Janice, Aldila, dan Jojo: Ketika Atlet Indonesia Harus Bertarung Tanpa Negara
Laporan Tonnio Irnawan
–
Di balik gemerlap podium dan kibaran merah putih, ada kisah getir yang jarang terdengar. Petenis Janice Tjen (23) dan Gisela “Dila” Aldila (30) kini harus mengurus seluruh karier profesionalnya seorang diri dari latihan, mencari pelatih, hingga membiayai turnamen ke luar negeri. Tak ada fasilitas negara, tak ada manajer resmi, tak ada tim pendukung. Uang hadiah turnamen mereka pakai untuk membiayai turnamen berikutnya. Bila beruntung, datang sponsor sesekali. Bila tidak, mereka tetap berjuang dengan keringat dan tabungan sendiri.
Sementara di cabang lain, kisah serupa datang dari lapangan bulu tangkis. Jonathan Christie (Jojo) memutuskan keluar dari Pelatnas dan memilih jalur profesional. Keputusan yang dianggap berani, tapi juga realistis di tengah stagnasi sistem pembinaan nasional. Seperti Janice dan Dila, Jojo membuktikan bahwa semangat juang atlet sejati tak selalu bergantung pada lembaga atau subsidi negara.
Fenomena ini memperlihatkan pergeseran penting: para atlet Indonesia mulai mengambil alih kendali atas karier mereka. Di banyak negara, menjadi atlet profesional sudah lazim pemain membangun tim sendiri, mengatur jadwal, mengelola keuangan, bahkan membentuk identitas merek pribadi. Tapi di Indonesia, langkah seperti ini masih sering dipandang “nekat,” karena negara masih berperan seolah penjaga tunggal masa depan atlet.
Namun justru dari keberanian mereka, muncul pertanyaan tajam: sampai kapan atlet harus bertarung sendirian untuk mengibarkan bendera? Janice, Dila, dan Jojo sedang menunjukkan bahwa nasionalisme bukan soal siapa yang membiayai, tapi siapa yang tak berhenti berjuang meski negara absen di belakangnya.