Napas Resolusi, Kado Puisi Terindah
Ilustrasi Puisi "Napas Resolusi" Karya Akbar AP. Sumber gambar: AAP'd cover 2026 via LM - SAN
Opini oleh Akbar AP
–
Kado terindah buat saya adalah ketika saya tidak dibebani dengan banjir ucapan selamat. Kalau diingat-ingat, tahun ini saya dapatkan jauh sebelum saya memasuki angka baru bernama 23 tahun seperti hari ini. Namun, sebelum ke sana, izinkan saya menjelaskan kallimat pertama saya tadi. Bukan maksud saya menepis berbagai ucapan selamat itu, bukan juga saya benci. Bagi saya, semakin sedikit yang mengucapkan selamat kepada saya, artinya semakin berqualitas orang-orang itu. Orang-orang itu berkualitas karena dekat dengan saya, baik personal maupun komunitas. Bisa jadi dekat secara emosional, bisa juga dekat karena hampir setiap hari bergaul.
Kemudian saya menggaris bawahi, dalam platform digital, saya mengamankan diri saya dengan mematikan fitur ulang tahun di Facebook. Fitur itu mengganggu karena menyediakan ucapan selamat yang diunggah. Saya khawatir kalau ucapan itu diunggah banyak orang di linimasa saya, akun saya akan terpengaruh. Kecuali jika fitur itu disediakan tanpa memberi peluang bagi pengguna lain mengunggah apapun di linimasa orang yang berulang tahun. Sebut saja, kawat Telegram. Pengecualian keduanya adalah fitur itu disediakan dengan mengizinkan pengguna lain mengunggah ucapan selamat, tetapi bisa dikondisikan si pemilik akun agar qualitas akun si pemilik tidak terpengaruh.
Adapun kado terindah yang saya maksud dan dapatkan jauh sebelum hari ini adalah puisi pertama saya pada 1 Januari lalu. Saat orang-orang bersukaria merayakan hari pertama 2026, ketika insan melupakan padatnya jadwal kerja dan rutinitas, serta di waktu manusia memuaskan diri selama seharian karena tanggal merah, saya diam-diam menuangkan isi pikiran saya dalam beberapa bait. Napas Resolusi, saya beri nama puisi itu. Getaran demi getaran dirasa ketika saya membacanya ulang. Makna-makna membayang-bayang di kepala. Kemantapan dan semangat merasuki persada diri. Selain itu, puisi itulah yang mengawali komitmen saya, satu hari satu puisi selama Januari 2026.
Napas Resolusi
Puisi: Akbar AP
–
Aku hidup dengan bernapas.
Kamu pun bernapas.
Lantas apa yang perlu tergesa ditanya?
Lantaran kita sama, bukan berarti akhirnya bermuara sama.
Sekilas, saya temukan nilai kesetaraan dalam bait pertama ini. Kesetaraan itu bukan nilai mutlak. Sebab, sesetara apapun itu, akan selalu ada pertanyaan yang menyeruak. Bagaimana ujung dari kesetaraan itu? Apakah selalu setara? Kalau tidak, pada akhirnya beragam hal.
Analoginya ketika kamu mengatakan semua warga Indonesia makan nasi karena beras berlimpah. Nyatanya, tidak selalu, kan? Tetap saja, ada orang-orang yang menjadikan beras itu sebagai modal sosial seperti bahan berdagang, alat barter di beberapa daerah, dan masih banyak lagi. Selain itu, ketika sudah menjadi nasi, tidak selalu juga langsung dimakan. Bisa jadi dijual bersama sayur dan lauk kepada orang lain yang malas memasak sendiri.
Nilai semiotika dalam bait pertama itu dapat ditemukan dalam 2 baris pertama. Pengakuan eksistensi seseorang disimbolkan dari penegasan kalau dia masih bernapas. Sudut pandang orang yang digunakan juga dua pandangan, aku dan kamu. Bertalian dengan psikologis juga, tidak hanya dalam bertanya, tetapi juga aktivitas apapun saya kira harus perlahan. Jangan tergesa-gesa karena bakalan berdampak tidak baik pada hasil akhirnya.
Inovasi landasannya dari teori.
Lahir dari kesunyian bahasa pikiran.
Dinalar matang oleh pertukaran intuisi.
Dikoridori pribudi sutra perasaan.
Boleh jadi,
Asal kita dari Sabang.
Namun, Merauke tidak serta mencipta jarak.
Sekalipun dalam lingkaran interaksi nanti,
Ada adicipta, bahkan adu domba,
Sebab egosentris,
Semoga tidak berbuah garis.
Begitu penting budi dan perasaan, begitu agung intuisi sehingga bisa dikatakan keduanya adalah modal individual seorang manusia ketika dia bergabung dalam keberagaman dari sebuah masyarakat yang sifatnya multikultural. Selain itu, keberagaman dalam kehidupan tidak selayaknya mencipta jarak. Interaksi harus ada meskipun dengan cara yang tiddak mempertemukan fisik. Perkembangan dunia digital menawarkan kemajuan demi kemajuan cara berkomunikasi manusia sekalipun dipisahkan jarak fisik yang jauh seperti Sabang dengan Merauke, sebuah jarak barat dengan timur Indonesia. Dalam interaksi itu, tidak boleh ada konflik baik ego kesukuan, maupun kepentingan politik tertentu. Garis kebinekaan tidak akan terciderai..
Dalam lingkup globalisasi, saya berharap nilai-nilai luhur itu dapat dibawa. Minimal ketika bertemu orang asing bercirikan non-Indonesia di jalan. Bisa juga saat bersua di dunia maya. Nilai kebinekaan dipegang, tanda sudah dipahami posisi dan diresapi nilai-nilai kebijaksanaan tersebut. Saya percaya dengan semakin meleknya teman-teman terhadap digitalisasi, kebijaksanaan nilai-nilai hidup itu tidak memudar. Bait-bait selanjutnya sejatinya penjellasan atas bait-bait di awal puisi. Meskipun demikian, penjelasan saya sebelum ini dapat menjadi bahan tambahan kita dalam menyusun daftar cita-cita di tahunn ini.
Tahun baru, jiwa baru.
Bangunlah jiwanya, bangunlah bangsanya.
Aku secepat-cepatnya beranjak,
Dari Desember,
Dari suara masa silam yang sember.
Agar Januari mekar berseri.
Kendati resolusi tidak selalu,
Tercapai,
Masih terpagari,
Andai.
Tapi aku percaya.
Tuhan, senantiasa.
Menemani diri, mengawani darmabakti.
Menjauhkan aku dari segala bala bencana.
Sekarang ini, tahun ini.
“Setia sampai akhir dalam keyakinan.”
warisan ujaran Robert Wolter Mongisidi, hampir seabad lalu.
Namun, syaratnya kita harus,
“Merdeka seratus persen!”
Tuturan bernas tanpa logika mistika, Datuk Tan Malaka.
Supaya kita sanggup,
“Sakti tanpa otot, menang tanpa mengalahkan.”
Sosro Kartono, menyajikan lukisan zaman,
Pada kita untuk memilih dan berpijak.
Menuju akhir tahun dengan menghimpun,
Tertib pikiran, tertata sanubari.
Resolusi tidak jauh lagi.
Mari kita berseru!
Pada akhirnya, relevansi dari nilai-nilai leluhur sudah jauh dilakukan dan dikembangkan oleh para pendiri bangsa ini. Satu sama lain berdekatan. Berbeda redaksi bahasanya saja. Saya kira, mereka pasti tersenyum bangga dari alam kelanggengan sana ketika melihat kita mampu memahami dan menerapkan ajaran-ajaran yang mereka tinggalkan dalam jejak-jejak karya yang beragam seperti buku yang memuat pemikiran mereka, koleksi benda dan non-benda, tradisi, dan masih yang lainnya lagi.
Bantul, 2 Februari 2026
—
Tentang Penulis – Akbar AP

–
Akbar Ariantono Putra, lebih akrab dengan Akbar AP, lahir di pinggiran sebelah timur Kota Bantul pada 2003. Terlahir sebagai Disabilitas Netra, tidak membuatnya surut dan gagal dalam menjalani hidup. Baginya, ada kelebihan di balik kekurangan. Ada potensi meski dalam keterbatasan.
Saat ini, Akbar sedang menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pria yang hemat bicara ini menyenangi bacaan bertema fiksi seperti petualangan dan fantasi serta non-fiksi semisal sejarah, biografi, dan isu sosial. Dia cukup aktif di sastra dengan mengikuti sejumlah event apabila luang. Tidak cukup itu, Akbar juga menjadi anggota sejumlah komunitas seperti Teater Braille, Tukar Akar, dan belum lama ini Sastra Bulan Purnama.