Idealis, Realitas, dan Aktivisme Borjuis. Gerakan Mahasiswa dengan Romatisasinya
Vijae Yehezkiel Simanjuntak
–
Mughis Mudhoffir dan Rafiqa Qurrata A’yun menerbitkan opini dengan judul “Darurat Aktivisme Borjuis”. Tulisan yang menuai pro dan kontra akibat arah pendapat yang justru berisiko mematikan gerakan mahasiswa ditengah gerusnya demokrasi saat ini. Meski “Darurat Aktivisme Borjuis” tidak secara spesifik ditujukan kepada mahasiswa, beberapa poin yang disampaikannya secara tidak langsung menyentuh kondisi aktivisme mahasiswa saat ini. Mahasiswa, yang kerap digambarkan sebagai agent of change, justru semakin sering memperlihatkan keaktifan ditengah jalan yang sepi.
Aktivisme borjuis merujuk pada pola gerakan yang mencerminkan kepentingan kelas menengah ke atas. Ia hadir dalam bentuk yang simbolis, moralistik, dan spontan yang menonjolkan citra heroisme tetapi sering kali tanpa strategi jangka panjang yang jelas.
Pertanyaan dasar terhadap tulisan ini adalah apakah mahasiswa, dengan segala romantisasi perjuangannya, benar-benar masih relevan dalam peta perjuangan politik saat ini? Perjuangan yang terlihat performatif dengan kaca transparan bertajuk representatif rakyat. Atau gerakan mahasiswa sekang ini, justru bagian yang mengarah pada karakteristik borjuis yang dimaksud oleh Mugnis?
“Watak borjuis tercermin dari startegi politik melalui gerakan sosial yang kerap tak menyasar pada permasalahan fundamental yang membuat dominannya kepentingan anti demokrasi dan relatif absenya supremasi hukum”
Gerakan Mahasiswa mengatasnamakan suara rakyat kepada pemerintah. Berteriak seperti mengonggong layaknya anjing yang tidak dihiraukan. Bersuara, berteriak, berorasi yang berujung pada “baik kami terima aspirasi rekan rekan semua”.
Apabila dikaitkan dengan realistas yang ada, gerakan mahasisawa menitikberatkan pada bentuk kepedulian isu nasional. Proses konsolidasi seringkali mendadak dan tergesa gesa. Keadaan yang membuat stigma buruk dikeluarga mahasiswa, yang mengarah pada kebiasaan buruk. Hal ini membuat konsolidasi sebagai ruang diskusi justru terlihat seperti formalitas belaka. Akibatnya, partisipasi mahasiswa lebih menyerupai pemenuhan target eksistensi saja.
Gerakan mahasiswa yang hari hari ini “masih ada” merupakan bentuk idealis mereka (mahasiswa) terhadap kepedulian rakyat. Salah? tentu Tidak salah, sebuah hal yang jelas terbukti mampu menggertak terhadap kebijakan negara.
Namun kita harus melihat realitasnya, saat ini hampir seluruh jumlah mahasiswa yang turun ke jalan hanya sebagai bentuk formalitas atau juga bentuk tren “ikut-Ikutan”. Mereka melakukan suafoto, kemudian mengupload di media sosial dengan mengatasnamakan perjuangan. Realistasnya lagi, permasalahan keadaan semacam ini berasal dari penguasa yang justru tidak dibendung oleh rumah tempat kita belajar. Contohnya upaya melakukan kenaikan UKT. Bahkan kebijakan perubahan status Universitas menjadi PTN-BH sangat berisiko terhadap nominal UKT yang meningkat.
Hal ini berdampak pada pola dan komposisi gerakan Mahasiswa. UKT yang sulit dijangkau oleh rakyat, membuat pendidikan tinggi tidak lagi menjadi ruang inklusi, justru malah semakin eksklusif, membatasi akses bagi mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini yang membuat komposisi gerakan mahasiswa yang pelan pelan bergeser pada kalangan menengah keatas.
Mahasiswa yang berada kalangan menengah keatas memiliki ciri pendidikan neoliberal. Pendidikan neoliberal membentuk mereka menjadi human capital, yakni individu yang dilatih untuk menjadi modal bagi industri. Fokus pada “investasi diri,” seperti mengikuti pelatihan, membangun jejaring, atau menambah sertifikasi, menjadi prioritas utama yang tak sadar menggantikan semangat kolektivitas.
Keadaan terhadap gerakan mahasiswa hari-hari ini harus memiliki persiapan dan rencana panjang yang terukur. Hal ini karena kita sedang menghadap penguasa yang bertopeng dibalik kata demokrasi. Idealis yang dimiliki harus disandingkan dengan realitas yang kejam terhadap suara rakyat. Gerakan Mahasiswa tidak boleh hanya sebagai bentuk perlawanan yang hanya berteriak, gerakan ini harus disiapkan dengan matang sehingga ruang ruang inklusi tidak lagi tergerus.
Gerakan mahasiswa harus mampu membuka ruang dialog, solidaritas, dan konsolidasi yang membangun aliansi strategis dengan kelompok-kelompok yang paling terdampak oleh ketimpangan struktural. Dengan demikian, gerakan mahasiswa dapat melampaui performativitas dan menjadi bagian dari perjuangan kolektif untuk menantang sistem yang tidak adil. Alih-alih terjebak heroisme palsu, mahasiswa akan dapat benar-benar menyentuh kebutuhan konkret masyarakat.
Negara ini sedang mencoba mematikan pergerakan mahasiswa, memiliki arah yang berujung pada keotoriterian. Maka perlu ada gerakan yang masif disertai upaya lain yang terukur dan terencana untuk lebih lagi memberikan dampak.