PANTAS INTELEKTUAL PUBLIK KRITIS HADIR DI ISTANA?
oleh Reiner Emyot Ointoe
–
“Kaum intelektual bukanlah orang yang tanpa akar sosial atau terikat pada satu kelas tertentu; sikap kritis mereka muncul justru karena mereka berpindah-pindah antar posisi sosial, yang memungkinkan mereka untuk mempertanyakan legitimasi elite penguasa.” — Robert J. Brym(75), Intellectuals and Politics(1980; Grafiti 1993).
Rocky Gerung, intelektual publik yang paling sering menyalakan api kontroversi, tiba-tiba muncul di Istana Negara pada 27 April 2026 silam.
Kehadirannya yang memantik reaksi — dalam pelantikan, aktivis lingkungan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Presiden Prabowo Subianto — membuat publik terperangah — sinis, jenaka dan bebal — seolah seorang pengkritik keras kekuasaan kini harus duduk manis di kursi undangan resmi.
Namun Rocky, dengan gaya blak-blakan yang khas, buru-buru menegaskan bahwa ia hadir bukan sebagai bagian dari pemerintahan, melainkan sebagai wakil masyarakat sipil.
Pernyataan itu, dikutip dari IG kompastv, terdengar seperti satire politik: seorang intelektual yang datang ke jantung kekuasaan hanya untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak kehilangan akal sehat.
Rocky menyebut kehadirannya sebagai penanda bahwa kabinet akan lebih efektif bila melibatkan tokoh-tokoh dengan latar belakang beragam, termasuk mereka yang pernah menjadi narapidana.
Ia mendampingi Jumhur Hidayat, alumni ITB dan aktivis Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia(KSPSI), yang menurutnya memiliki kapasitas intelektual luas di bidang perburuhan, ekonomi, dan lingkungan.
Di sini Rocky seakan ingin menunjukkan bahwa intelektualitas tidak bisa dihapus oleh catatan masa lalu, dan bahwa pengalaman hidup yang keras justru memperkaya kemampuan seseorang untuk memahami realitas sosial.
Namun kehadiran Rocky di Istana juga membuka ruang kritik yang lebih luas tentang peran intelektual publik.
Berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai politisi oposisi di Malaysia, lalu menulis dengan perspektif sosiologis dan filosofis tentang bagaimana intelektual seharusnya berfungsi, Syed Hussein Alatas melahirkan bukunya, Intellectuals in Developing Societies(1977) dan dicetak ulang pada 2018.
Buku ini, terjemahan LP3ES, Intelektual Masyarakat Berkembang(1988) merupakan refleksi tajam tentang bagaimana intelektual publik harus berhadapan dengan relasi kekuasaan yang korup di masyarakat berkembang.
Alatas, dalam Intellectuals in Developing Societies ini, dikutip menyatakan bahwa “kaum intelektual adalah penjaga kemajuan, tetapi kemajuan tidak mungkin terjadi jika mereka menjadi tawanan pikiran yang melayani elit yang korup.”
Dengan argumen Alatas, bisa dibaca paradoks Rocky: seorang intelektual harus hadir di tengah kekuasaan, tetapi berusaha menjaga jarak agar tidak menjadi “captive mind.“
„Captive Mind“, judul novel yang jadi rujukan Alatas, dari Czesław Miłosz(1911–2004), penyair Polandia peraih Nobel Sastra 1980, dan dikenang dengan kutipan pidato nobelnya:
“Di ruangan tempat orang-orang secara bulat mempertahankan konspirasi keheningan, satu kata kebenaran terdengar seperti tembakan pistol.”
Dengan demikian, Alatas mengingatkan bahwa intelektual sejati harus berani melawan arus, karena tanpa keberanian untuk mengkritisi, masyarakat akan terus terjebak dalam lingkaran kebodohan dan ketidakadilan dari rezim bebalisme manapun.
Akan tetapi, dengan gaya sinikal yang khas, Rocky seolah sedang bermain peran ganda: ia hadir di Istana untuk mendampingi sahabatnya, tetapi sekaligus mengirim pesan bahwa intelektual publik tidak boleh kehilangan fungsi kritisnya.
Kehadirannya bisa dibaca sebagai komedi serius: seorang pengkritik keras pemerintah duduk di kursi undangan resmi di istana, namun tetap menjaga jarak dengan menyatakan dirinya wakil masyarakat sipil.
Jenaka karena paradoksnya, kritis karena ia tidak kehilangan fungsi intelektualnya, demikian mungkin pleidoi warga semaya yang kadung pada absolutisme oposisi.
Kepantasan Rocky hadir di Istana ini pada akhirnya menegaskan bahwa politik bukan hanya soal permainan kekuasaan belaka, melainkan juga tentang akal sehat, keberanian, dan solidaritas.
Rocky, dengan kehadirannya, menjadikan dirinya cermin bagi kekuasaan. Kadang retak, kadang jenaka, tetapi selalu memantulkan kebenaran yang tak nyaman bagi semua kekuasaan „tends to corrupt.“
Namun, menurut perspektif Alatas, ia dan tentu Rocky berdiri di tepi kekuasaan, bukan untuk ikut berbaris, melainkan untuk memastikan barisan itu tidak melenceng dari (O)posisinya.
Dan di situlah peran intelektual publik yang sejati: hadir dekat dengan radius aktivitas negara, hanya agar bisa tetap mengkritisi dan bukan untuk mengabdi.
#coversongs:
Eumir Deodato(83), pianis dan arranger asal Brasil, merilis versi jazz-funk dari Also sprach Zarathustra pada tahun 1973 dalam album Prelude, yang segera menjadi hit besar dan memenangkan Grammy untuk Best Pop Instrumental Performance pada 1974.
#credit foto unggahan dari totalpolitikcom dan koleksi pribadi.