DIALOG DI AMBANG SUNYI
Renungan Seorang Pencari kepada Tuhannya
Oleh: Rizal Tanjung
—
Lelaki itu berkata:
Tuhanku…
mengapa hidup terasa seperti perjalanan panjang
tanpa peta dan tanpa rumah?
Aku berjalan dari hari ke hari
memikul diriku sendiri
seperti beban
yang tak pernah selesai kupahami.
Aku mengenakan banyak wajah,
namun tak satu pun
benar-benar aku.
Siapakah aku sebenarnya?
—
Suara Sunyi menjawab:
Engkau adalah rahasia
yang sedang belajar membuka dirinya.
Namun engkau terlalu sibuk
menjadi seseorang
hingga lupa menjadi hamba.
—
Lelaki itu berkata:
Aku telah mencari-Mu
di kitab-kitab,
di rumah-rumah ibadah,
di nasihat para bijak,
bahkan di kesunyian malam
yang membuat dadaku bergetar.
Tetapi mengapa Engkau
tetap terasa jauh?
—
Suara itu menjawab:
Aku tidak pernah jauh.
Engkaulah
yang berjalan menjauh
dengan langkah keinginanmu sendiri.
Engkau mencari-Ku
seperti musafir mencari mata air,
padahal Aku mengalir
di dalam hausmu.
—
Lelaki itu berkata:
Dunia memperlihatkan pelangi—
kekayaan, cinta, kemuliaan,
ladang emas yang memikat mata.
Aku mengejarnya, Tuhan.
Aku ingin memiliki semuanya.
Namun setiap keberhasilan
justru meninggalkan kekosongan.
Mengapa demikian?
—
Jawaban datang lembut:
Karena dunia adalah cermin,
bukan tujuan.
Ia memantulkan keinginanmu,
bukan memenuhi jiwamu.
Engkau mencoba mengisi ruh
dengan sesuatu
yang hanya mampu memuaskan tubuh.
—
Lelaki itu berbisik:
Aku lelah…
Aku merasa seperti pelari
di labirin tanpa pintu keluar.
Semakin jauh aku pergi,
semakin aku kehilangan diriku.
Di manakah jalan pulang?
—
Suara itu berkata:
Berhentilah.
Jalan pulang
tidak ditemukan dengan berlari.
Ia muncul
ketika engkau berani
masuk ke dalam sunyi.
—
Lelaki itu gemetar:
Ke dalam diriku sendiri?
Di sana hanya ada ketakutan,
penyesalan,
dan bayang-bayang dosa.
—
Jawaban itu menjadi cahaya:
Di situlah Aku menunggumu.
Aku tidak bersemayam
di kesempurnaanmu,
melainkan di keretakan hatimu.
Ketika engkau hancur,
tabir-tabir akan terbuka.
—
Lelaki itu menangis:
Selama ini
aku melihat rumput lebih hijau
di kehidupan orang lain.
Aku iri pada dunia,
aku mengejar apa yang bukan milikku.
Apakah aku telah tersesat terlalu jauh?
—
Suara itu tersenyum dalam diam:
Tidak ada jarak
bagi jiwa yang ingin kembali.
Satu langkah menuju-Ku
lebih dekat
daripada seluruh perjalanan hidupmu.
—
Lelaki itu berkata lirih:
Jika Engkau begitu dekat,
mengapa aku baru merasakannya sekarang?
—
Jawaban terakhir turun seperti hujan:
Karena baru sekarang
engkau berhenti mencari Tuhan
sebagai milikmu—
dan mulai menyerahkan dirimu
sebagai milik Tuhan.
—
Lelaki itu pun terdiam.
Dalam diam itu
ia merasakan sesuatu runtuh—
kesombongan,
ketakutan,
dan ilusi tentang dirinya sendiri.
Ia memahami akhirnya:
Tuhan bukan tujuan di ujung jalan.
Tuhan adalah Cahaya
yang menuntun setiap langkah
bahkan ketika ia tersesat.
Dan di ambang sunyi itu
lelaki pencari makna hidup berkata:
“Aku tidak lagi bertanya
di mana Engkau berada…
sebab kini aku tahu—
setiap napasku
adalah jawaban-Mu.”
—
Sejak malam itu,
pencari itu tetap hidup di dunia,
namun hatinya telah pulang.
Ia berjalan,
bekerja,
mencintai,
dan terluka—
tetapi di kedalaman jiwanya
ia selalu berdialog
dengan Tuhan
yang tak pernah lagi
ia cari di luar dirinya.
—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.