April 30, 2026
WhatsApp Image 2026-04-30 at 05.33.48

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Interpretasi adalah pembalasan dendam akal budi terhadap seni. Bahkan lebih dari itu. Itu adalah pembalasan dendam akal budi terhadap dunia. Menginterpretasikan berarti memiskinkan, menguras dunia—untuk menciptakan dunia bayangan ‘makna.’” — Susan Sontag(1933-2004), Against Interpretation(1966).

Kaum intelektual publik selalu tampil dengan wajah ganda: satu wajah yang menatap kekuasaan dengan senyum sinis, dan satu wajah lain yang menatap rakyat dengan mata penuh harapan.

Di negeri yang dikuasai rezim otoritarian, wajah ganda ini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan strategi bertahan hidup.

Rocky Gerung, misalnya, tampil sebagai filsuf yang lebih sering berdiri di panggung televisi ketimbang di ruang kuliah.

Ia mengubah filsafat menjadi hiburan politik, menjadikan kata-kata sebagai peluru, dan menjadikan dirinya sebagai badut demagog sekaligus gladiator.

Ketika ia menyebut pemerintah sebagai “pembuat hoaks terbaik,” publik bersorak, sementara penguasa menggeram.

Intelektual publik dalam gaya Rocky adalah semacam pengganggu pesta: ia datang tanpa undangan, merusak dekorasi, lalu pulang dengan membawa tepuk tangan sekaligus caci maki.

Edward Said pernah menulis bahwa intelektual sejati adalah eksil, seorang pengembara yang tidak tunduk pada institusi resmi.

Rocky tampaknya memahami peran itu, tetapi dengan gaya yang lebih pop: ia menjadikan eksil bukan sebagai penderitaan, melainkan sebagai tontonan.

Di tangan Rocky, eksil berubah menjadi kanal YouTube, menjadi trending topic, menjadi meme. Pertanyaannya: apakah intelektual publik yang tampil seperti selebritas masih bisa menjaga otonomi moral, ataukah ia sekadar menjadi bagian dari industri hiburan politik?

Di sisi lain, dari panggung lokalitas Manado yang jauh dari hingar bingar metropolutan istana pusat kekuasaan Jakarta, Reiner Emyot Ointoe memilih jalur yang lebih sunyi, sedikit filosofis, dan lebih eksistensialis.

Ia menulis tentang Tuhan dan senjakala kebudayaan, seolah ingin menegaskan bahwa intelektual publik tidak harus selalu berteriak di jalanan atau di layar kaca.

Ia mengganggu kenyamanan publik dengan cara yang lebih halus: menempatkan Tuhan bukan sebagai dogma, melainkan sebagai problem pengetahuan.

Dalam gaya satire, Reiner adalah semacam pengacau pesta intelektual: ia datang dengan membawa buku tebal, mematikan musik, lalu memaksa tamu-tamu untuk berdiskusi tentang ontologi.

Mengacu Ron Eyerman(80) dalam Between
Culture and Politics: Intellectuals in
Modern Society(1994), menekankan bahwa intelektual tidak bisa dipahami sebagai kelas sosial tetap, melainkan sebagai posisi yang terus dinegosiasikan.

Rocky dan Reiner adalah dua persona(Latin, artinya: karakter dalam drama atau Jung dalam psikologi menyebut „masker“) yang menegosiasikan posisi itu dengan cara berbeda: Rocky melalui panggung politik populer, Reiner melalui horizon filosofis kultural yang lebih sunyi.

Akan tetapi, keduanya sama-sama menolak tunduk, tetapi dengan strategi yang berbeda.

Rocky memilih satire yang keras, Reiner memilih satire yang halus.

Rocky menembakkan kata-kata seperti peluru, Reiner menulis kata-kata seperti racun yang pelan-pelan meresap.

Dalam rezim otoritarian, peran intelektual publik selalu ambigu. Mereka bisa menjadi pengganggu, bisa menjadi badut demgog, bisa pula menjadi nabi palsu, atau bisa menjadi suara yang benar-benar mengganggu kekuasaan.

Melalui Edward W. Said dalam Representations of Intellectual: The 1993 Reith Lectures(1994), menyebut peran intelektual sebagai “berbicara kebenaran kepada kekuasaan.”

Tetapi dalam praktiknya, kebenaran itu sering kali terdengar seperti lelucon pahit sekaligus pepat.

Rocky dan Reiner, 2R-Persona atau dengan dua topeng persona mereka, memperlihatkan bahwa jalan intelektual publik memang penuh tafsir: kadang satire, kadang tragedi, kadang sekadar hiburan.

Namun satu hal pasti: dalam dunia yang dikendalikan rezim otoritarian, intelektual publik tetap menjadi duri dalam daging, meski kadang duri itu lebih mirip jarum pentul yang hanya membuat penguasa gatal.

Esai ini hadir bukan sekadar refleksi, melainkan satire atas kenyataan: bahwa intelektual publik, entah dalam bentuk Rocky yang berteriak atau Reiner yang menulis, tetap harus menanggung risiko.

Mereka adalah badut yang serius, pengacau yang filosofis, dan pengembara yang tidak pernah benar-benar bisa diterima.

Dua topeng persona, satu jalan dengan banyak tafsir: jalan yang penuh ironi, tetapi justru di situlah intelektual menemukan makna dalam kembara pikiran. Sosiolog Berger menyebutnya sebagai kaum „homeless mind.“

Dengan demikian, peran intelektual publik kritis melalui figur Rocky Gerung dan Reiner Emyot Ointoe, meski tak selalu berharap viralitas dan notifikasi, ibarat dewa Hermes atau Promotheus dalam kultur dan mitologi Yunani.

Akibatnya, kehadiran Rocky di istana menjadi pemicu tafsir berlapis: sebagian melihatnya sebagai paradoks antara sikap kritis dan kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Sementara itu, yang lain menilai sebagai strategi intelektual untuk tetap relevan dalam ruang publik.

Dengann menambahkan dimensi lokalitas dan konteks budaya, Reiner memperlihatkan bahwa intelektual publik tidak hanya beroperasi dalam ranah politik nasional, tetapi juga dalam pergulatan identitas dan tradisi.

Lebih jauh, reaksi publik yang muncul sering kali daoat dikaitkan dengan gagasan Susan Sontag dalam Against Interpretation(1966) — sutradara, kritikus budaya dan tiga alumni dari University of California, Berkeley; University of Chicago(BA); Harvard University(MA) — yang menolak dominasi tafsir berlebihan atas karya atau tindakan, dan mengajak kembali pada pengalaman langsung.

Dalam konteks Rocky, pendekatan ini mengingatkan bahwa kehadiran intelektual tidak semata harus ditafsirkan secara ideologis, melainkan juga sebagai performa, gestur, atau bahkan provokasi yang membuka ulang katup-katup ruang diskusi.

Karena itu, publik pun perlu menggarisbawahi ketegangan antara persona intelektual sebagai pengkritik dan sebagai aktor sosial, yang selalu menimbulkan banyak tafsir di mata publik.

Apabila dilihat dari sudut pandang Sontag, kritik terhadap Rocky bisa dibaca sebagai kecenderungan publik untuk menafsirkan secara berlebihan, padahal mungkin yang lebih penting adalah menghayati “aksi” itu sendiri sebagai bagian dari dinamika intelektual di ruang demokrasi.

Akhirnya, sebagai lawan batas kritik banyak tafsir, Rocky Gerung di Istana, kehadirannya segera ditafsirkan sebagai kompromi politik atau paradoks intelektual.

Sontag mengingatkan bahwa tafsir semacam ini bisa “menguras dunia” dengan bayangan makna, alih-alih melihat aksi itu sebagai pengalaman sosial yang nyata.

Sementara, dengan latar lokalitas dan budaya, Reiner menunjukkan bahwa intelektual publik juga berperan sebagai penghubung pengalaman langsung masyarakat.

Sontag akan menilai bahwa penting untuk “menghayati” kehadiran intelektual ini, bukan sekadar menafsirkannya.

Kritiknya mengajak publik untuk berhenti menumpuk tafsir dan mulai merasakan gestur intelektual sebagai energi yang hidup.

Tak pelak, Sontag menekankan:

“Seperti asap kendaraan bermotor dan industri berat yang mencemari atmosfer perkotaan, limpahan interpretasi seni saat ini meracuni kepekaan kita.”

Dalam konteks Rocky, mungkin lebih produktif melihat kehadirannya sebagai provokasi yang membuka ruang diskusi, bukan sekadar simbol politik dengan hasrat „banyak tafsir.“

Dengan mengutip Sontag, „Dua Topeng Persona, Satu Jalan Banyak Tafsir“ memperoleh landasan filosofis: bahwa tafsir berlebihan bisa menjadi polusi intelektual.

Karenanya, simpul Sontag:

“Sebagai pengganti hermeneutika, kita membutuhkan erotika seni.”(In place of a hermeneutics we need an erotics of art).

Dengan kata lain, kehadiran intelektual publik seperti Rocky Gerung dan Reiner Ointoe sebaiknya dipahami sebagai pengalaman langsung yang menyalakan energi kritis, bukan sekadar bayangan tafsir makna yang diperdebatkan.

#coverlagu:
0How Deep Is Your Love” dirilis oleh Bee Gees pada September 1977 sebagai bagian dari soundtrack Saturday Night Fever.

Lagu ini menjadi salah satu balada paling ikonik mereka, mencapai posisi nomor satu di Billboard Hot 100 pada Desember 1977, dan hingga kini dipandang sebagai ekspresi cinta yang intim dan penuh kerentanan.

#credit foto koleksi pribadi di Manado dan Jakarta serta poster webinar Esoterika buku Tuhan dan Senjakala Kebudayaan.