Teeater Malam Ini “Namaku Inggrid”: Jeritan Gedung Terbengkalai yang Bangkit dan Suara Seni yang Menolak Mati
Oleh Leni Marlina
Padang, Sumbar — Suaraanaknegerinews.com| Malam ini, Sabtu, 25 Oktober 2025 (Pukul 20:00 WIB-selesai), sebuah gedung kebudayaan yang pembangunannya terbengkalai di Taman Buday Sumatera Barat, Jl Diponegoro No. 31, Padang—yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai “Gedung Mangkrak” karena mangkraknya pembangunan—akan kembali bernyawa. Namun, kehidupan yang muncul bukan berasal dari palu konstruksi atau seremoni resmi, melainkan dari napas para seniman, pecinta seni, dan budayawan yang bertekad untuk menghidupkan kembali ruang budaya yang hampir terlupakan. Gedung itu, yang selama ini tampak sunyi dan tertutup debu sejarah, akan menjadi panggung bagi pengalaman teater yang eksperimental dan penuh simbol, sebuah pertunjukan yang menantang batas antara realitas dan imajinasi.

Teater Kuliek Padang berkolaborasi dengan Studio 31 untuk menghadirkan pertunjukan teater bertajuk “Namaku Inggrid”, sebuah karya dengan pimpinan produksi: Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd., disutradarai oleh Boyke Sulaiman dengan naskah dari Ilhamdi Sulaiman. Keduanya adalah nama yang melekat pada satu jiwa kreatif yang ingin menyalakan kembali bara kesenian di tanah air Indonesia. Boyke menceritakan (melalui wawancara tertulis pada tanggal 24 Oktober 2025): yang menggerakkannya bukan hanya kerinduan, tapi juga rasa bersalah pada ruang yang dibiarkan mati. “Gedung yang mangkrak itu seperti tubuh manusia yang kehilangan suara, padahal di dindingnya masih tersisa gema tawa dan langkah seniman masa lalu. Saya ingin mengembalikannya ke fungsi awalnya sebagai ruang hidup, bukan sekadar bangunan,” ujarnya.
Dari keheningan gedung itulah lahir sosok Ingrid. Ia bukan sekadar arwah noni Belanda dari rumah dansa kolonial yang pernah ada, melainkan simbol ingatan kolektif tentang seni yang ditinggalkan. “Saat pertama kali saya menatap panggung kosong gedung itu, saya seperti mendengar seseorang memanggil dari masa lalu. Nama itu: Ingrid,” kata Boyke. Karakter Ingrid menjadi roh penjaga, perwujudan “jiwa panggung” yang menolak dilenyapkan oleh waktu dan kebijakan, mengingatkan kita bahwa kebudayaan adalah bagian dari hidup yang tidak boleh hilang.

Pementasan ini memadukan unsur musik karat dan bunyi industri—drum oli, rantai, pipa karatan—yang bukan sekadar properti, tetapi suara dari tubuh kota yang lelah. Menurut Boyke, “Drum oli, rantai, dan pipa itu menggantikan orkestra. Mereka adalah jeritan ruang-ruang tua yang digusur oleh mesin ekonomi. Dari karat, saya menemukan puisi.” Setiap bunyi menjadi medium untuk menyampaikan rasa sakit sekaligus harapan dari ruang-ruang kesenian yang terlupakan.
Pementasan “Namaku Inggrid” digambarkan sebagai ritual kebangkitan ruang. Ritual bukan sekadar pentas yang dipentaskan, tetapi persembahan bagi ruang, sejarah, dan kesenian yang nyaris punah. Kebangkitan di sini bukan kebangkitan arwah, melainkan kesadaran—bahwa setiap ruang seni yang dibiarkan mati adalah kehilangan spiritual bagi masyarakat. Boyke menambahkan bahwa latihan pertunjukan membawa pengalaman spiritual tersendiri bagi para aktor. Mereka tidak hanya berlatih dialog, tetapi juga mendengarkan suara dinding, menghirup debu sejarah, dan menjadikan semuanya bagian dari akting. Bahkan ada momen saat salah satu aktor menangis karena merasa “dihantui” energi ruang itu.
Pertunjukan ini juga menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini. Boyke menekankan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu; ia hidup di antara kita melalui kenangan, bangunan, dan kebijakan yang sering diulang. “Dialog dua zaman adalah pertemuan antara mereka yang dulu membangun ruang budaya dan kita yang kini sering melupakannya,” ujarnya.
Bagi penonton, teater ini memberikan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Menonton teater langsung berarti menyaksikan kehidupan yang hidup, rentan, dan jujur. “Tidak ada tombol ‘ulang’ atau ‘hapus’. Energi tubuh, napas aktor, keringat yang jatuh di bawah cahaya lampu—semua itu tak bisa diunduh,” tegas Boyke.
Selain menampilkan keindahan artistik, pertunjukan ini juga membawa kritik sosial terselubung. Banyak ruang seni yang dibiarkan mangkrak, sementara pembangunan diarahkan pada hal-hal yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. “Namaku Ingrid adalah jeritan lirih terhadap sistem yang menilai seni dari untung-rugi, bukan dari daya hidupnya,” katanya. Salah satu kalimat naskah yang kuat berbunyi: “Kalian bukan hanya mengusir arwahku, kalian membunuh kebudayaan yang digaji untuk dirawat.” Kalimat itu menjadi tamparan dan sekaligus doa bagi semua pihak yang bertanggung jawab atas kebudayaan.
Tim produksi pertunjukan terdiri dari nama-nama yang menjaga bara teater Sumatera Barat tetap menyala: Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd. (Produser), Mak Ye (Penata Lampu), Ikhsan Rasha (Musik), Ery Mursyaf (Koreografi), dan tim properti FPSB—Zamzami Ismail, Yenni Ibrahim, Dadang Leona—yang mengubah bahan-bahan bekas menjadi simbol kehidupan baru. Empat aktor utama, Rifa, Ayat, Roma, dan Dalo, tidak sekadar memerankan karakter, melainkan menjadi tubuh gedung itu sendiri, menyimpan ingatan tentang rumah, masa lalu, dan cita-cita yang ingin dicapai.
Pesan terdalam dari pertunjukan ini jelas: yang mati belum tentu hilang, dan yang hidup belum tentu sadar. Ingrid hadir untuk mengingatkan bahwa kebudayaan tidak bisa dikubur selama masih ada satu jiwa yang berani menghidupkannya kembali. Boyke menambahkan, jika suatu hari gedung ini kembali sunyi, yang tersisa adalah keyakinan bahwa ruang bisa musnah, tapi semangat mencipta tidak dapat diruntuhkan.
Undangan Terbuka

Pementasan teater “Namaku Inggrid” dapat disaksikan malam ini di Gedung Departemen Kebudayaan Sumatera Barat, Jl. Diponegoro No. 31, Padang, pukul 20.00 WIB. Untuk informasi dan reservasi, hubungi Mas Bambang Art di +62 812-6844-1946.
Ketika lampu panggung menyala di antara debu dan bayangan, dengarkan suara lembut yang memanggil:
“Namaku Inggrid.”
Datanglah dan biarkan diri Anda terseret dalam pengalaman yang memadukan sejarah, seni, dan misteri. Teater bukan sekadar panggung; ia adalah jiwa budaya yang menolak mati.
(Leni Marlina, Editor-in-Chief – Suaraanaknegerinews.com)