Literasi Ilmu Menyulam Rasa Menata Kalbu
Literasi Ilmu Menyulam Rasa Menata Kalbu
Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I
Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam Sumbar
Di tengah derasnya arus informasi dan ledakan teknologi, manusia sering terhenti pada kecanggihan data, namun lupa menyelami makna. Literasi yang sejati tidak hanya membaca teks, tetapi membaca semesta, membaca diri, dan membaca peradaban. Ia bukan sekadar kecakapan memahami huruf, tetapi kepiawaian menyulam pengalaman menjadi hikmah. Di sinilah literasi ilmu berdiri sebagai jembatan: menghubungkan rasionalitas otak dengan kehalusan rasa, menata kalbu agar mampu memandang dunia dengan kejernihan dan kedalaman.
Literasi ilmu yang dimaksud bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi keterampilan spiritual-intelektual yang berakar pada nilai, mengalir dalam akhlak, dan bermuara pada kematangan nurani. Inilah wajah literasi yang diharapkan hadir di madrasah, khususnya di MAN Kota Sawahlunto, sebagai pusat pembelajaran yang menanamkan karakter, struktur pikir, dan kepekaan jiwa.
Literasi sebagai Ruh Peradaban
Sejarah mencatat bahwa peradaban besar tumbuh dari masyarakat yang literat. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah “Iqra’”sebuah perintah membaca yang bukan hanya membaca tulisan, tetapi membaca tanda-tanda-Nya dalam ciptaan. Dari kata ini bangkit peradaban ilmu Islam yang melahirkan ilmuwan, cendekia, dan ulama yang menghidupkan dunia dengan pemikiran.
Literasi ilmu menjadi fondasi bagi berkembangnya peradaban Islam yang bersifat holistik: menggabungkan akal dan rasa, logika dan etika, dunia dan akhirat. Tokoh seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Ibn Khaldun mencontohkan bagaimana ilmu harus dipadukan dengan integritas akhlak dan kedalaman spiritual.
Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan knowing; ia harus terus bertumbuh menuju being, yakni menjadi manusia yang berilmu dan beradab. Ketika peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut dalam kalbu, maka lahirlah generasi rahmatan lil ‘alamin.
Aktualitas Literasi di Era Digital
Konteks kekinian menghadirkan tantangan baru: banjir informasi, bias kebenaran, kecemasan sosial, hingga lemahnya kemampuan berpikir kritis. Di sinilah urgensi literasi ilmu pada generasi milenial dan generasi Z.
Beberapa fakta aktual menunjukkan:
1. Hoaks dan disinformasi dapat menyebar 6 kali lebih cepat daripada fakta.
2. Kecenderungan membaca menurun di kalangan remaja, tergantikan oleh konsumsi media visual yang instan.
3. Kemampuan literasi sains dan literasi moral menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi isu global seperti AI, perubahan iklim, dan krisis etika.
Madrasah sebagai kawah candradimuka pendidikan Islam harus hadir sebagai ruang yang menghidupkan kembali semangat literasi ilmiah dengan rasa: menanamkan kemampuan membaca mendalam (deep reading), berpikir kritis, memahami konteks, mengolah emosi, serta menata nilai.
Literasi Ilmu di Madrasah: Menyulam Rasa, Menata Kalbu
Dalam bingkai pendidikan Islam, literasi bukan hanya kompetensi, tetapi ibadah. Setiap pena yang bergerak, setiap buku yang dibaca, setiap renungan yang diolah adalah bagian dari ibadah intelektual. Di MAN Kota Sawahlunto, spirit ini harus menjadi budaya yang merasuk kuat, sebagaimana visi madrasah: cerdas dalam ilmu, santun dalam akhlak, dan sejuk dalam keberagamaan.
Literasi ilmu yang menyulam rasa menata kalbu hadir melalui tiga pendekatan:
1. Literasi Kognitif: Membentuk Logika yang Jernih
Peserta didik dilatih untuk membaca, memahami, dan menganalisis. Guru menuntun mereka menyeimbangkan antara kecakapan sains, bahasa, dan teknologi untuk menembus batas keilmuan modern.
2. Literasi Emosional: Menanamkan Kepekaan Rasa
Ilmu tanpa rasa adalah pedang tanpa gagang tajam namun melukai. Di madrasah, literasi diajarkan melalui dialog, empati, kolaborasi, dan cerita-cerita hikmah yang membentuk karakter.
3. Literasi Spiritual: Menata Kalbu agar Terhubung pada Sang Pencipta
Di sinilah kekhasan madrasah. Belajar bukan hanya mengejar nilai, tetapi menemukan makna. Setiap ilmu dikembalikan kepada Allah; setiap proses pembelajaran menjadi perjalanan mengenal diri dan mengenal Tuhan.
Novelti: Literasi sebagai Ekosistem Baru Pendidikan Madrasah
Artikel ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem literasi bernilai rasa yang menjadi ruh inovasi pendidikan. Novelti yang ditawarkan adalah integrasi literasi multidimensi kognitif, emosional, dan spiritual sebagai pendekatan komprehensif untuk membina peserta didik masa kini.
Melalui kegiatan reading circle, morning reflection, writing clinic, hingga halaqah literasi, madrasah dapat menciptakan atmosfer belajar yang tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga memuliakan jiwa.
Penutup: Ketika Ilmu Menemukan Jalan Pulang
Literasi ilmu pada akhirnya adalah perjalanan pulang: dari gelisah menuju teduh, dari hampa menuju bermakna, dari tahu menuju bijaksana. Ketika ilmu disulam dengan rasa, ia melahirkan generasi yang cerdas namun rendah hati; kuat namun berempati; modern namun tetap berakar pada nilai-nilai ilahiah.
Madrasah yang literat adalah madrasah yang hidup. Ia menyinari hari ini dan menyiapkan masa depan. Dan ketika kalbu telah tertata, ilmu akan menumbuhkan cahaya yang tidak hanya menerangi diri, tetapi juga seluruh semesta.
Semoga literasi ilmu menjadi wasilah lahirnya generasi yang kuat dalam integritas, lembut dalam nurani, dan teguh dalam iman generasi yang membawa rahmat dan kebaikan bagi dunia.