LELAKI BERSERBAN DEBU
(Hikayat Seorang Pengembara Sufi)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Ia adalah seorang lelaki
yang berjalan pelan di tepi kehidupan,
mengenakan selubung-selubung sunyi
lebih banyak daripada pakaian di tubuhnya.
Orang-orang memanggilnya musafir,
sebagian menyebutnya gagal,
yang lain mengira ia melarikan diri dari dunia—
padahal ia sedang pulang
ke rumah yang tak terlihat mata.
Di pundaknya
tergantung beban yang tak bernama:
keinginan menjadi seseorang,
ketakutan kehilangan segalanya,
dan rindu yang tak pernah selesai
meski telah ia sujudkan berkali-kali.
Setiap pagi
ia berjalan melewati pasar kehidupan,
melihat manusia menimbang kebahagiaan
dengan emas dan pujian.
Ia pernah seperti mereka.
Pernah mengejar pelangi jabatan,
meneguk matahari ambisi,
dan berlari di gurun waktu
hingga jiwanya retak
seperti tanah yang lupa hujan.
Pada suatu malam—
ketika dunia tertidur dalam kemenangan palsu—
lelaki itu duduk sendiri,
dan untuk pertama kalinya
ia mendengar suara
yang tidak datang dari luar.
Suara itu berkata:
“Mengapa engkau mencari-Ku
di tempat yang bukan Aku?”
Sejak saat itu
ia menjadi asing.
Ia berhenti mengejar ladang emas,
sebab ia menemukan
bahwa keserakahan hanyalah
kemiskinan yang mengenakan mahkota.
Ia berhenti iri
pada rumput di sisi lain kehidupan,
karena ia sadar:
hijau atau kering
bergantung pada mata yang bersyukur.
Kini lelaki itu berjalan
seperti bayang angin—
hadir tanpa memiliki,
mencintai tanpa menggenggam.
Orang melihatnya miskin,
padahal ia telah kehilangan
semua yang membuat manusia lapar.
Ia minum dari sungai waktu
tanpa ingin menahannya.
Ia menatap senja
tanpa takut malam datang.
Dan ketika ditanya,
“Apakah engkau telah menemukan Tuhan?”
lelaki itu tersenyum,
matanya seperti sumur tua
yang menyimpan langit.
Ia menjawab perlahan:
“Aku tidak menemukan-Nya.
Aku hanya kehilangan diriku—
dan ternyata
yang tersisa hanyalah Dia.”
Sejak itu
lelaki berserban debu itu berjalan terus,
melewati kota dan kesunyian,
membawa rahasia terbesar para sufi:
bahwa perjalanan terjauh manusia
bukanlah melintasi dunia,
melainkan satu langkah kecil
masuk
ke dalam hati sendiri.
Dan di sanalah
ia akhirnya tinggal—
seorang lelaki biasa
yang telah mati sebelum mati,
hidup sebagai cahaya
di balik tubuh fana.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.