May 6, 2026
WhatsApp Image 2026-05-05 at 12.53.14_11zon

Oleh Denny JA

Sebelum terbang ke Houston, saya teringat bertemu seorang anak di sebuah desa terpencil di Papua, Indonesia. Ia menatap lampu yang berkedip-kedip dan berkata pelan, “Kalau listrik menyala lebih lama, saya bisa belajar lebih banyak.”

Saya duduk di barisan tengah, di sebuah ruangan besar di Houston yang dipenuhi wajah-wajah paling berpengaruh dalam industri energi dunia.

CEO perusahaan raksasa. Pejabat dari negara kaya minyak. Insinyur yang mengubah teori menjadi kilang dan sumur nyata.

Lalu nama itu dipanggil. Presiden dari sebuah negara kecil.
Negara dengan penduduk bahkan tidak mencapai satu juta jiwa.

Saya sempat bertanya dalam hati, mengapa bukan Amerika, Arab Saudi, atau China yang membuka forum ini. Mengapa justru Guyana.

Kemudian ia mulai berbicara. Dan ruangan itu perlahan berubah.

Ia tidak berbicara dengan retorika besar. Ia berbicara dengan angka. Dengan realitas. Dengan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar pidato.

Saya melihat sesuatu yang jarang terjadi dalam konferensi besar seperti ini. Bukan kekaguman pada kekuatan masa lalu. Tetapi rasa ingin tahu pada masa depan.

Negara kecil itu ternyata tidak kecil lagi.

Ia telah menemukan lebih dari 11 miliar barel minyak. Produksinya mendekati satu juta barel per hari. Dalam satu dekade, ekonominya tumbuh rata-rata lebih dari 20 persen per tahun, menjadikannya salah satu yang tercepat di dunia.

Saya terdiam.

Ternyata, dalam dunia energi, ukuran negara tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah penduduk. Tetapi oleh keberanian membaca dan mendayagunakan momentum sejarah.

-000-

Presiden negara yang penduduknya sangat sedikit itu terus bicara. Jumlah penduduk di negara itu bahkan lebih sedikit dibandingkan penduduk di Jakarta Timur saja.

Tapi presiden itu, Irfaan Ali, membawa tiga pesan penting.

Pesan pertama adalah tentang kejujuran.

Ia mengatakan bahwa dunia sedang hidup dalam ilusi. Kita berbicara tentang energi bersih, tetapi kita masih hidup dari energi fosil. Lebih dari 80 persen energi global hari ini masih berasal dari minyak, gas, dan batubara.

Renewable tumbuh cepat, tetapi belum cukup. Dunia tidak sedang mengganti sistem lama. Dunia sedang menambahkan sistem baru di atas sistem lama.

Ini bukan kegagalan. Ini kenyataan.

Pesan ini terasa sederhana, tetapi dalam dunia yang penuh slogan, kejujuran menjadi sesuatu yang radikal.

Ia mengingatkan bahwa energi bukan sekadar idealisme. Energi adalah soal apakah rumah sakit bisa beroperasi, apakah makanan bisa dimasak, apakah ekonomi bisa berjalan.

Dunia tidak hanya butuh energi bersih. Dunia butuh energi yang cukup.

-000-

Pesan kedua adalah tentang ketimpangan.

Investasi energi global mencapai 3,3 triliun dolar per tahun. Namun kebutuhan sebenarnya hampir dua kali lipat. Dunia baru membiayai sekitar setengah dari apa yang dibutuhkan.

Lebih menyakitkan lagi, distribusinya tidak merata.

Lebih dari 80 persen investasi energi terkonsentrasi di Amerika Serikat, China, dan Eropa. Sementara negara berkembang, yang menampung dua pertiga populasi dunia, hanya menerima sekitar 15 persen.

Afrika bahkan kurang dari 3 persen.

Ia tidak menyebutnya sebagai ketidakadilan. Ia hanya menyajikan angka. Tetapi angka itu berbicara lebih keras dari retorika apa pun.

Dunia sedang membangun masa depan energi yang tidak merata.

-000-

Pesan ketiga adalah tentang ilusi transisi.

Dunia, katanya, tidak menghapus ketergantungan. Dunia hanya memindahkannya.

Dari minyak ke mineral.

Kendaraan listrik membutuhkan enam kali lebih banyak mineral dibanding mobil biasa. Pembangkit angin lepas pantai membutuhkan sembilan kali lebih banyak mineral dibanding pembangkit gas.

Lithium, nickel, cobalt, dan rare earth menjadi fondasi energi masa depan.

Namun sumber daya itu terkonsentrasi di sedikit negara. Risiko geopolitik tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.

Dan lebih jujur lagi, transisi ini tidak sepenuhnya bersih.

Satu ton lithium membutuhkan sekitar dua juta liter air. Deforestasi meningkat lebih dari 236 ribu kilometer persegi dalam dua dekade terakhir.

Kita tidak menghilangkan kerusakan. Kita memindahkannya.

-000-

Saya menatap dan mendalami angka-angka yang disajikan Presiden Guyana itu setelah sesi berakhir.

3,3 triliun dolar investasi global.
Namun dunia membutuhkan 6 hingga 7 triliun dolar per tahun untuk benar-benar bertransisi.

Lebih dari 80 persen investasi terkonsentrasi di tiga wilayah utama dunia. Sementara negara berkembang, dengan dua pertiga populasi global, hanya menerima sekitar 15 persen investasi energi bersih.

Afrika, dengan kebutuhan energi yang sangat besar, hanya mendapat kurang dari 3 persen.

Di sisi lain, permintaan energi terus meningkat sejak 1965. Setelah 2010, jarak antara supply dan demand semakin melebar. Setelah pandemi, lonjakan permintaan tidak diimbangi oleh pasokan.

Ini bukan sekadar ketimpangan ekonomi. Ini adalah ketimpangan energi.

Dan dalam dunia modern, ketimpangan energi berarti ketimpangan kehidupan.

Lebih jauh lagi, ketimpangan ini berubah bentuk.

Dulu dunia bergantung pada minyak. Kini dunia mulai bergantung pada mineral. Namun distribusinya tetap tidak merata.

Ketika satu negara kaya minyak, negara lain kekurangan energi.
Ketika satu negara kaya lithium, negara lain menjadi pembeli tanpa daya tawar.

Transisi energi tidak otomatis menciptakan keadilan.
Ia hanya membentuk peta ketergantungan yang baru.

-000-

Dua buku ini membantu saya memahami bahwa apa yang saya dengar di Houston bukan sekadar pidato, tetapi gambaran dunia yang sedang berubah.

Buku pertama, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations karya Daniel Yergin, membuka mata saya bahwa energi selalu lebih dari sekadar komoditas.

Ia adalah bahasa kekuasaan. Yergin menunjukkan bahwa perubahan energi selalu diikuti perubahan geopolitik. Dunia tidak bergerak secara lurus dari energi lama ke energi baru.

Ia bergerak dalam ketegangan antara keduanya. Minyak dan gas tetap menjadi penyangga stabilitas, sementara energi baru tumbuh sebagai arah masa depan.

Membaca buku ini, saya mulai melihat bahwa apa yang disampaikan Presiden Guyana adalah cerminan dari realitas global yang jauh lebih kompleks daripada slogan transisi energi.

-000-

Buku kedua, How the World Really Works karya Vaclav Smil, membawa saya kembali ke dasar yang sering kita lupakan. Dunia energi tidak dibangun oleh harapan, tetapi oleh hukum fisika.

Smil menjelaskan bahwa perubahan sistem energi tidak bisa terjadi secepat yang kita bayangkan karena keterbatasan material, infrastruktur, dan ekonomi.

Energi fosil tetap dominan bukan karena kita tidak ingin berubah, tetapi karena dunia masih membutuhkannya. Dari buku ini saya belajar bahwa optimisme tanpa realisme adalah ilusi.

Dan pidato Presiden Guyana seolah menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan itu.

-000-

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia

Saya masih mengingat wajah anak itu. Ia berdiri di depan rumah kayu yang gelap, memandang dengan harapan yang sederhana.
“Kalau listrik menyala lebih lama, saya bisa belajar lebih banyak.”

Tidak ada teori dalam kalimat itu.
Tidak ada jargon energi.
Hanya satu kebutuhan paling mendasar: cahaya untuk masa depan.

Dan di titik itulah saya menyadari, energi bukan soal teknologi semata. Ia adalah soal siapa yang mendapat kesempatan untuk bermimpi.

Di Houston, di panggung besar Offshore Technology Conference, saya melihat sisi lain dari dunia yang sama. Ribuan teknologi dipamerkan. Artificial intelligence. Digital twin. Autonomous drilling. Real-time reservoir modeling. Predictive maintenance.

Dunia energi sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dan Indonesia berdiri di tengah dua dunia itu. Antara anak yang menunggu listrik, dan mesin cerdas yang memprediksi masa depan energi.

-000-

Pelajaran pertama adalah keberanian keluar dari ideologi energi yang sempit, sekaligus melompat dengan teknologi tinggi.

Indonesia tidak boleh memilih antara energi fosil dan energi terbarukan secara ideologis. Dunia tidak bekerja dengan pilihan sederhana seperti itu. Guyana menunjukkan bahwa minyak dapat menjadi alat, bukan belenggu.

Namun ada satu dimensi baru yang tidak boleh diabaikan. Teknologi.

Di OTC, hampir setiap solusi masa depan berbasis pada kecerdasan buatan. AI tidak lagi sekadar alat bantu. Ia menjadi inti dari efisiensi dan keunggulan. Ia meningkatkan recovery rate, menekan biaya, memprediksi kegagalan, dan bahkan membantu mengurangi emisi secara real time.

Indonesia tidak cukup hanya mengikuti. Indonesia harus melompat. Mengintegrasikan AI dalam seluruh rantai energi, dari hulu hingga hilir.

Karena di masa depan, negara yang unggul bukan hanya yang memiliki sumber daya, tetapi yang mampu mengelola sumber daya dengan kecerdasan.

-000-

Pelajaran kedua adalah disiplin membangun strategi jangka panjang yang ditopang oleh teknologi.

Guyana memahami bahwa minyak bukan hadiah, tetapi ujian. Mereka menggunakan pendapatan dari energi fosil untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Indonesia harus melangkah lebih jauh. Strategi jangka panjang tidak cukup hanya berbicara tentang jalan, pelabuhan, atau pembangkit. Ia harus mencakup sistem digital. Smart grid. Energy storage berbasis data. Sistem distribusi yang dipandu oleh algoritma.

Di OTC, saya melihat bagaimana analitik prediktif mampu menentukan kapan sebuah pipa akan gagal sebelum kerusakan itu terjadi.

Bagaimana machine learning membaca reservoir lebih akurat daripada metode lama. Bagaimana simulasi digital menghemat miliaran dolar sebelum satu sumur dibor.

Ini bukan masa depan. Ini sudah menjadi kenyataan.

Tanpa strategi yang memasukkan teknologi ini, kita hanya akan menjadi pengguna dari inovasi orang lain.

Namun, Indonesia harus waspada; kekayaan sumber daya tanpa integritas institusi hanyalah kutukan. Kita wajib memadukan teknologi AI dengan tata kelola transparan agar minyak tak sekadar menjadi rente, melainkan mesin kesejahteraan.

-000-

Pelajaran ketiga adalah keberanian menentukan posisi dalam peta energi global berbasis inovasi.

Guyana menjadi besar bukan karena ukuran, tetapi karena keberanian menentukan arah.

Indonesia memiliki keunggulan jauh lebih besar. Sumber daya melimpah. Populasi besar. Posisi geopolitik strategis. Tetapi semua itu tidak berarti tanpa keputusan yang jelas.

Di era baru ini, kekuatan tidak lagi diukur dari siapa yang memiliki minyak terbanyak. Ia diukur dari siapa yang mampu menggabungkan energi, teknologi, dan data menjadi kekuatan baru.

Apakah Indonesia akan menjadi eksportir bahan mentah, atau pusat inovasi energi di kawasan?
Apakah kita hanya menjual sumber daya, atau menciptakan nilai melalui teknologi?

Di OTC, saya melihat banyak negara sudah bergerak ke arah ini. Mereka tidak hanya berbicara tentang energi. Mereka berbicara tentang energy technology sebagai masa depan.

Jika Indonesia tidak mengambil posisi sekarang, kita akan tertinggal dalam perubahan yang menentukan abad ini.

-000-

Pada akhirnya, saya kembali teringat anak itu.

Ia tidak tahu apa itu kecerdasan buatan. Ia tidak tahu apa itu transisi energi.

Ia hanya tahu bahwa ketika listrik menyala, ia bisa belajar lebih lama.

Dan di situlah seluruh kompleksitas energi dunia menemukan maknanya.

Teknologi setinggi apa pun, strategi secerdas apa pun, pada akhirnya harus kembali pada satu tujuan sederhana: memberi cahaya.

-000-

Pada akhirnya, saya memahami satu hal dari hari pertama di Houston.

Dunia tidak sedang kekurangan energi. Dunia sedang kehilangan keseimbangan.

Guyana tidak mengajarkan kita untuk memilih antara masa lalu dan masa depan. Ia mengajarkan kita untuk menghubungkan keduanya.

Di Houston saya belajar satu hal: bangsa besar bukan yang hanya memiliki minyak, tetapi yang mampu mengubah minyak menjadi cahaya rakyatnya. *

(Houston, USA, 4 Mei 2026)

REFERENSI

1. The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations
Daniel Yergin, Penguin Press, 2020

2. How the World Really Works
Vaclav Smil, Viking, 2022

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1ChpHm7Ak5/?mibextid=wwXIfr