian kita.

Tulisan ini hadir sebagai pengingat akan nikmat-nikmat Alloh SWT yang sering terlupakan. Berikut adalah enam nikmat besar yang disebutkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., yang seharusnya selalu kita renungkan dan syukuri:

1. Nikmat Islam Islam adalah anugerah terbesar yang membimbing kita kepada iman, takwa, dan kebenaran. Islam menjaga kita dari kesesatan dan membawa kita menuju surga.
2. Nikmat Al-Quran Al-Quran adalah pedoman hidup, mukjizat terbesar yang diberikan kepada umat manusia. Ia memberikan cahaya, solusi, dan ketenangan di tengah gelombang kehidupan.
3. Nikmat Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW adalah suri teladan dalam akhlak dan perbuatan. Beliau adalah pembawa risalah Islam yang selalu penuh kasih sayang terhadap umatnya.
4. Nikmat Sehat Sehat adalah modal untuk ibadah dan aktivitas, anugerah yang begitu berharga hingga baru terasa ketika sakit melanda.
5. Nikmat Tertutupnya Aib Alloh SWT dengan segala kasih sayang-Nya menutupi kekurangan dan dosa kita agar tak menjadi bahan cela di mata manusia.
6. Nikmat Tidak Bergantung pada Manusia Dengan bergantung hanya kepada Alloh SWT, kita terhindar dari kekecewaan yang sering datang ketika berharap pada manusia.

Refleksi dari Surat Ar-Rahman- Menjawab Pertanyaan dalam Surat Ar-Rahman

Alloh SWT berulang kali menanyakan dalam surat Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Pertanyaan ini bukanlah sekadar sindiran, melainkan panggilan untuk membuka mata hati kita terhadap kebenaran bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian-Nya.
Syukur, sebagai respons atas nikmat ini, bukanlah sekadar ucapan lisan. Ia adalah kondisi jiwa yang tercermin dalam tindakan kita sehari-hari. Dengan menyadari nikmat, rasa syukur yang mendalam akan membawa kita pada sikap yang lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih berorientasi pada ridha Alloh SWT.
Namun, refleksi tentang nikmat ini juga menuntut kita untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar mensyukuri nikmat ini? Atau, adakah kita masih tenggelam dalam keluhan, meski begitu banyak nikmat di depan mata?

Menghidupkan Nikmat melalui Amal

Nikmat yang disyukuri bukan hanya dirasakan, tetapi juga dimanfaatkan untuk memberi manfaat kepada sesama. Nikmat Islam, misalnya, mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Alloh SWT sekaligus dengan manusia. Nikmat Al-Quran menjadi pedoman yang harus kita ajarkan kepada generasi berikutnya, sementara nikmat sehat seharusnya menjadi modal untuk terus produktif.
Tidak kalah pentingnya, nikmat tertutupnya aib mengajarkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri tanpa merasa lebih baik dari orang lain. Sedangkan kebebasan dari ketergantungan kepada manusia adalah cerminan keikhlasan dan tawakal kepada Alloh SWT sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Menuju Syukur yang Utuh

Syukur adalah energi yang menuntun kita pada keberkahan. Alloh SWT telah berjanji dalam Al-Quran, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan (nikmat) kepadamu.” Janji ini mengajarkan kita bahwa syukur bukanlah beban, tetapi jalan menuju limpahan nikmat yang lebih besar.
Dalam setiap tarikan napas, hembusan angin, atau detik-detik yang berlalu, nikmat Alloh SWT mengelilingi kita tanpa putus. Maka, mari jadikan hidup kita lebih bermakna dengan terus merefleksikan nikmat yang telah diberikan-Nya, lalu bersyukur dengan sepenuh hati, lisan, dan perbuatan.