April 22, 2026
lina berita1

Dilaporkan oleh Leni Marlina

SUARA ANAK NEGERI.COM. Padang – Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi telah menjadi elemen strategis dalam memperkenalkan identitas budaya, mendorong kolaborasi global, dan membangun jejaring internasional. Melalui Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF) yang ketiga, Sumatera Barat (Sumbar) sekali lagi membuktikan bahwa literasi dapat menjadi pilar penting dalam diplomasi budaya.

Festival ini akan digelar pada 8–12 Mei 2025 dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Pj. Sekda Sumbar, Yozarwardi U.P., S.Hut., M.Si., dalam audiensi bersama DPD SatuPena Sumbar dan panitia IMLF di Kantor Gubernur, Senin (20/1/2025), menegaskan bahwa IMLF adalah momentum strategis untuk menghubungkan Sumbar dengan dunia.

“IMLF bukan sekadar festival. Ini adalah jendela budaya kita untuk dunia. Literasi bahasa, sastra, dan seni dlmenjadi fondasi, tetapi pariwisata dan budaya juga memiliki peran besar di sini,” ujar Yozarwardi.

Literasi Sebagai Kunci Diplomasi Budaya

Menurut UNESCO, literasi bukan hanya hak asasi manusia, tetapi juga alat fundamental untuk memberdayakan individu dan masyarakat. Dalam konteks diplomasi budaya, literasi memiliki peran vital sebagai medium untuk menyampaikan pesan budaya, nilai, dan identitas kepada masyarakat global.

IMLF tidak hanya menjadi ruang perayaan literasi, tetapi juga sebuah panggung diplomasi budaya Minangkabau. “Kami ingin menjadikan IMLF sebagai jembatan antara Sumbar dan dunia, memperkuat narasi bahwa budaya kita memiliki relevansi global,” ungkap Ketua DPD SatuPena Sumbar, Sastri Bakry.

Menelusuri Jejak Keberhasilan IMLF

Sejak edisi pertamanya pada 2023, IMLF telah menjadi magnet bagi penulis, sastrawan, akademisi, dan seniman dari berbagai negara. Tahun 2023, festival ini dihadiri oleh delegasi dari 12 negara. Pada 2024, angka tersebut meningkat menjadi 17 negara. Untuk edisi 2025, panitia menargetkan kehadiran delegasi dari 20 negara dengan lebih dari 200 peserta internasional.

“Setiap tahun, kami berusaha meningkatkan kualitas festival. Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta, baik lokal maupun internasional, pulang dengan pengalaman yang tak terlupakan,” tambah Sastri.

Salah satu teori yang relevan dalam hal ini adalah Cultural Capital Theory dari Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, budaya adalah aset yang memiliki nilai dalam jejaring sosial dan ekonomi. Melalui IMLF, Minangkabau menciptakan modal budaya yang dapat dipertukarkan dalam konteks global.

Program IMLF: Inovasi dan Kolaborasi

Edisi ketiga IMLF akan menghadirkan berbagai kegiatan utama yang dirancang untuk mengintegrasikan literasi, seni, dan budaya.

1. Diskusi Panel dan Pidato Utama

Sebanyak 30 narasumber internasional akan ditargetlan membahas isu-isu terkini, mulai dari literasi digital hingga dampak teknologi terhadap budaya. “Kami ingin menciptakan diskusi yang relevan dengan tantangan zaman,” kata Sastri.

Kutipan dari Marshall McLuhan, seorang teoretikus media terkenal, relevan di sini: “The medium is the message.” Literasi digital bukan hanya tentang akses informasi, tetapi juga bagaimana teknologi memengaruhi cara kita memahami dunia.

2. Pertunjukan Seni dan Pembacaan Puisi

Festival ini akan menampilkan seni tradisional Minangkabau, seperti randai dan tari piring, yang dikombinasikan dengan seni kontemporer dari delegasi internasional. “Seni adalah bahasa universal yang dapat menghubungkan kita semua,” ungkap Yozarwardi.

3. Pameran dan Peluncuran Buku

Penulis lokal akan mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka ke pasar internasional. Pameran ini juga menjadi ruang bagi penerbit dan pembaca untuk bertemu langsung.

4. Bazar UMKM

Produk-produk lokal, seperti tenun Minangkabau dan kuliner tradisional, akan dipamerkan kepada delegasi asing. Hal ini sejalan dengan konsep creative economy yang digagas oleh UNCTAD, di mana budaya dan kreativitas menjadi pendorong ekonomi global.

Manfaat Strategis IMLF

1. Bagi Sumatera Barat

Promosi Pariwisata dan Budaya: Delegasi internasional akan membawa cerita dan pengalaman mereka ke negara asal, memperkuat citra Sumbar sebagai destinasi budaya.

Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Melalui bazar UMKM, masyarakat lokal mendapatkan peluang ekonomi baru.

Penguatan Identitas Budaya: IMLF menjadi ruang refleksi bagi masyarakat lokal untuk menghargai warisan budaya mereka.

2. Bagi Indonesia

Diplomasi Budaya: IMLF membangun soft power Indonesia di panggung internasional.

Peningkatan Citra Literasi Nasional: Festival ini membuktikan bahwa Indonesia aktif dalam literasi global.

Kolaborasi Internasional: Membuka peluang bagi institusi lokal untuk bekerja sama dengan organisasi internasional.

3. Bagi Dunia

Pertukaran Pengetahuan: Delegasi dari berbagai negara dapat berbagi wawasan tentang tren literasi dan inovasi budaya.

Pemahaman Lintas Budaya: Melalui dialog dan seni, peserta memahami keragaman budaya Indonesia.

Kolaborasi Global: IMLF menjadi platform untuk membangun kerjasama di bidang literasi, seni, dan teknologi.

Yozarwardi: Pemimpin yang Gemar Menulis

Selain perannya sebagai birokrat, Yozarwardi juga dikenal sebagai penulis produktif. Dalam audiensi, ia menyerahkan tiga buku hasil karyanya kepada panitia IMLF: Mengurus Hutan dengan Hati, Perhutanan Sosial Mengentaskan Kemiskinan dari Pinggiran, dan Menyemai Mimpi Masa Depan Bersama Hutan.

“Seorang pemimpin tidak hanya bekerja, tetapi juga memberi inspirasi melalui tulisan,” kata Sastri.

IMLF 2025: Optimisme Menuju Masa Depan

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan komunitas literasi, IMLF ketiga diharapkan menjadi motor penggerak perubahan. Festival ini adalah bukti bahwa literasi bisa menjadi jembatan menuju dunia yang lebih inklusif.

Sebagaimana dikatakan oleh Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” IMLF adalah manifestasi dari senjata itu, menghubungkan literasi dengan diplomasi untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Sumatera Barat siap menunjukkan bahwa ia bukan hanya bagian dari peta budaya Indonesia, tetapi juga pemain penting dalam literasi global.

————-

[LM, editorial board of Suara Anak Negeri.com, Satu Pena Sumbar, assisted by AI]

Sumber gambar: Dokumentasi Sastri Bakry