Gereja, Ruang Sunyi yang Menjerit di Tengah Krisis Zaman
Oleh : Redaktur Joko
Penulis : Gereja & Spiritualitas Pdt. Sammy Sahulata, M. Si.
http://suaraanaknegerinews.com | Ambon, Maluku_ Di tengah derasnya arus zaman yang membawa gelombang krisis ekologis, kemiskinan struktural, kehampaan spiritual, dan dekadensi moral, muncul pertanyaan mendasar yang menghantui banyak komunitas iman: masih relevankah gereja hari ini?
Sebuah refleksi segar arus zaman ini, datang dari Pendeta Sammy Sahulata, M.Si., Staf Lembaga Pembinaan Jemaat, Gereja Protestan Maluku di Kantor Sinode GPM, Jln. D. I. Panjaitan. Nmr 1 (Unit Kerja LPJ GPM) Kompleks Gereja Maranatha, Lantai 2 Gedung PB AMGPM, AMBON, MALUKU. Rabu (7/5/25).
Bagi Pdt. Sahulata, jawaban atas pertanyaan itu tidak ditemukan dalam kesibukan mempertahankan institusi, melainkan dalam keberanian gereja untuk hadir sebagai ruang sunyi yang menjerit. Sebuah metafora yang sekaligus menggugah dan paradoks: hening, tapi bersuara; diam, tapi tidak apatis.
Sunyi yang Jujur: Spiritualitas yang Memeluk Luka
Dalam tulisannya, Pdt. Sahulata mengajak gereja untuk menapaki kembali keheningan yang jujur. Bukan diam yang mematikan, tetapi diam yang menjadi ruang kontemplatif, tempat umat berani mengakui luka dan kegagalannya di hadapan Allah dan sesama. Di ruang ini, spiritualitas menjadi proses pemurnian diri, bukan pertunjukan kesalehan.
“Dari luka yang dihayati dan diterima,” tulisnya, “hadir pemahaman baru tentang kasih karunia.”
Dari Diam Menjadi Suara: Gereja yang Profetik
Namun keheningan tidak boleh berhenti sebagai pengalaman personal. Dari perenungan yang jujur itulah gereja seharusnya menemukan suaranya. Suara profetik, yang menyuarakan penderitaan, membongkar ketimpangan, dan berpihak kepada mereka yang tertindas.
Menurut Pdt. Sahulata, suara profetik tidak boleh lahir dari moralitas yang arogan, tapi dari solidaritas yang ikut menderita. Gereja harus merendahkan dirinya, tidak sekadar mengajar, tapi berjalan bersama dalam peluh dan air mata dunia.
Transformasi: Menjadi Sekolah Kesadaran
Lebih jauh, gereja yang dibayangkan bukan sekadar tempat beribadah, tetapi menjadi “sekolah kesadaran eksistensial”. Di sinilah umat belajar menjadi manusia yang utuh, sadar akan kehadiran Tuhan, peka terhadap sesama, dan bertanggung jawab atas dunia yang dipercayakan.
Transformasi itu tidak lahir dari dogma semata, tapi dari pengalaman iman yang dirayakan dalam liturgi dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Tubuh yang Retak demi Kasih
Pada akhirnya, gereja yang diimpikan bukan menara gading atau institusi yang sibuk melayani dirinya sendiri. Tapi tubuh yang bersedia retak oleh luka dunia, demi kasih yang lebih besar. Gereja yang seperti ini, tulis Pdt. Sahulata, akan terus menangis bersama dunia, namun tetap teguh dalam pengharapan.
“Inilah arah baru gereja yang hadir bukan untuk menguasai, melainkan untuk mengasihi. Gereja yang tidak takut terluka, karena tahu bahwa dari luka-luka itulah kasih sejati mengalir, Shaloom”.tulis Pdt. Sahulata menutup.