May 10, 2026

“KAMI TAK PERNAH ASING”: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia) ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

/1/

KAMI TAK PERNAH ASING

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami tak lahir dari arah, melainkan dari peluh takdir yang bercucuran di titik pertemuan—

Biak, membisikkan sunyi pada ombak yang tak pernah pulang.
Tanimbar, menghafal diam, menjahit nadi tanpa kata. Makassar, berani menunggu, seperti batu karang yang mengunyah gelombang tanpa pamrih.
Nyamplungan, menampung rindu dan kenangan.
Jakarta, menanam peluk di rimba gaduh.
Palembang, mengalirkan arus penuh makna.
Padang, menyimpan hikmah dalam doa yang tertikam diam.

Kami tak pernah asing— akar-akar tak saling tatap, namun berbisik rahasia yang hanya dada mengerti. Saudara bukan warna, melainkan getar—
getar yang merambat, mengisi ruang antara dada dan langit.

Kami tak membawa bendera,
hanya dada yang sunyi, yang menjadi dermaga—
bagi jiwa-jiwa yang kehilangan pulang, di mata yang lain.

Di Biak – Papua—
kami bunga pantai yang tumbuh di lidah leluhur,
tak pernah gugur oleh perbedaan,
melainkan merambat, menyulam luka dan harap dalam anyaman waktu.

Di Tanimbar – Maluku— kami angin tanpa kompas, membawa nama-nama terhapus peta,
pulang dalam napas pelaut,
menulis ulang horizon yang hilang.

Di Makassar—
kami keberanian yang menunggu,
diam yang menantang badai,
keteguhan batu karang yang tak tergoyahkan.

Di Nyamplungan – Surabaya—
kami membangun persaudaraan di tengah keberagaman,
tak satupun diantara kami yang merasa paling pahlawan.

Di Jakarta—
kami daun yang jatuh tanpa suara,
terhampar di pelataran jiwa asing,
disambut sebagai bagian pohon yang sama,
meski akarnya tersembunyi di tanah berbeda.

Di Palembang—
kami bentang kenangan, membangun jembatan yang tak pernah putus, simpul-simpulnya menjadi saksi sunyi— kita satu dalam gema yang terlupa.

Di Padang—
terbentang indah bukit di kejauhan,
seindah Bukittinggi yang memiliki Jam Gadang, mengajarkan bahwa waktu tidak pernah memilih,
dan diam menjelma doa yang indah dan panjang.

Kami tak pernah asing— karena laut tidak memilih siapa yang asin,
dan langit tak menolak mata yang rindu akan cahaya.

Kami tak pernah asing— karena cinta persaudaraan bukan warisan,
melainkan benih alam,
yang tumbuh subur di tanah pertemuan.

Dan bila dunia mengerut dalam derita,
biarkan puisi ini menjadi perahu,
yang tak bertanya dari mana engkau datang,
hanya bertanya: ke mana rindumu mengayuh persaudaraan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/2/

PERSAUDARAAN YANG TAK BISA DIASINGKAN

Puisi Karya Leni Marlina —

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami bukan mereka yang turun dari singgasana emas,
melainkan retakan tanah yang merintih dalam doa diam,
kering—seperti kulit bumi yang menanti musim pengampunan,
dan pecah—seperti janji yang gugur sebelum mengakar di dada dunia.

Kami lahir dari gelap yang tak pernah bertanya,
dari reruntuhan kata yang membatu dalam keheningan,
dari api yang menyala di sumsum tulang,
membakar tanpa jejak abu,
meninggalkan bara yang berdenyut di jantung yang tak terjamah.

Kami mengenal luka yang tak bersuara,
yang merembes perlahan ke akar harapan tanpa warna,
kami berdiri di tepi jurang mimpi yang menganga,
tersenyum getir, menertawakan diam yang membekukan langit.

Kami tak memerlukan mahkota dari emas atau permata,
kerak dan debu telah melekat di kulit kami,
kami berteriak dari balik tembok bisu,
bukan agar engkau mendengar—
tetapi agar engkau tidak lagi berpaling.

Kami menjelma api yang menyala tanpa izin,
membakar rantai kebohongan yang membungkam,
menjahit luka dengan kawat besi yang berkarat,
membangunkan pagi dari darah yang menolak kering.

Bukan pahlawan dalam buku bersampul emas,
kami pemberontak sunyi yang memilih mencintai,
bukan karena mampu,
tetapi karena tak sanggup membenci,
memberi bukan dari sisa, melainkan dari apa yang dimiliki sedalam cinta kasih.

Kami adalah luka yang terbuka di dinding dunia,
akar yang mencengkeram tanah saat badai menumbangkan langit,
cinta alam yang menjalar di dalam sunyi,
diam-diam menyala,
api rahasia yang menghanguskan dingin yang selama ini tak peduli dengan sesama.

Dan ketika dunia memalingkan wajah dari suara kami,
kami menyalakan keberanian dari puing dan puisi,
membangunkan nurani,
karena kami adalah darah dan tanah,
yang tidak sudi engkau ungsikan,
karena kami memiliki persaudaraan,
yang tidak bisa engkau asingkan.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/3/

SENJA DI PANTAI AIR MANIS, PADANG

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Senja tak pernah benar-benar tenggelam—
ia sekadar bersembunyi
di dahi orang-orang yang masih menunda pulang;
mereka yang hidup separuh
antara rindu dan penyangkalan.

Di matamu,
kulihat dermaga yang terua dibangun,
tempat ribuan kapal bernama kesabaran
berlabuh tanpa layar—
laut di dadamu tidak punya arah,
angin telah pensiun dari tugasnya,
dan kau masih setia
menjaga ombak agar tidak durhaka
kepada tebing yang diam-diam mencintainya.

Kita tak selalu butuh bintang.
Cukuplah suara kapal
yang paham bagaimana mengucapkan malam
dengan bahasa retakan lambung
dan gemetar jangkar yang menua.

Aku tak ingin sampai lebih dulu.
Tak perlu cepat pulang.
Biarkan aku tinggal sesaat lagi
bersamamu—
duduk pada pasir purba yang menyimpan
jejak dongeng Malin Kundang,
agar sejarah tidak terulang
di tubuh kita yang lebih memilih menjadi batu
ketimbang menyentuh maaf yang tak sempat tumbuh.

Pantai ini bukan hanya tempat,
tapi ingatan yang menyuruh
kita menjadi manusia
yang tahu caranya pulang
sebelum gelap menghapus nama-nama
yang pernah menunggu kita
dengan hati utuh mereka.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/4/

BERHADAPAN DENGAN DIRI KITA SENDIRI

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Semua jalan,
meski dinamai oleh kota, peta, atau ambisi,
selalu menuju ke dalam—
menuju sumur paling sunyi
yang tak pernah dicetak
dalam denah dunia atau tubuh.

Di kedalaman itu,
kita berhadapan dengan diri kita sendiri:
cahaya terlalu gugup
untuk menjelaskan siapa kita,
dan gelap
terlalu jujur untuk kita sangkal.

Kita datang tanpa suara,
membawa sebait ketabahan
yang terbuat dari debu puing
tempat para nabi pernah tak didengarkan
dan doa-doa digantung
seperti baju lusuh di tali keyakinan.

Kita duduk
di antara reruntuhan
hal-hal yang kita imani,
menziarahi kehilangan
yang tak kita temui di makam,
melainkan di ruang-ruang hati
yang diam-diam
telah kita kuburkan sendiri.

Karena untuk memahami makna kehilangan,
kita harus mencintai
apa yang tidak pernah kita miliki sepenuhnya,
dan melepaskannya
tanpa dendam,
tanpa nama.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/5/

KOTA YANG MENGUSUNG BAYANG KITA TANPA NAMA

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kota ini
sepertinya bukan tempat tinggal—
melainkan gema
dari hati yang dipenuhi lampu
namun tak memiliki jendela.

Ia tak membesarkan kita,
hanya meminjam tubuh
dan menjual waktu
dalam jam-jam yang kehilangan detak maknanya.

Di setiap perempatan,
doa-doa terjatuh
di antara klakson dan batuk mesin,
menjadi zikir sepajang jalan menuju azan,
memanggil kita
pulang—
bukan ke rumah,
melainkan ke kejujuran yang hilang.

Kita duduk di halte waktu,
tak lagi menunggu angkutan,
melainkan mencari isyarat
bahwa kita masih bisa diangkut
oleh sesuatu
yang lebih hidup dari rutinitas.

Kota ini tak jahat.
Ia hanya terlalu setia
menjadi cermin
bagi cinta yang kerap kita iklankan,
namun tak pernah kita beri alamat.

Maka jangan salahkan gedung-gedung,
jika mereka tak bisa membalas pelukan.
Jangan salahkan jalanan,
jika mereka hanya tahu arah
bukan tujuan.

Karena kota ini,
adalah kita—
yang tak pernah benar-benar tinggal
di dalam diri sendiri.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/6/

HUJAN TAK PERNAH SEKADAR TURUN (1)

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Petang itu,
rinai jatuh bukan dari langit,
tapi dari luka yang telah belajar
menyamar sebagai cuaca.

Seekor kambing mendekati kita—
bukan di padang rumput Ibrahim,
bukan di tanah lapang para nabi,
tapi di tepi laut
yang menyimpan zikirnya sendiri.

Ia menunduk,
bukan karena jinak,
melainkan tahu:
darahnya akan menjadi surat
yang dibaca Tuhan
melalui desir angin yang berdoa diam-diam.

Kita berdiri,
tanpa suara,
di sisi makhluk yang lebih ikhlas dari umatnya.
Takbir terucap seperti napas terakhir bumi,
sebab mungkin dosa kita
tak sanggup diselesaikan
dengan sekadar sembelih dan maaf musiman.

Langit pun menitikkan hujan—
bukan untuk menyucikan tanah,
tapi menyeka wajah-Nya
yang mungkin menangis
karena manusia
tak tahu lagi
bagaimana caranya menangis.

Dan senja—
ia tak pergi,
hanya menghindar sejenak,
menyuruh kita pulang
bukan ke rumah,
tapi ke nurani
yang sudah terlalu lama
ditinggalkan.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/7/

AKHIR BULAN MEI

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Akhir bulan Mei itu,
Hujan jatuh bukan dari langit,
melainkan dari luka yang terbuka di kelopak waktu—
ia merintik seperti kenangan
yang tak sempat kita rawat
dalam doa yang tertinggal di jendela.

Hujan itu membawa suara
yang tidak kita mengerti,
tapi kita tahu:
ia pernah menjadi air mata
seorang ibu yang kehilangan rumah
tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Ia mengetuk genting,
seperti mengetuk dada kita yang rapuh,
menggugurkan dendam yang telah lama berdebu,
mengajak kita duduk sejenak,
tanpa topeng, tanpa jeda.

Karena hujan tak pernah sekadar turun—
ia datang membawa kabar dari langit
tentang pohon yang tak sempat tumbuh,
tentang tanah yang menahan luka,
tentang anak-anak yang menggambar pelangi
dengan jari-jari basah oleh harap
yang belum sempat dijemput.

Maka biarlah ia luruh di pelipis kita,
membasuh ingatan yang mengeras,
membuka payung kesadaran
bahwa tidak semua air
datang untuk menenggelamkan—
sebagian turun
agar kita belajar berenang dalam kehilangan
tanpa menuduh siapa-siapa.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

/8/

AIR MATA DAN HUJAN UNTUK PERSAUDARAAN

Ilustrasi 2 “KAMI TAK PERNAH ASING”: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia). Sumber gambar: panitia Poetry-BLaD & IOSoP 2025.
Keterangan gambar dari kiri ke kanan: Bruno Rumyaru, Tatang R Macan, Julia Ratuanak, Leni Marlina, Edrawati, Evelyn, Nur Rosita, Hermi Zaswita, Anto Narasoma.

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Air mata kita tak lagi asing,
Air hujan ini tak lagi asing, karena kita bersahabat dan bersaudara,
bukan dari warisan keluarga,
tapi karena panggilan asa dari: berupa luka dan cerita
berupa rasa dan makna,
berupa warna dan bahasa.

Saat kita saling melambaikan tangan di jadwal keberangkatan,
Langit tak menangisi perpisahan kita,
Tapi air mata ini bertanya:
akankah usia persahabatan dan persaudaraan kita akan berumur panjang,
meski tak satupun dari kita yang tahu pasti,
kapan kita akan bertemu kembali,
kapan kita bisa mengeluarkan air mata bersama,
sebagai tanda syukur kepada-Nya.

Padang, Sumatera Barat, Juni 2025

————————————

Leni Marlina – Melangkah Bersama Sastra dari Ranah Minang, Nusantara Menuju Dunia

Leni Marlina adalah seorang penulis, penyair, dan dosen asal Sumatera Barat. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.

Sejak tahun 2022, Leni bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.

Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.

Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.

Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.

Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.

Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.

Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/.

Sebagai bagian dari niat untuk berbagi, merangakul dan menjangkau lebih banyak hati, Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)

Melalui puisi, tulisan, dan kegiatan bersama, Leni berusaha untuk terus belajar, berbagi, dan menginspirasi—dengan keyakinan bahwa dari hal-hal kecil, makna besar bisa tumbuh. Ia melangkah tak sendiri, tapi bersama para guru, mentor, tutor, motivator, sahabat, komunitas dan pembaca budiman, Leni turut serta menyalakan lentera literasi dan sastra dari ranah Minang, Nusantara, menuju dunia.