April 22, 2026
Copilot_20260422_061211

Yusufachmad Bilintention

Aku bukan anti teknologi,
aku hanya ingin puisi tetap bernafas.
Biarlah mesin merangkai soneta,
tapi biarkan manusia yang mengingat
dengan air mata yang tak bisa diprogram.

Algoritma tak mengenal kehilangan,
tak pernah merasakan sunyi
saat nama seorang sahabat
hilang dari panggilan sehari-hari.
Ia hanya menghitung,
sementara manusia menyimpan luka
sebagai catatan sejarah di dalam dada.

Maka aku menulis,
bukan untuk bersaing dengan mesin,
melainkan untuk menjaga ingatan:
puisi adalah arsip rahasia
tentang cinta, perang, dan doa,
tentang suara yang tak pernah selesai
meski generasi berganti.

Puisi adalah jejak kolektif,
bisikan nenek moyang
yang masih bergetar di telinga cucu.
Ia adalah cahaya yang berpindah tangan,
menolak padam meski dunia
dipenuhi layar dan kode.

Selama manusia masih mampu
menyebut cinta dengan gemetar,
puisi akan tetap hidup—
bukan sekadar milik penyair,
melainkan milik umat manusia,
sebagai ingatan bersama
yang tak tergantikan oleh algoritma.

Surabaya, 22-4-2026

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly