Kepemimpinan Ekologis, Menghubungkan Spiritualitas dan Praktik dalam Merespon Krisis Lingkungan
Oleh: Khoirotun Nisak)*
–
Krisis lingkungan saat ini bukan hanya sekadar masalah ilmiah atau politik, tetapi sebuah tantangan yang menyentuh semua aspek kehidupan manusia, termasuk spiritualitas. Data terbaru dari Living Planet Report 2024 menunjukkan bahwa populasi satwa liar global telah menurun hingga 73% dalam lima dekade terakhir. Penurunan ini paling signifikan terjadi pada ekosistem air tawar, yang mengalami penurunan populasi hingga 85%. Bersamaan dengan itu, laporan dari Institute for Economics & Peace (IEP) menunjukkan bahwa meskipun ancaman ekologis terhadap Indonesia sedikit menurun pada tahun 2024, tekanan global terhadap lingkungan tetap meningkat, terutama dari dampak perubahan iklim.
Dalam situasi seperti ini, diperlukan pendekatan baru yang mengintegrasikan dimensi spiritualitas, kosmologi, dan aksi nyata. Persoalan inilah yang mendasari konsep ecological leadership.
Kepemimpinan Ekologis
Kepemimpinan ekologis bukan hanya tentang keberpihakan terhadap isu lingkungan, tetapi juga sebuah upaya menyelaraskan kesadaran spiritual dengan tindakan ekologis yang nyata. Konsep ini menekankan pentingnya memahami hubungan mendalam antara manusia dan alam sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung.
Saya mengikuti sebuah pelatihan yang berjudul Kepemimpinan Ekologis, yang dipimpin oleh seorang tokoh agama Katolik yang terkemuka, yang pakar dalam isu Spiritualitas Ekologi. Namanya Romo Ferry Sutrisna Wijaya, Dosen Fakultyas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Pendiri Integral Ecology Institute dan Eco Camp juga di Bandung. Pelatihan yang saya ikuti mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa bumi, melainkan penjaga harmoni ekosistem. Kesadaran ini membutuhkan pergeseran paradigma dari pendekatan antroposentris—yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya—ke pendekatan kosmosentris, yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dari kosmos.
Akar Krisis Ekologis
Oleh para aktivis lingkungan, Kapitalisme sering disebut sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan. Murray Bookchin, filsuf ekologi sosial, menyoroti bahwa struktur sosial hierarkis yang mendukung eksploitasi sumber daya alam memperburuk ketidakadilan sosial dan ekologis. Contohnya, jejak ekologis manusia telah melampaui kapasitas regeneratif bumi sejak tahun 1970-an, menurut laporan Global Footprint Network.
Namun, solusi terhadap krisis ini tidak hanya berupa kebijakan teknokratis. Dibutuhkan perubahan struktural menuju masyarakat egaliter, demokratis, dan terdesentralisasi yang menghormati keberagaman budaya dan ekologis. Transformasi ini memerlukan kepemimpinan yang mampu menghubungkan visi ekologis dengan aksi sosial.
Dalam perjalanan pelatihan saya ini, interaksi dengan Ibu Sherly dari Eco Camp menjadi pengalaman yang memperkaya. Ia menekankan pentingnya “re-connecting” dengan Ibu Bumi. Menurutnya, hubungan spiritual dengan alam bukan hanya soal kesadaran, tetapi juga tentang merasakan kehadiran dan energi kehidupan yang diberikan oleh alam.
Meditasi di tengah hutan, simbolisasi pertumbuhan benih, dan refleksi empat penjuru mata angin adalah beberapa praktik yang digunakan untuk membangun kembali hubungan ini. Dalam setiap kegiatan tersebut, peserta diajak untuk mendengarkan suara alam, merasakan kedamaian yang pernah kita miliki di awal kehidupan, dan memikirkan bagaimana kita dapat hidup selaras dengan alam.
Spiritualitas ekologis juga menekankan penghormatan terhadap hak-hak alam. Dalam sudut pandang ini, bumi bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah entitas hidup yang memiliki hak untuk berkembang tanpa gangguan.
Mengubah Narasi
Gagasan bahwa “bumi baik-baik saja” adalah pandangan yang awalnya sulit saya terima. Sebagai seseorang yang terbiasa melihat dampak buruk kapitalisme dan eksploitasi lingkungan, saya merasa dunia sedang dalam keadaan darurat. Namun, gagasan ini bukan berarti mengabaikan kenyataan kerusakan yang terjadi. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menginspirasi tindakan optimis dengan menyadari bahwa kesadaran global tentang ekologi semakin meningkat.
Penelitian Our World in Data menunjukkan bahwa negara-negara di seluruh dunia kini semakin serius mengatasi perubahan iklim. Misalnya, lebih dari 80% negara telah membuat rencana aksi iklim jangka panjang yang terukur, termasuk komitmen terhadap penggunaan energi terbarukan. Namun, optimisme ini harus diiringi oleh aksi nyata, seperti pendidikan ekologi di masyarakat dan implementasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan.
Pelatihan kepemimpinan ekologis yang saya ikuti mengajarkan pentingnya memahami kosmologi baru yang berbasis tiga prinsip utama:
- Keberagaman (Diversity): Menghormati dan melestarikan keragaman alam semesta, baik dari segi biologis maupun budaya. Keberagaman ini adalah sumber kekuatan yang menjaga keseimbangan ekosistem.
- Kesatuan (Interiority): Meskipun beragam, semua makhluk hidup terhubung melalui elemen Ilahi yang menyatukan kita. Prinsip ini mengajarkan bahwa keberadaan manusia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan makhluk lain.
- Keterpaduan (Communion): Manusia harus membangun hubungan harmonis dengan alam, menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki dampak pada jaringan kehidupan yang lebih besar.
Kepemimpinan ekologis tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa dimulai dari langkah kecil, seperti mengurangi konsumsi energi fosil, mendukung komunitas lokal yang berfokus pada pelestarian lingkungan, hingga mempromosikan gaya hidup minimalis.
Di tingkat kebijakan, pemimpin ekologis dapat mendorong pelaksanaan undang-undang perlindungan lingkungan yang lebih tegas, mendukung investasi dalam teknologi hijau, dan mengadvokasi pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah.
Pelatihan kepemimpinan ekologis ini mengajarkan dan menginspirasi saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari transformasi kecil. Dengan mengintegrasikan spiritualitas, kosmologi baru, dan aksi sosial, manusia dapat memainkan perannya sebagai penjaga bumi yang bertanggung jawab.
Masa depan yang berkelanjutan tidak hanya tentang teknologi atau kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memandang dirinya sendiri dalam hubungan dengan alam semesta. Dengan pemahaman yang lebih holistik, kita bisa menciptakan dunia yang tidak hanya lestari, tetapi juga harmonis dengan alam.
Khoirotun Nisak)* Direktur Program Paramadina Center For Religion and Philosophy (PCRP), dan aktif dalam Forum Esoterika, sebuah forum Spiritualitas untuk isu-isu antariman.