Ibu-Ibu Hoat Sorbay Lawan Stunting Lewat Makanan Lokal: Dari Sagu, Anggur Laut, dan Ikan Kembung Menjadi MP-ASI Bergizi
Laporan Paulus Laratmase
–
Maluku Tenggara – Suaraanaknegerinews.com,- Stunting masih menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di wilayah timur seperti Maluku Tenggara. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya asupan gizi yang cukup pada masa awal pertumbuhan anak. Menjawab tantangan ini, Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) mengambil langkah nyata melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Kecamatan Hoat Sorbay. Program ini bertujuan memberdayakan ibu-ibu dengan pelatihan pembuatan makanan tambahan pencegah stunting berbasis pangan lokal.
Dengan tema “Pembuatan Makanan Tambahan Pencegah Stunting dari Tepung Sagu, Anggur Laut, dan Ikan Kembung”, pelatihan ini menjadi angin segar bagi masyarakat. Selama awal tahun 2025, sebanyak 25 ibu-ibu dilatih secara langsung untuk membuat makanan pendamping ASI (MP-ASI) bergizi tinggi dari bahan yang mudah dijumpai di sekitar mereka: tepung sagu (Metroxylon sp.), anggur laut (Caulerpa sp.), dan ikan kembung (Rastrelliger sp.).
Bahan-bahan ini bukan hanya kaya nutrisi, tetapi juga ekonomis. Sagu mengandung karbohidrat kompleks, anggur laut kaya serat dan mineral, sementara ikan kembung mengandung protein hewani dan omega-3 yang penting untuk perkembangan otak anak. Dengan mengolah ketiganya menjadi makanan tambahan, para ibu tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga menekan ketergantungan pada produk MP-ASI instan yang harganya mahal dan kadang kandungan gizinya tidak optimal.
Hasil dari pelatihan ini sangat positif. Sebelum pelatihan, 60% peserta memiliki pengetahuan yang rendah tentang stunting dan gizi pangan lokal. Namun setelah pelatihan, jumlah tersebut turun drastis menjadi 12%. Sementara itu, peserta dengan pengetahuan tinggi meningkat dari 20% menjadi 40%. Selain dari sisi pengetahuan, keterampilan para ibu juga meningkat signifikan. Mereka antusias saat mengikuti praktek pembuatan makanan tambahan, bahkan mulai melihat peluang usaha dari produk yang mereka buat.
Tak hanya berdampak pada kesehatan anak, kegiatan ini juga membuka pintu ekonomi baru bagi keluarga. Para ibu mulai memahami bahwa pangan lokal yang selama ini dianggap biasa saja, ternyata bisa diolah menjadi makanan bergizi sekaligus bernilai jual. Ini menjadi langkah awal untuk kemandirian pangan di tingkat keluarga dan desa.
Selaku Ketua tim pengabdi, Dr. Ir. Celcius Waranmasembun, M.Si meyakinkan bahwa program ini akan memberi dampak jangka panjang. “Kami optimis kegiatan ini memberi dampak jangka panjang dalam pencegahan stunting serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, tim akan memperluas jangkauan pelatihan ke posyandu dan puskesmas lain, serta melakukan pemantauan secara berkala untuk menjamin keberlanjutan program. Dukungan dari dana PNBP Polikant sebesar Rp 15 juta dan kerja sama erat dengan pemerintah desa, posyandu, dan puskesmas menjadi kunci kesuksesan kegiatan ini.
Kisah di Hoat Sorbay ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur rumah. Dengan pengetahuan, keterampilan, dan semangat gotong royong, ibu-ibu desa bisa menjadi garda terdepan dalam perang melawan stunting.
Kontak:
Politeknik Perikanan Negeri Tual
Email: cwaran@polikant.ac.id
No. HP: 085230444466