May 14, 2026

Dukung Asta Protas Menteri Agama : Kakanwil H. Mustafa Minta Jadikan Rakor KKMA Sumatera Barat Solutif dan Transformatif di Era Digital

IMG-20260203-WA0007

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumatera Barat

Di tengah pusaran perubahan global dan percepatan digital yang kian masif, madrasah dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga solutif dan transformatif. Rapat Koordinasi (Rakor) Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) se-Sumatera Barat yang digelar di MAN 1 Pasaman, Senin malam, 2 Februari 2026, menjadi momentum strategis untuk meneguhkan peran madrasah sebagai pusat peradaban ilmu, nilai, dan karakter.

Rakor KKMA yang mengusung tema “Dengan Rakor KKMA Kita Tingkatkan Kualitas Pengelolaan Madrasah Menuju Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia, dan Berdampak” ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, H. Mustafa, M.A., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah H. Hendri Pani Dias, S,Ag. M,A, Kepala Kantor Kemenag Pasaman Dr. H, Yasril, para Kepala MAN dan MA se-Sumatera Barat, serta jajaran pengurus KKMA yang diketuai oleh Dr. Ahmad Asdi, Kepala MAN 2 Padang. Penulis artikel ini juga menjadi bagian dari peserta Rakor, karena secara struktural mengemban amanah sebagai Kepala MAN Kota Sawahlunto, sekaligus menyaksikan langsung dinamika, gagasan, dan arah strategis yang mengemuka dalam forum tersebut.

Dalam sambutan dan arahannya, H. Mustafa, M.A. menekankan bahwa Rakor KKMA harus melabirkan, melahirkan dan sekaligus membumikan solusi. Di era digital yang sarat tantangan sekaligus peluang, madrasah tidak boleh terjebak pada rutinitas seremonial dan administratif belaka. Rakor harus menjadi ajang berbagi cerita, berbagi praktik baik, dan berbagi solusi.

Dari ruang inilah lahir kebijakan operasional yang kontekstual, responsif, dan berdampak langsung bagi mutu pengelolaan madrasah.

Penegasan dukungan penuh terhadap Asta Protas Menteri Agama menjadi titik tekan penting dalam arahan Kakanwil. Penguatan ekoteologi, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai wacana teologis, tetapi harus diimplementasikan dalam budaya madrasah yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terhadap alam sebagai amanah ilahiah. Demikian pula Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang menempatkan kasih sayang, moderasi, dan kemanusiaan sebagai ruh pendidikan Islam, agar madrasah melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak.

Lebih jauh, H. Mustafa menggarisbawahi pentingnya membumikan tiga kata kunci yang sering diucapkan namun kerap kurang dihayati: Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi. Tiga “K” ini bukan sekadar jargon, melainkan fondasi kerja kolektif madrasah. Kepala madrasah, sebagaimana ditekankan dalam forum ini, tidak bisa berjalan sendiri. Madrasah membutuhkan orang lain, membutuhkan jejaring, dan membutuhkan sinergi baik dengan sesama madrasah, pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat luas.

Rakor KKMA juga ditegaskan sebagai forum strategis untuk memperkuat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Di sinilah kualitas pembelajaran ditentukan. MGMP yang aktif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan nyata akan menjadi lokomotif peningkatan kompetensi guru, inovasi pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan pedagogik. Tanpa guru yang terus belajar dan berbagi, mustahil madrasah mampu melompat jauh di tengah kompetisi global.

Pesan Kakanwil tersebut sejatinya mengandung makna filosofis yang dalam : madrasah adalah entitas sosial yang hidup, tumbuh, dan berkembang melalui relasi.

Rakor KKMA menjadi momen pertemuan kesadaran kolektif para kepala madrasah termasuk penulis untuk kembali meneguhkan jati diri madrasah sebagai institusi pendidikan Islam yang inklusif, adaptif, dan solutif.

Di era digital, tantangan madrasah tidak lagi sederhana mulai dari tata kelola, mutu pembelajaran, hingga relevansi lulusan. Namun, dengan Rakor KKMA yang solutif, dukungan penuh terhadap Asta Protas Menteri Agama, serta penguatan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi, madrasah di Sumatera Barat memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat untuk melangkah maju.

Akhirnya, Rakor KKMA Sumatera Barat bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ikhtiar kolektif membangun masa depan madrasah. Sebagaimana pesan Kakanwil, mari kita jalin komunikasi dengan pemerintah, perkuat koordinasi, dan bangun kolaborasi. Tiga kata ini jika benar-benar dibumikan akan menjadi energi perubahan yang mengantarkan madrasah menuju kualitas yang bermutu, mendunia, dan berdampak nyata bagi umat dan bangsa.

Suasana edukatif dan kebersamaan terlihat nyata saat pembukaan Rakor yang dimulai dengan paparan profil MAN 1 Pasaman oleh Ade Febrian selaku kepala madrasah yang sarat prestasi, sambutan kepala Dinas Pendidikan Pasaman, dan beberapa tampilan tarian dan lagu-lagu dari siswa MAN 1 Pasaman.