KESEHATAN, PENYAKIT DAN KEMATIAN
oleh Reiner Emyot Ointoe*
–
„Wa idza maridtu fahuwa yashfeen.”
Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” — QS. Ash-Shu‘ara: 80.
Takdir manusia selalu bergulir dalam tiga tema besar: kesehatan, penyakit, dan kematian.
Ketiganya membentuk lingkaran pengalaman eksistensial yang tak terpisahkan, dan dalam sejarah pemikiran modern, sejumlah pakar telah menguraikan perspektif yang memperkaya cara kita memandang perjalanan hidup ini.
Dalam ranah kesehatan, Herbert Benson, seorang dokter jantung dan profesor Harvard yang lahir pada 24 April 1935 di Yonkers dan wafat pada 3 Februari 2022 di Boston pada usia 86 tahun, menekankan bahwa tubuh manusia memiliki kapasitas bawaan untuk sembuh.
Melalui Timeless Healing: The Power and Biology of Belief(1996), ia menunjukkan bahwa keyakinan, doa, dan meditasi dapat mengaktifkan mekanisme biologis penyembuhan alami.
Benson menegaskan bahwa kesehatan sejati lahir dari keseimbangan antara farmasi, prosedur medis, dan perawatan diri, dengan fokus pada praktik spiritual yang menumbuhkan “remembered wellness.”
Ia melihat iman sebagai faktor penting yang memperkuat respons relaksasi dan mempercepat pemulihan, sehingga kesehatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal spiritualitas yang tertanam dalam diri manusia.
Namun takdir manusia tidak berhenti pada kesehatan, karena penyakit menjadi bagian dari perjalanan yang tak bisa dihindari.
Benson juga menyoroti “faith factor”, yakni peran besar keyakinan religius dalam memperkuat respons relaksasi dan mempercepat pemulihan.
Ia berargumen bahwa lebih dari 60% masalah medis dapat ditangani dengan kombinasi keyakinan, doa, dan dukungan dokter yang peduli.
Bahkan Benson juga menegaskan bahwa tubuh manusia secara genetik “wired for God“(keterjalinan dengan Tuhan), sehingga iman dan keyakinan berperan besar dalam kesehatan.
Di sinilah pengalaman Eben Alexander(72), seorang ahli bedah saraf, menjadi relevan.
Dalam bukunya Proof of Heaven(2012), ia menceritakan pengalaman mendekati kematian akibat meningitis parah yang membuatnya koma.
Alexander menggambarkan persepsi spiritual yang ia alami, sebuah kesadaran yang melampaui batas tubuh fisik, yang kemudian ia tafsirkan sebagai bukti bahwa kesadaran manusia tidak berakhir dengan kerusakan otak.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa penyakit, meski tampak sebagai ancaman, juga dapat membuka pintu menuju pemahaman baru tentang eksistensi dan makna hidup.
Akhirnya, kematian menjadi takdir yang tak terelakkan: “Kullu nafsin dzāiqatu al-mauti tsumma ilainā turja’ūn“(QS. Al-Ankabut: 57).
Sementara, Elisabeth Kübler-Ross, psikiater kelahiran Zürich pada 8 Juli 1926 dan wafat di Arizona pada 24 Agustus 2004 pada usia 78 tahun, melalui On Death and Dying(1969), memperkenalkan konsep lima tahap berduka(the five stages of grief): penyangkalan(denial), kemarahan(anger), tawar-menawar(bargaining), depresi, dan penerimaan(acceptance).
Kelima tahap ini pernah dianjurkan oleh Slavoj Zizek(77), filsuf Slovenia, ketika dunia dilanda pandemi Covid 19 pada awal 2020 yang mematikan, lewat buku kecilnya: Pandemic!: COVID-19 Shakes the World(2020).
Kübler-Ross menekankan pentingnya mendengarkan pasien terminal, memberi ruang bagi ekspresi emosional, dan mengakui kebutuhan spiritual di akhir kehidupan.
Dengan pendekatan ini, kematian tidak lagi dipandang semata sebagai akhir biologis, melainkan sebagai proses manusiawi yang dapat dijalani dengan keterbukaan dan empati.
Ketiga pakar ini, melalui karya dan pengalaman mereka, memperlihatkan bahwa takdir manusia dalam kesehatan, penyakit, dan kematian bukanlah garis lurus yang dingin, melainkan sebuah perjalanan penuh makna.
Jika Benson menekankan kekuatan iman dalam menjaga kesehatan, Alexander menghadirkan pengalaman spiritual dari kedalaman penyakit, dan Kübler-Ross mengajarkan cara menghadapi kematian dengan kemanusiaan.
Bersama-sama, mereka membentuk narasi bahwa takdir manusia adalah perpaduan antara tubuh, pikiran, dan jiwa, yang saling berkelindan hingga akhir hayat atau ketika ajal menjemput kita kapanpun?
*Atas saran dari penekun karya-karya Franz Kafka(1883-1924), Sigit Susanto, kini tinggal di Swiss, mulai artikel ini saya tidak lagi menggunakan nama samaran: ReO Fiksiwan. Vielen Dank.
#coversongs:
„Theme from Dying Young” adalah instrumental Kenny G yang pertama kali dirilis tahun 1991 sebagai bagian dari soundtrack film Dying Young (dibintangi Julia Roberts dan Campbell Scott).
Lagu ini kemudian masuk kembali dalam album kompilasi Kenny G: Greatest Hits pada 1997.
Maknanya erat dengan nuansa cinta, kehilangan, dan keindahan yang tragis—musik saxophone lembutnya menggambarkan emosi mendalam dari kisah film tersebut.
#credit foto koleksi pribadi, kecual sunset visuals @naturevisuals.