April 30, 2026

Menggali Jejak Sejarah Sawahlunto, Yumna Afifah Putri Siswa MAN Kota Sawahlunto Terima Hadiah Harapan III di Ajang Esai Bergengsi

IMG-20260429-WA0038

Sawahlunto (Humas) 29 April 2026

Sebuah kabar membanggakan mengalir lembut dari jantung Sawahlunto. Di tengah denyut warisan masa lalu yang masih terasa kuat, seorang siswi MAN Kota Sawahlunto menorehkan jejaknya dalam lembar sejarah baru.

Yumna Afifah Putri, siswi dari MAN Kota Sawahlunto yang dengan penuh dedikasi dan ketekunan mengolah kata menjadi makna. Dalam perjalanannya, ia tidak sendiri. Sosok pembimbing setia  Desi Apriyanti Naspin turut hadir sebagai penuntun yang mengarahkan langkah dan mengasah gagasan.

Yumna berhasil meraih Hadiah Harapan III dalam sebuah lomba menulis esai bergengsi. Karyanya yang sarat nilai sejarah dan refleksi kritis mampu memikat perhatian dewan juri. Atas pencapaiannya itu, ia menerima penghargaan berupa piala, sertifikat, dan tabanas simbol pengakuan atas kerja keras dan kecintaan pada literasi.

Penghargaan tersebut diserahkan pada Rabu, 29 April 2026, dalam Acara seminar Nasional  yang berlangsung di Saka Ombilin Heritage Hotel,  Lomba ini mengangkat tema yang mendalam: “Tokoh dan Pejuang dalam Catatan Sejarah Global di Sawahlunto, Menggali Pemeran dan Pelaku Sejarah Sebelum dan Setelah Kemerdekaan di Sawahlunto 1858–2013.” Tema tersebut menuntut peserta untuk tidak hanya menulis, tetapi juga menyelami lapisan sejarah, memahami peran tokoh-tokoh lokal dalam arus global, serta merefleksikan warisan perjuangan yang kerap tersembunyi di balik waktu.

Dengan bimbingan yang sabar dan penuh ketelitian dari Desi Apriyanti Naspin, Yumna merangkai esainya melalui riset mendalam dan kepekaan naratif. Ia menelusuri jejak sejarah, menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang hampir terlupakan, lalu membingkainya dalam bahasa yang mengalir seakan masa lalu berbicara kembali melalui tulisannya.

Acara ini sendiri merupakan bagian dari seminar yang mengangkat perjuangan tokoh pers nasional, Djamaloedin Adi Negoro, sosok yang dikenal sebagai pelopor pemikiran kritis dan kebebasan pers di Indonesia. Dalam suasana yang sarat inspirasi itu, penghargaan kepada Yumna terasa bukan sekadar seremoni, melainkan estafet semangat intelektual dari generasi terdahulu kepada generasi muda.

Di tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi penyerahan penghargaan, tersirat harapan bahwa karya-karya seperti milik Yumna akan terus lahir—menjaga ingatan kolektif, merawat sejarah, dan menyalakan cahaya pengetahuan bagi masa depan.

Sawahlunto, dengan segala kisahnya, kembali menemukan suaranya—kali ini melalui pena seorang siswi yang berani bermimpi dan menulis sejarahnya sendiri.