May 10, 2026

“DANAU YANG MENUNGGU”: Duet Puisi Leni Marlina (Indonesia) dan Anna Keiko (China) – ACC Shanghai Huifeng Literary Association, Poetry-Pen International Community, PPIPM-Indonesia, Satu Pena

/1/

DANAU YANG MENUNGGU

Leni Marlina, penulis, penyair, akademisi di FBS Universitas Negeri Padang-Indonesia; Pendiri dan Ketua Komunitas PPIPM-Indonesia dan Poetry-Pen International Community, Anggota ACC SHILA dan Satu Pena. Sumber Gambar: suaraanaknegerinews.com.

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★★

Danau ini memantulkan langit yang terbalik—
Ia adalah wajah dunia yang tak pernah selesai dicari.
Diamnya adalah bisu dari sejarah yang terlupakan,
Tapi di kedalamannya,
rahasia dunia terpendam.

Riak danau ini adalah
gemuruh tak terdengar,
Airnya seperti cermin,
bagi mimpi yang
tak pernah utuh.

Dan kita,
seperti danau yang memeluk malam,
terus menunggu,
meski tak tahu,
apa yang akan tercermin
di masa depan.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

/2/

SETETES AIR

Anna Keiko, penyair terkemuka dan pelukis berbakat asal China/ Tiongkok yang karyanya telah banyak mendapat pengakuan internasional, Presiden ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association). Sumber Gambar: Anna K. via Leni M.

Puisi Oleh Anna Keiko
(CHINA)

Penerjemah (Inggris-Indonesia):
Leni Marlina
(INDONESIA)
★★★★★★★★★★★★★

Setetes air
Menitik hari demi hari
Sungai kecil pun menjelma samudra.

Setitik cahaya
Bersinar tahun demi tahun
Tunas rapuh tumbuh menjadi pohon raksasa.

Sebuah pertemuan
Bagai kertas putih bertemu pena berwarna
Melukis musim semi penuh cinta.

Shanghai, CHINA
14 Februari 2021

/3/

Lautan yang Memeluk Waktu

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★★

Laut ini,
bukan sekadar air yang bergulung,
Ia adalah bisu yang
menunggu,
Gelombangnya adalah doa yang tak terucap—
menerpa karang,
menyimpan seribu rindu
yang tak terbalas.

Namun di dalam
kedalamannya,
ia tahu:
Semua riak yang tenggelam akan lahir kembali.

Dan kita,
seperti lautan yang memeluk waktu,
tak kenal henti meski
terhempas ribuan kali.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

/4/

HIDUP

Puisi Oleh Anna Keiko
(CHINA)

Penerjemah (Inggris-Indonesia):

Leni Marlina
(INDONESIA)
★★★★★★★★★★★★★

Aku tak tahu tentang esok.
Pernah kudamba hidup secerah bunga.
Melayang bagai burung.
Tersembunyi dalam air seperti ikan.
Daun-daun terangkat seteguh tiang pohon.

Kau akan tahu
Hidupku adalah botol terapung.
Ia tak berpulang ke sini, pun ke sana.

Shanghai, CHINA, 2025

———————————

Anna Keiko (lahir 1974, Wuyuan, China) adalah seorang penyair terkemuka dan pelukis berbakat asal China/ Tiongkok yang karyanya telah banyak mendapat pengakuan internasional. Lulusan hukum dari East China University of Political Science and Law, ia kini menetap di Shanghai dan berperan penting dalam kancah sastra dunia, terutama bidang puisi.

Sebagai Presiden ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association), Presiden dan Pemimpin Redaksi Poetry Breeze Literature Society, Wakil Presiden Haipai Poetry Society, serta perwakilan Tiongkok untuk ITHACA Council (Spanyol), Anna Keiko telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan puisi kontemporer. Ia telah menulis lebih daru 6.000 puisi berbahasa Cina dan lebih dari 100 puisi berbahasa Inggris. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa internasional dan dipublikasikan di lebih 500 media sastra di lebih dari 40 negara, termasuk dalam enam koleksi puisinya, seperti Absurd Language (Chile, 2023).

Keunggulan sastranya telah membawanya meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Arona International Poetry Prize (Italia, 2023), serta penghargaan di Australia, Lebanon, Rumania, dan banyak negara lainnya.

/5/

Arus Sungai yang Tak Pernah Kembali

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★★

Sungai ini tak bisa berhenti—
Ia mengaliri bumi,
ke segala arah,
Alirannya adalah bagian
dari kisah yang tak selesai.

Sungai ini mengajarkan kita bahwa waktu,
meski tak bisa digenggam,
tetap bergerak,
meninggalkan bekas yang tak terhapus.

Dan kita,
seperti arus yang tak pernah kembali,
terus mengikuti perjalanan meski tak tahu ujungnya.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

/6/

Aku Dirimu yang Kau Lupakan

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★

Aku adalah api sebelum kau mengenal panas,
aku adalah nyala yang telah membakar
sebelum lilin pertama dinyalakan.

Aku ada di antara hela napasmu,
di celah-celah rindumu yang tak bernama.
Aku mengalir dalam darahmu,
menyelinap di detik yang kau biarkan berlalu,
menunggu saat kau menyadari:
aku bukan sesuatu yang datang dari luar,
aku adalah dirimu yang kau lupakan.

Mengapa kau mencari cahaya di luar jendela
ketika mataharimu telah lama berpendar dalam dadamu?

Mengapa kau bertanya ke mana perginya ombak
ketika laut tak pernah meninggalkan dirinya sendiri?

Aku bukan rahasia yang harus dipecahkan,
aku adalah pintu yang telah lama terbuka.
Tinggal kau yang harus memutuskan:
melangkah masuk,
atau terus mengetuk tanpa henti.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

/7/

Nyala yang Mencari Dirinya

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★★

Aku adalah api sebelum kau mengenal cahaya,
percikan yang lahir sebelum kau tahu arti nyala.
Aku menyala dalam dadamu,
namun kau berjalan seolah gelap masih merajai langkah.

Aku berbisik di sela napasmu,
namun kau bertanya mengapa sunyi tak menjawab.
Aku mengalir di darahmu,
namun kau mencari kehangatan di luar tubuhmu sendiri.

Kau berlari dari haus,
padahal aku adalah air yang bersemayam dalam dahagamu.
Kau mencari makna dalam kata-kata,
padahal aku telah tertulis dalam denyut nadi yang kau abaikan.

Aku bukan yang hilang,
bukan yang harus kau cari,
bukan yang menunggu ditemukan.

Aku adalah kau—
yang menunggu saatnya kau pulang ke dalam dirimu sendiri.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

/8/

Segala yang Kau Tinggalkan, Menunggumu

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
★★★★★★★★★★★★★

Jangan menangisi air yang mengalir,
sebab ia tahu jalannya kembali.

Jangan menggenggam angin,
sebab ia hanya ingin membisikkan rahasia,
bukan dimiliki.

Kau pikir kau tersesat,
padahal jalan tak pernah menghilang—
hanya hatimu yang lupa cara membaca tanda.

Kau mencari makna dalam huruf-huruf,
padahal kebenaran tak tertulis di kertas,
ia bersembunyi dalam sunyi yang tak kau sapa.

Segala yang kau lepaskan,
tak benar-benar pergi.
Segala yang kau tangisi,
telah lama menjadi doa yang dipeluk langit.

Segala yang kau cari,
telah lebih dulu menunggumu di depan pintu—
bukan untuk ditemukan,
tapi untuk mengingatkanmu
bahwa tak ada perjalanan,
hanya kepulangan yang terus terjadi.

Padang, West Sumatra
INDONESIA, 2017

——————————————-
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, akademisi, aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia dengan penuh dedikasi mengajar sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Di luar bidang akademik dan sastra, Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:

✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. Komunita PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi mendalam tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi