Ketika Kaki Bercerita di Pagi Sunyi
Yusufachmad Bilintention
Hari masih petang,
zikir subuh baru saja meluruh di udara.
Embun menggeliat di sela-sela aspal,
harum semerbak menari dalam dingin yang malas.
Para jamaah berlalu,
membawa luka yang belum sembuh,
doa yang belum dijawab,
Masjid dan langgar terdiam,
menjelma saksi bisu atas pinta yang tertumpah.
Langkahku menyusuri jejak sunyi kehidupan,
di antara gelisah ibu-ibu yang menggenggam mimpi
dengan tangan bergetar,
di atas tumpukan barang jualan
yang belum disentuh rezeki,
di bawah langit yang masih remang,
seorang bapak paruh baya mengayun sapu lidi,
menatap jalan kosong.
Ia menyapu luka rumah tangga ke dalam selokan
yang tak pernah bertanya,
menghempaskan marah pada tumpukan sampah
yang tak pernah membalas.
Di genggaman sapu lidi,
ia temukan keteguhan:
tempat bertahan ketika
cinta tak lagi pulang.
Di sudut pertigaan,
kakiku berhenti.
Perempuan berambut pirang berjalan pelan,
menggenggam resah yang tak bisa dibagi.
Tubuhnya kecil, ringkih, tak tinggi,
tapi langkahnya tak pernah ragu.
Ia mengiringi subuh,
merajut nasib yang tercabik oleh takdir.
Kadang ia tercekat
di antara pedagang perantauan,
tangannya tak seimbang—kiri
tertinggal di pusaran waktu.
Mungkin itu pertanda hidup yang pincang,
namun ia tetap berjalan,
menginjak ketidakadilan,
menghentakkan nasib di tangan majikan
yang tak mengenal iba.
Dalam kepedihan ini,
aku bersuara.
Kepada embun yang berbisik,
kepada subuh yang menyimpan cerita.
Bait hatiku bergetar,
menyusun asa,
takkan diam, aku meronta dalam jiwa
yang tak ingin menyerah.
Di tengah derita, kusisipkan keberanian:
pada ibu-ibu yang berjuang dalam kesunyian,
pada bapak tua yang mengayun sapu
dengan sisa keyakinan,
dan kepadamu, wahai perempuan
yang menantang kebingungan,
aku menyerukan tekad yang tak layu,
harapan yang tak berkesudahan.
Karena di setiap langkah yang kau ambil,
ada janji yang kita rajut, ada mimpi yang tak bisa diredam.
Dan di setiap derap kaki yang kau hentakkan,
ada semangat melawan takdir
yang kerap melukai tanpa perasaan.
Surabaya, 2 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly