May 4, 2026
tanjung

Oleh: Rizal Tanjung

Resensi Kumpulan Puisi: “Kawan, Jika Kau Rindukan Aku” (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA), Editor: Leni Marlina, Terbit Tanggal 27 Februari 2025 di suaraanaknegerinews.com

Kumpulan puisi “Kawan, Jika Kau Rindukan Aku” merupakan pertemuan batin dari para penyair lintas generasi dan daerah yang menggambarkan rindu, perjalanan spiritual, pencarian makna, dan kemanusiaan dalam lapisan kata-kata puitis. Buku ini tidak sekadar merangkai sajak, tetapi menghadirkan perenungan mendalam tentang kehidupan melalui perspektif yang beragam, baik dari ranah personal maupun sosial. Puisi-puisi di dalamnya ditulis oleh para penyair dari berbagai komunitas sastra, menandakan bagaimana sastra menjadi ruang lintas batas yang menyatukan suara-suara dari Sumatera, Jawa, hingga Aceh.

Dalam kumpulan ini, Leni Marlina sebagai penyair sekaligus editor memainkan peran sebagai jembatan yang mempertemukan keresahan individu dengan kesadaran semesta. Karya-karyanya seperti “Kawan, Jika Kau Rindukan Aku”, “Wahai Pejalan yang Ragu”, “Di Situlah Aku Bermuara”, “Sebab Engkau Bukan Angka”, dan “Janganlah Takut Menjadi Sunyi” menghadirkan semesta perenungan tentang hakikat perjalanan manusia. Sementara itu, penyair lainnya seperti Zulkifli Abdy, Anies Septivirawan, Muslimin, Dewi Farah, dan Nuris Fatmawati menambahkan spektrum makna yang lebih kaya tentang kerinduan, cinta, dan kehidupan sosial.

Menyusuri Lorong Rindu dalam Imaji Leni Marlina

Leni Marlina membuka kumpulan ini dengan puisi “Kawan, Jika Kau Rindukan Aku” — sebuah alegori tentang kepergian yang bukan kehilangan, melainkan perubahan wujud dalam semesta kehidupan. Metafora awan yang mengembara menjadi simbol perjalanan yang terus berlanjut tanpa kehilangan esensi dirinya. Puisi ini seakan berbisik kepada pembaca bahwa kepergian bukanlah akhir, melainkan bagian dari siklus kehidupan.

Puisinya “Di Situlah Aku Bermuara” melanjutkan narasi tentang perjalanan, di mana sosok aku liris digambarkan sebagai sungai yang terus mengalir tanpa menoleh ke belakang. Ada semacam filsafat hidup yang lirih tetapi tegas dalam baris-barisnya — bahwa perjalanan bukan sekadar perpindahan, melainkan proses menemukan makna di setiap lekukan nasib.

Pada “Wahai Pejalan yang Ragu”, suara penyair menjadi pemandu spiritual bagi jiwa-jiwa yang bimbang. Ia mengajak pembaca untuk tidak takut pada duri atau gelapnya perjalanan, karena setiap ragu adalah bagian dari pencarian yang pada akhirnya akan menemukan cahaya.

Leni Marlina menutup renungan eksistensialnya dalam “Janganlah Takut Menjadi Sunyi” — puisi yang memulihkan makna kesunyian sebagai ruang pembebasan jiwa, bukan sebagai kekosongan. Setiap kata dalam puisinya adalah bisikan lembut yang menuntun pembaca untuk berdamai dengan sunyi.

Rindu dalam Bayang-Bayang Zulkifli Abdy

Dalam dunia puisi Zulkifli Abdy, rindu hadir sebagai bayang-bayang yang menautkan hati pada sesuatu yang jauh tetapi tak pernah benar-benar hilang. Puisinya “Memeluk Bayang” menyoroti kesunyian senja sebagai ruang bercermin bagi jiwa yang merindu.

Sementara itu, “Aksara Rindu” menempatkan rintik hujan sebagai aksara yang hanya bisa terbaca oleh hati yang merindukan sesuatu. Puisinya yang lain, “Rindu Rembulan”, menghadirkan gambaran rindu yang lebih subtil — harapan pada seseorang yang mungkin tak pernah datang, tetapi tetap dinanti dengan penuh kesetiaan.

Keabadian Cinta dalam Sajak Anies Septivirawan

Penyair Anies Septivirawan menawarkan sajak yang menembus batas-batas duniawi. Puisinya “Ayo, Kita Berjumpa di Surga Saja” mengajak pembaca merenungkan cinta yang melampaui keterbatasan fisik. Baris-barisnya mengandung semacam pengorbanan batin yang menempatkan cinta sebagai sesuatu yang suci dan tak harus dimiliki secara bendawi.

Muslimin: Puitika Kehidupan Sehari-hari

Lewat puisi “Rembulan Memurnamai”, Muslimin menghadirkan puitika kehidupan sehari-hari dalam suasana desa yang penuh kebersahajaan. Kopi, ketan, dan canda keluarga menjadi metafora bagi kebahagiaan sederhana yang sering luput dari perhatian. Puisinya menekankan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dalam kemewahan, melainkan dalam keutuhan keluarga dan ketulusan cinta.

Dewi Farah dan Tangisan Pertiwi

Dalam “Sajak Rindu Pertiwi”, Dewi Farah menyuarakan keresahan tentang kondisi alam dan tanah air yang semakin menua. Puisinya menjadi semacam doa yang merindukan keharmonisan antara manusia dan alam, menegaskan bahwa rindu pada pertiwi adalah rindu pada akar identitas.

Nuris Fatmawati: Awan yang Menangis

Puisi “Tangisan Awan” karya Nuris Fatmawati menjadi simbol dari jiwa yang tersesat dalam perjalanan hidup. Metafora awan yang menangis menggambarkan kesedihan yang diam-diam menyelimuti manusia saat kehilangan arah.

Satu Harmoni dalam Keragaman

Meskipun para penyair dalam kumpulan ini berasal dari latar belakang yang berbeda, ada satu benang merah yang menyatukan mereka — yaitu kerinduan sebagai bentuk pencarian makna. Rindu dalam kumpulan ini tidak hanya terbatas pada cinta personal, tetapi meluas ke rindu pada Tuhan, tanah air, masa lalu, bahkan pada kehidupan yang lebih hakiki.

Kesimpulan: Puisi sebagai Jembatan Perjalanan Jiwa

“Kawan, Jika Kau Rindukan Aku” bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi sebuah peta perjalanan jiwa yang menuntun pembaca melalui lorong-lorong sunyi, rindu, dan pencarian makna. Kumpulan puisi  ini mempertemukan suara-suara yang berbeda dalam satu harmoni, menjadikan puisi sebagai jembatan antara yang fana dan yang abadi.

Dalam perjalanan membaca kumpulan ini, pembaca diajak untuk memahami bahwa rindu bukanlah sekadar kehilangan, melainkan ruang bagi jiwa untuk menemukan dirinya kembali. Setiap puisi menjadi perhentian di tengah perjalanan panjang, di mana kata-kata menjadi cahaya yang menuntun kita menuju muara kehidupan.

Tentang Editor

Leni Marlina telah menunjukkan bagaimana sastra tidak hanya menjadi wahana ekspresi, tetapi juga jembatan yang mempertemukan komunitas, lintas daerah, bahkan lintas zaman. Kiprahnya dalam komunitas sastra internasional menegaskan bahwa puisi adalah bahasa universal yang menyatukan dunia dalam harmoni.

Penutup

Resensi ini dipersembahkan sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan para penyair dalam menyuarakan rindu, cinta, dan kemanusiaan melalui bahasa yang puitis dan penuh makna.

Padang, 2025.