“Topeng Kedewasaan: Empat Wajah Manipulasi yang Merusak Persaudaraan”
Refleksi Pascal Tethool|Pendidik, Trainer
–
Salve.
Ada 4 Jenis Sikap Manipulatif (memperdaya orang lain) secara Psikologis, yang menjadi cara “membela diri” secara “tidak dewasa” supaya perbuatan licik/ dosa bisa ditutup rapat:
1.Dia yang berbuat curang/ berbohong kepada sesama, entah teman bahkan sahabat demi kepentingan pribadinya, namun dia akan menyalahkan orang lain dan menciptakan situasi agar dia terlihat sebagai “korban”. Ciri cirinya antara lain, seolah tabah, mengalah, mundur dari kelompok, supaya kelihatan baik dan dewasa ketika muncul masalah. Hal ini dikenal dengan nama “Play Victim”.
2.Dia yang terbiasa/ suka mengungkit semua kebaikannya, termasuk pengorbanannya yang seolah tulus dilakukannya agar dia bisa dipandang berada di posisi paling berjasa, paling baik dan pada akhirnya sesamanya yang merasa bersalah (sudah dibantu tapi malah mau lebih). Disinilah dia akan mendapatkan tujuannya dengan mengorbankan sesamanya. Hal ini disebut “Guilt Tripping”.
3.Dia yang suka menabur sikap manis, santun dan berkata manis kepada calon korbannya, bila perlu mmuji dan menjaga komunikasi agar dia bisa mendapatkan rasa dekat, simpati dan kepercayaan dan pada akhirnya dengan mudah memperdaya korbannya. Hal ini dikenal dgn nama “Love Bombing”.
4.Dia suka melibatkan orang lain dalam sebuah masalah, dan setelah itu, dia juga yang akan menghasut orang lain untuk menjauhi bahkan membenci korban. Ini dikenal dengan nama “Triangulation”.
Apakah kita juga termasuk dalam salah satu dari jenis sikap manipulatif ini?
Renungkanlah:
Bila ingin kita menjadi dewasa secara psikologis, maka langkah konstruktif adalah secara jujur mengakui kelemahan dan kecenderungan ini dan mau berbenah memperbaiki diri.
Kalau kita terus jatuh ke kelemahan yang sama, suka bersikap manipulatif maka hadirnya kita dalam kebersamaan, hanya akan membawa keterpecahan dan permusuhan.
Kata kata indah dari pertemanan adalah demi kebersamaan dan persaudaraan hanyalah slogan kosong untuk merapikan jahitan kecurangan agar terlihat rapi.
Padahal tersembunyi niat curang mengambil keuntungan dari kelebihan sesamanya dan bila tujuannya sudah tercapai, maka dia akan segera keluar dari pertemanan agar jejak manipulatifnya tidak tersentuh.
Apalagi bila pertemanan itu diikat dengan urusan bisnis, maka ketika sudah ada hasil kerja kolaboratif berupa uang misalnya, maka pasti muncul masalah dalam pembagiannya. Dia akan berusaha menciptakan alibi, seolah dia paling berjasa dan sesamanya sekedar ikut sebagai “pesuruh”.
Maka dia yang harus mendapatkan paling banyak.
Perbaiki dirimu lebih dahulu dengan cermin kejujuran yang tertanam dalam nurani sebelum kamu menilai sesamamu dengan kebenaran versi manipulatif.
Karena sepandai pandainya kamu merangkai cerita untuk menutupi kecuranganmu, selalu akan muncul jejak kasusmu dari para korbanmu sebelumnya dan akan ada satu lagu litani kelicikanmu dari aneka cerita yang menghiasi cerita orang di sekelilingimu.
Percayalah, kepercayaanmu akan turun ke level paling rendah bahkan kamu tidak akan mampu merangkak naik untuk memperbaiki citramu.
Selamat berenung!
DuGem NgoPi (Duduk Gembel Ngonten Pikiran)
Salve